Rabu, 19 Februari 2014

Kalau boleh jujur, selain memiliki beberapa keunggulan, santri-santri dan alumni Gontor juga memiliki 'ciri' atau kekurangan. Kekurangan ini, penulis himpun dari suara sementara masyarakat.

Bagi santri dan alumni Gontor, barangkali ini bisa menjadi bahan instrospeksi diri.

1. tentang lawan jenis
Rata-rata santri Gontor dalam hal 'lawan jenis kurang bisa mengendalikan diri.
Artinya, dalam pergaulan mereka ketika dibaurkan dengan lawan jenisnya itu, nampak sekali 'mbruwah'nya atau "shock culture"nya.

Mereka merasa begitu shock merasakan kebebasan di luar, di mana sebelumnya mereka selalu dikekang dan dibatasi bergaul dengan lawan jenis.

2. tentang ubudiyah
Pandangan dan pola pendidikan Gontor membentuk jiwa santri bahwa 'ibadah itu luas' dan tidak terbatas pada amaliyah ibadah mahdoh (ritual). Segala perbuatan yang bermanfaat itu ibadah.

Pola pandang seperti ini sedikit banyak telah membuat santri Gontor kurang akrab dengan mihrob (tempat sujud), mereka lebih suka terjun dalam 'lapangan' amal dan akan nampak jarang khusuk atau berlama-lama di tempat ibadah.

3. tentang keilmuan
Semua santri Gontor tahu, bahwa Gontor hanya memberi kunci. Dalam hal ini dasar-dasar yang cukup dalam mengusai bahasa Arab-Inggris dan ilmu-ilmu Islam kunci mempelajari ilmu-ilmu turunannya.

Pola pendidikan semacam ini tentu punya dampak. Antara lain, yaitu tingkat wawasan keagamaan rata-rata santri yang kurang mendalam. "Santri Gontor itu tahu banyak, tapi tidak banyak tahu," demikian istilah Ust. Hasan. Artinya santri Gontor itu tahu berbagai macam hal, namun di tiap hal itu masih dangkal dan tahu sedikit saja.

Penilaian ini bersifat umum, tentunya ada individu-individu tertentu yang tidak sepenuhnya memiliki ciri ini, tergantung latar belakang dan dasar kepribadian yang bersangkutan

{ 8 komentar... read them below or Comment }

  1. sebuah muhasabah...

    BalasHapus
  2. mas Imam, anda kalau tidak tahu Gontor gak usah ngomongin Gontor. santri Gontor beserta alumninya jumlahnya ribuan dan tersebar di seluruh penjuru dunia. statemen anda itu berdasarkan apa ? penelitian ? atau hanya angan-angan, ilusi ? kalau penelitian berapa samplenya ? representatif kah ? maaf mas ini bisa mengundang sara ... gak usah bersih-bersih di rumah orang ya .....

    BalasHapus
  3. 16 tahun lalu saya lulus dari sana. Poin 1 itu biasa saya denger dari masyarakat sekitar saya di Ponorogo ini. Itu makanya saya katakan "suara sementara masyarakat". Ke sinilah (Ponorogo) dan tanya tentang poin 1, silakan dicek sendiri, semoga saya salah. Point ke 2 juga demikian. Kalau dibanding pondok2 thariqat, tingkat intensitas ibadah ritual santri gontor masih kalah. Tapi santri Gontor memiliki keunggulan tersendiri dengan banyak berkecimpung di aneka bidang kemasyarakatan. Point 3, itu disampaikan oleh pimpinan Gontor (ust Hasan). Kalau Anda alumni Gontor, saya sarankan untuk tidak terlalu fanatik. Kita tidak mengkritik Gontor, dan Gontor tidak memerlukan kritikan kita, tapi Gontor punya caranya sendiri untuk berkembang lebih baik. Syukron.

    BalasHapus
  4. dimana ada kelebihan pasti ada kekurangan
    mari berbenah

    artikel yg menggugah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Syukron. Berbenah adalah keniscayaan.

      Hapus
  5. Mencintai tapi tidak fanatik....setuju
    Mencintai rapi tidak buta kritik..saya setuju lg dgn anda. Ttp berkarya dan terus maju, saudaraku

    BalasHapus
  6. kalau gontor sekarang sperti apa... saya mau mau daftarkan putri saya kesana...
    mhon referensi yang lain terimakasih.

    BalasHapus

- Copyright © ISB Corner -Imam Saiful Bahri- Powered by Blogger - Modified by ISB Corner -