Rabu, 19 Februari 2014

Di kalangan pesantren salaf tradisional sangat dikenal pengajaran kitab "Ta'limul Muta'allim" yaitu semacam kitab kode etik yang musti dipatuhi para santri ketika nyantri di pesantren.
Sesiapa pun santri yang melanggar kode etik ini, bisa dijamin ilmunya tidak barokah. Dan hal ini benar-benar dijadikan pegangan oleh para santri pesantren salaf.

Berbeda dengan pesantren salaf, Pondok Gontor tidak mengajarkan kitab ini kepada santrinya. Tetapi bukan berarti Gontor tidak mementingkan tingginya nilai "adab" kepada santrinya.

"Pentingnya adab" ini begitu melegenda di sejarah kependidikan Gontor. Banyak cerita-cerita yang terpercaya yang membuktikan betapa adab itu dijunjung tinggi di pesantren modern ini.

Dijunjungnya nilai adab di Gontor, dapat tergambar antara lain sebagai berikut:


Tidak Boleh "Suluk Muqollab"

Sudah menjadi rumus di Gontor bahwa salah satu syarat utama kenaikan kelas santri adalah suluk yang baik. Santri yang "suluknya muqollab" jangan harap bakal naik kelas sekalipun nilainya sempurna.

Apa itu suluk muqollab?
Dalam raport semesteran Gontor, selain tercantum nilai-nilai mata pelajaran akademik, juga ada nilai kepribadian (as-suluuk) -kalau tidak salah- yaitu nilai penampilan/kebersihan, kerajinan, dan sikap perilaku.

Standarnya ketiga nilai ini haruslah 8 (dalam bahasa Arab ditulis dengan ٨, seperti huruf V tengkurap).

Apabila salah satu dari ketiga nilai ini hanya 7 (dalam bahasa Arab ditulis ٧, seperti huruf V tengadah) maka jangan harap santri yang bersangkutan bisa naik kelas.

Kata "muqollab" atau "terbalik" merupakan gambaran dari terbaliknya angka ٨ menjadi ٧.
Sehingga, kurangnya nilai suluk (kepribadian) ini, dalam kalangan santri Gontor dikenal dengan istilah suluuk muqollab.


Isyarat "Adab"
Diceritakan oleh KH. Imam Badri (saat yudisium penulis di kelas V), bahwa dulu pada saat yudisium serupa ini ketika Kyai sedang menyampaikan nasehatnya, tiba-tiba ada santri yang mengeluarkan bunyi "ckk" dari bibirnya. Sontak, Kyai pun tersinggung dan santri itupun dikeluarkan dari pondok.

Menurut beliau, memang hanya bunyi "ckk" yang keluar dari bibir santri itu, tetapi bunyi semacam itu telah menunjukkan sikap tidak hormat dan sikap meremehkan kepada Kyai dan nasehat beliau. Sikap semacam ini tentu tidak layak dilakukan oleh santri senior.

Ada kisah-kisah lain yang menunjukkan bagaimana Gontor menegakkan nilai adab bagi para santrinya. Dan tidak sedikit santri yang terpaksa dipulangkan karena menunjukkan sikap kurang beradab kepada santri seniornya atau ustadz.

Selain itu, adab 'lahiriyah' para santri Gontor ini bisa kita lihat langsung kalau kita berkunjung di sana. Mereka akan dengan ramah saat menghadap Ustadz atau menerima tamu.

Gambar diambil dari demotix.com

{ 1 komentar... read them below or add one }

  1. pendidikan akhlaq "bil-jawarih laa bit-talqiin"

    BalasHapus

- Copyright © ISB Corner -Imam Saiful Bahri- Powered by Blogger - Modified by ISB Corner -