Rabu, 19 Februari 2014

SDMT merupakan sekolah dasar fullday, di mana kegiatan pendidikannya berlangsung dari jam 7 pagi hingga sekitar jam 4.30 sore.

Murid-muridnya relatif berasal dari jauh yaitu dari penjuru Kabupaten Ponorogo, artinya siswa tidak mungkin pulang-pergi ke sekolah berjalan kaki atau bersepeda sendiri. Kebanyakan mereka diantar-jemput oleh orang tua atau mobil penjemputan sekolah.

Jauhnya rumah siswa dari sekolah ini menjadi masalah tersendiri. Dan inilah yang kadang kurang dimengerti oleh sementara pihak. Berikut ini kejadian-kejadian kecilnya:


Ta'ziah di keluarga guru
Pernah suatu ketika ada keluarga guru SDMT yang meninggal dunia. Dan tentunya menjadi kewajiban guru-guru untuk bertakziah (menguatkan keluarga yang ditinggal).

Namun, ternyata SDMT tidak bisa mengikutkan semua guru untuk takziah. Sehingga ada orang yang mempertanyakan,"Siswanya kok tidak dipulangkan saja, biar gurunya semua bisa takziyah?"

Dijawab oleh seorang ustadz/guru SDMT, "Murid sini itu jumlahnya 400 lebih, dan tinggalnya jauh semua, perlu antar-jemput. Kalau spontan kita pulangkan, sebagian besar akan tetap tinggal juga di sekolah. Sebab tidak mungkin kita telpon satu-satu orang tuanya untuk mendadak menjemput. Terus, siapa yang akan mengurusi mereka di sekolah?"

Akhirnya orang yang mempertanyakan tersebut dapat maklum juga, sepertinya.

Kumpul guru di UPTD
Sering, kalau boleh saya katakan. Guru-guru SDMT itu mendapatkan panggilan untuk kumpul di UPTD Kecamatan. Seperti keperluan pemberkasan sertifikasi, sosialisasi panitia ujian dan lainnya. Pokok permasalahannya adalah jumlah guru yang dipanggil untuk kumpul itu lumayan banyak hingga 6 sampai 7 orang guru. Padahal, dengan mengirimkan guru sebanyak itu, bisa membuat sekolah '1/4 lumpuh' di mana akan banyak kelas kosong.

Ketika kita nego untuk mendatangkan 2 guru saja sebagai perwakilan, maka kata pejabat UPTD,
"Tidak bisa, semua harus hadir. Kan bisa kondisikan sekolahnya. Tidak setiap hari juga."

Semua praktisi pendidikan pasti sepakat bahwa "kelas kosong" di mana jam belajar berjalan tanpa ada bimbingan guru merupakan "suatu aib" dalam dunia pendidikan/sekolah. Dan bila ini dijadikan kebiasaan, atau dianggap enteng, maka mutu sekolah tersebut bisa ditebak seperti apa jadinya.

Inilah sedikit gambaran, bagaimana yang terjadi antara sekolah yang lahir dengan "pola kreatif dan berbeda" bergesekan dengan pola pandang dan tradisi konvensial.

{ 1 komentar... read them below or add one }

- Copyright © ISB Corner -Imam Saiful Bahri- Powered by Blogger - Modified by ISB Corner -