Kamis, 29 Oktober 2015

Lucu dan unik. Kalau melihat sebagian kaum muslimin di tanah air yang sering berlebaran dan berpuasa yang diawali di hari yang tidak sama. Alasannya hanya seputar perbedaan metodologi. Kalau Muhammadiyah lebih cenderung menggunakan metode hisab (penghitungan tanggal) sedangkan NU menggunakan metode Ru'yah (melihat bulan).

Warga Muhammadiyah berpandangan bahwa metode hisab merupakan metode yang paling tepat dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Pada dasarnya, penghitungan tanggal atau kalender itu sudah final dan sudah bisa dibukukan, sehingga tidak perlu lagi ditetapkan kapan dimulainya bulan Ramadhan, Syawal dan bulan-bulan lainnya, karena semua sudah jelas.

Ormas yang berlambang matahari ini berpandangan bahwa metode ru'yah (melihat bulan) itu seringkali tidak akurat, karena sangat rentan keadaan langit tertutup awan. Sementara ilmu pengetahuan modern dengan sangat akurat memberikan solusi penghitungan awal bulan tanpa terpengaruh keadaan cuaca dan alam.

Berbeda dengan pandangan Muhammadiyah, Nahdatul Ulama berpendapat bahwa menggunakan metode ru'yah merupakan bagian dari ketaatan terhadap perintah Rasulullah, dimana beliau memerintahkan umat Islam untuk melakukan ru'yah (melihat bulan) untuk menetapkan awal puasa, dan bilamana langit tertutup mendung, maka beliau perintahkan untuk menggenapkan puasa atau bulan hingga 30 hari.

Muhammadiyah dengan argumentasinya sangat mantap dan meyakinkan, karena secara ilmiah memang dapat dipertanggungjawabkan, dimana memang semua tanggalan pada kalender itu sudah bisa dihitung dan dibukukan tanpa perlu dibahas lagi.

Begitu juga, metodologi ru'yah ala Nahdatul Ulama bukan tanpa dasar. Sebab penetapan awal bulan itu dilakukan tidak lain dalam rangka beribadah mengikuti perintah Allah dan Rasul-Nya, maka metodenya pun mengikuti tuntunan Rasulullah. Simpel, kalau bulan terlihat maka awalilah puasa, dan apabila tidak terlihat maka genapkanlah 30 hari.

Sedikit berbeda dengan kedua pandangan tersebut, saya memiliki satu pandangan bahwa sesungguhnya yang terpenting dari masalah penetapan awal bulan adalah masalah "kebersamaan". Apa maksudnya kebersamaan?

Yang penting bukan tanggal mana yang benar, tapi bagaimana "bersama".
Penjelasan Rasulullah tentang bagaimana menetapkan awal bulan bukanlah bagaimana mencari awal bulan atau tanggal 1 yang benar, tetapi bagaimana umat Islam "menemukan tanda" (parameter) untuk kapan secara bersama-sama memulai ibadah.

Sangat banyak ayat dan hadist yang mewajibkan umat Islam ini untuk senantiasa bersatu dan bersama-sama, tidak bertikai, tidak berselisih, dan bahkan tidak berkelompok-kelompok.

Wajib "satu tali" dan haram "berkelompok-kelompok"
Surat Ali Imron 103 disebutkan: "Wa'tashimuu bihablillaahi jamii'aw-walaa tafarroquu", yang maksudnya adalah "Berpeganglah teguh kalian pada satu tali (agama) Allah dan jangan berkelompok-kelompok." Tafarroquu itu dalam bahasa Arab berarti membuat firqoh-firqoh atau kelompok-kelompok, yang oleh para ahli tafsir Indonesia diterjemahkan dengan bercerai berai. Dan bukankah ditegaskan di situ kata "habl" dalam bentuk mufrod (tunggal) yang artinya satu tali. Artinya umat ini wajib berpegang pada satu tali atau satu langkah atau satu kebersamaan.

Dalam Surat As-Shaff ayat 4: "Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berjidah di jalan-Nya dalam satu shaf (barisan), seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh." 
Perhatikan sekali lagi kata "shaff" dalam ayat ini menggunakan bentuk mufrod (tunggal), yang menegaskan bahwa umat Islam harus dalam satu sikap, satu waktu. Apalagi penetapan awal waktu.

Menemukan makna mengapa diharamkan puasa di 1 Syawal?
Mengapa diharamkan bagi umat Islam berpuasa di 1 Syawal? Memang ini perkara ibadah mahdoh (tidak logis), tetapi tidak berarti kita tidak boleh menyelami makna dan hakekatnya, agar kita benar bersikap. Bayangkan kalau pada 1 Syawal umat Islam tidak diharamkan berpuasa? Tentu akan banyak umat ini yang berpuasa, dan kondisi ini tentu akan membuat mereka yang tidak berpuasa merasa tidak nyaman, kebahagiaan dan kegembiraan akan berakhirnya Ramadhan menjadi kabur dan suasana kebersamaan dan kegembiraan kaum muslimin akan pudar. Maka sangat tepatlah bila Rasulullah melarang umatnya berpuasa di 1 Syawal itu, agar semua BERSAMA-SAMA bergembira dan makan di hari itu, lalu baru beliau bolehkan umatnya untuk puasa sunnah di hari-hari setelahnya bulan Syawal itu.

Sebuah Ironi?
Bila benar diantara maksud dari pengharaman puasa di 1 Syawal adalah untuk itu, maka hal ini menjadi sangat ironis ketika awal Idul Fithri berbeda antara satu kelompok umat dengan kelompok lain. Ketika sekelompok umat telah berlebaran (Idul Fitri) yang notebene haram puasa dan wajib makan, di sisi lain ada sekelompok umat lain yang juga tetangga mereka yang masih berpuasa dan haram untuk makan.

Kalau tidak melihat bulan, genapkanlah
Tidakkah dapat kita selami bagaimana "tidak begitu pentingnya" kebenaran tanggal satu (awal bulan) dari hadist shahih berikut ini:
Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan berbuakalah kamu karena melihat hilal. Jika terhalang maka genapkanlah (istikmal) menjadi 30 hari."
Seandainya Rasulullah mementingkan tentang kebenaran penetapan awal bulan, atau bahwa awal Idul Fitri harus benar-benar pada tanggal 1 syawal "yang tepat", tentu beliau tetapkan satu patokan tertentu agar umat ini benar-benar beridul Fitri di tanggal yang benar. Namun, rupanya hal itu menjadi tidak prioritas. Karena dengan simpelnya beliau memberikan alternatif solusi, bila bulan tertutup mendung atau tidak kelihatan, cukup digenapkan 30 hari (istikmal), padahal dengan istikmal ini sangat mungkin umat Islam ber-Idul Fitri tidak tepat pada tanggal 1 Syawal. Karena ada sesuatu yang lebih penting yang harus dicapai dari penetapan kapan ber-Idul Fitri yaitu bagaimana umat ini bersama-sama beridul Fitri.

Misi "mengagungkan" syiar
Banyak ayat dan hadist yang menekankan mengagungkan syiar agama Allah, dan bagian terbesar dari cara mengagungkan syiar Allah adalah "bersama-sama" melakukan ibadah, seperti sholat berjamaah, ber-Idul Fitri bersama, berhaji bersama, wukuf bersama dan seterusnya. Dan maksud mengagungkan syiar ini tentu menjadi kontraproduktif kalau Idul Fitri dilakukan pada hari berbeda oleh kelompok-kelompok dalam agama ini, apalagi alasannya hanya tentang penetapan kebenaran tanggal.

Sepatutnya umat ini duduk bersama, agar bersama
Apapun metodologi dan apapun hasil yang dicapai dari metodologi, itu hanyalah soal teknis. Yang terpenting adalah bagaimana umat ini bersama-sama duduk untuk menetapkan hari yang sama memulai puasa Ramadhan, beridul Fitri atau Idul Qurban.

Kebersamaan inilah syiar yang besar yang disukai Allah dan menggentarkan umat lain yang. Sebaliknya, perbedaan dalam konteks ini --awal lebaran yang berbeda-- merupakan bentuk kelemahan umat yang menjadi cibiran umat lain.

Kalau umat ini akhirnya sepakat menggunakan metode hisab (yang telah terkalenderkan), maka umat yang selama ini menggunakan metodologi ru'yah untuk mengikhlaskannya, dan menjadikan ru'yah sebagai penguat. Sebaliknya, apabila telah disepakati untuk menggunakan metode ru'yah, maka mereka yang menggunakan metode hisab sebaiknya juga ikhlas, toh seandainya umat ini tidak berlebaran tepat di tanggal 1 Syawal (menurut kalender) itu tidak menjadi soal. Yang menjadi soal adalah bersama atau tidak.

Simpan saja pemikian bahwa umat ini telah dewasa dengan perbedaan.
Sekali lagi kebersamaan umat, apalagi dalam moment-moment besar sebesar ibadah puasa dan Idul Fitri merupakan syiar penting yang harus diupayakan kebersamaannya. Simpan saja pemikiran bahwa umat ini telah dewasa dengan perbedaan. Sebab perbedaan ini tidak membawa manfaat apapun, selain dicibir dan melemahkan syiar agama mulia.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © ISB Corner -Imam Saiful Bahri- Powered by Blogger - Modified by ISB Corner -