Rabu, 19 Februari 2014

Sekitar 6-7an tahun lalu (2007-an), saya mengantar keponakan saya daftar di Gontor, waktu itu Gontor II. Sejak kelas I SD, keponakan saya ini selalu menyanyi dan mengigau tentang Gontor. Siapapun orang yang ditemuinya selalu dia ceritai tentang obsesinya untuk menjadi santri Gontor.

Saat yang diharapkan tiba, daftar dan tinggal di Gontor II di desa Madusari itu.
Tapi rupanya, apa yang  dia rasakan tidak seperti apa yang dia bayangkan selama ini.
Dia mengalami depresi berat, minta ditengok setiap hari, sering minta izin pulang, dan pada klimaksnya minta keluar dari Gontor II, karena merasa sudah tidak kuat lagi.

Dengan penuh rasa sabar, saya mintakan izin kepada ustadz Staff Pengasuhan setempat, dan dizinkan untuk pulang dulu seminggu.

Dalam perjalanan pulang itu, saya motivasi dia "habis-habisan". Berharap dia sadar, kalau tidak sadar apa boleh buat, saya sudah all out.

Di antara hal yang saya sampaikan seperti penting dan mahalnya hidup mandiri, hingga tidak ada masa depan baginya selain Gontor, (maaf) sekolah ke selain Gontor berarti masa depan suram.

Bahkan sempat saya ceritakan, bahwa segala kemungkinan 'kemanjaan' yang diberikan orang tua-kakeknya di rumah bisa lenyap sewaktu-waktu, sebab mereka bisa meninggalkan kita kapanpun. Maka satu-satunya jalan adalah Gontor.

Maaf agak lebay.... heehehhe...

Ternyata, belum juga sampai rumah, dia tiba-tiba bangkit dan menyatakan diri siap jadi santri Gontor. Spontan dia minta balik ke pondok. Saya bilang, "Tidak! Saya sudah mintakan kamu izin ke ustadzmu. Sekarang kamu pulang dulu. Istirahat seminggu di rumah, nanti balik lagi ke pondok."

Belum juga genap 2 hari, dia sudah nekad kembali ke Gontor II, dan tidak minta lagi dijenguk, dia pun krasan. Bahkan sempat melarang dijenguk, "mengganggu" katanya.

Teringat pesan Kyai Gontor ketika memotivasi para orang tua santri baru Gontor. Bahwa agar santri dapat krasan dan dididik dengan baik, maka kuncinya ada tiga, "Pertama, tega. Kedua, tega. Dan ketiga, tega."

gambar diambil dari flicker.com


{ 2 komentar... read them below or Comment }

- Copyright © ISB Corner -Imam Saiful Bahri- Powered by Blogger - Modified by ISB Corner -