Selasa, 18 Februari 2014

Seperti umumnya pesantren, Pondok Gontor memiliki kurikulum tersendiri. Kurikulumnya relatif tetap sekalipun kurikulum nasional berubah berkali-kali.

Namun satu hal yang unik dari Pondok Pesantren, dalam hal ini Pondok Gontor. Yaitu, sekalipun kurikulum yang digunakan relatif tetap, alumni yang diluluskan memiliki kualifikasi dan mutu yang "bisa diadu".

KMI Gontor sebagai lembaga pendidikan setingkat Aliyah/SMA, alumni-alumninya terbukti mampu mengikuti pembelajaran berbagai perguruan tinggi Islam dalam dan luar negeri. Bahkan, rata-rata mereka lebih unggul dibandingkan lulusan Aliyah. Letak keunggulannya yang menonjol adalah kemampuan bahasa Arabnya, di samping dasar-dasar/wawasan keagamaan yang lebih mapan.

Menanggapi sejumlah masukan tentang perlunya Gontor untuk ikut merespon aktif perubahan kurikulum dan perkembangan zaman, Ust. Hasan (selaku Pimpinan Pondok Gontor) menyampaikan pernyataan bahwa

"Gontor bukanlah lembaga pendidikan layanan masyarakat, yang berkembang mengikuti maunya masyarakat. Tapi Gontor merupakan tempat mencetak kader-kader ulama yang akan diterjunkan membawa misi li-i'laa-i kalimatillah (mendakwahkan agama Islam) di tengah-tengah masyarakat"

Sebuah keniscayaan memang. Bahkan tidak akan ada satu lembaga pendidikan yang eksis bila tidak sesuai kebutuhan masyarakat. Namun sikap Gontor yang seolah tidak mengikuti maunya masyarakat dalam saat yang sama sesungguhnya hadir 'memenuhi kebutuhan masyarakat', atau mungkin kebutuhan sebagaian masyarakat Islam. Yaitu kebutuhan akan adanya lembaga pendidikan Islam yang konsisten mendidikkan Islam secara independence dan penuh tanggung jawab kepada umat dan agama.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © ISB Corner -Imam Saiful Bahri- Powered by Blogger - Modified by ISB Corner -