Minggu, 15 Desember 2013


Pada awal mimpi itu, saya merasa hadir di sebuah tanah lapang dengan suasana langit mendung dan gelap. Banyak sekali orang duduk berjongkok sambil mengangkat tangan di kepala. Mereka gosong semua, kain putih mereka compang-camping. Ada beberapa penjaga yang mengatur barisan mengurusi acara 'apel' itu.

Dalam benak saya, spontan mengatakan "ini mungkin orang-orang yang barusan meninggal dunia"

Selanjutnya saya lalui beberapa tempat, hingga tiba di kamp-kamp. Berada di tengah padang rumput luas. Suasana terang tetapi tidak ada matahari yang bersinar. Suasana hening, jalan-jalan yang ada terasa sunyi tidak ada orang melintas. Semuanya sepertinya lebih memilih berdiam di tempatnya masing-masing.

Pintu gerbang dari jeruji besi terbuka ketika saya memasuki sebuah ruang. Di situ sahabat saya terduduk lesehan, bersila di atas sebuah tikar. Dia masih memakai baju yang terakhir dia pakai di rumah sakit, sebelum berpulang. Saya pun menyampaikan beberapa pertanyaan.

"Bagaimana keadaanmu?"
Dia tidak menjawab, hanya mengangguk kecil sekali.

"Bagaimana dengan sakit di tubuhmu?"
Dia tidak menjawab lagi, dia hanya mengangguk kecil dan mengarahkan pandangan ke tubuhnya. Serasa dia menjawab "Ya beginilah tubuhku."

"Bagaimana keadaan di sini?"
Dia tidak menjawab juga, hanya menatap kosong.

"Ada yang ingin kamu sampaikan?"
Dia tidak menjawab sama sekali, hanya menatap saya. 
Lagi, serasa dia berkata "Amal yang paling berarti itu ketika di dunia". 

Secara tersirat saya menyimpulkan bahwa di alam kubur yang sangat panjang itu, manusia akan tetap beraktivitas dengan aktivitasnya masing-masing, bisa berdzikir, bersolawat, berdoa, bekerja dan melakukan banyak hal, tetapi semua aktivitas dan amal mereka itu tidak bernilai sama sekali. Sudah terlambat.

Waktu penantian sepanjang itu tidak ada nilainya dan tidak dianggap. Berbeda dengan di dunia, setiap amal di alam yang singkat ini amat sangat bernilai. Justru di alam kita inilah, segala amal itu amat bernilai. Masihkah kita sia-siakan?

"Amal yang paling berarti itu ketika di dunia".
Ketika sedang bertatap muka dengan sahabat ini, tiba-tiba suara keras terdengar 

"Hai orang dunia, keluarlah kau. Pintu akan ditutup." 
Saya pun segera melangkah keluar.

Tiba di sebuah tanah lapang, banyak orang berkerumun. Hati saya semakin berdetak kencang. Seolah mimpi ini semacam pengalaman luar biasa, ada di antara kerumunan itu dua orang tetangga saya yang sudah lama meninggal dunia. Pandangan mereka menatap saya kosong. 

Beberapa saat kemudian, suasana berubah. Sepertinya perjalanan ke tempat itu selesai. Mimpi selesai berganti dengan kekosongan. Hingga akhirnya saya terbangun, dan sebuah rasa penasaran itu terobati sudah.

Alam kuburkah itu? Begitukah alam kubur? Apakah itu hanya simbol? Atau hanya gambaran imajinasi saya? Ekspresi dari fikiran saya? Walloohu a'lam bis-showab. Hanya Allah yang tahu kebenarannya.

Sembari mengambil pelajaran dari "perjalanan singkat" itu, saya hanya bisa mendoakan sahabat itu. 

Semoga Allah mengampuni dosanya, dan menjadikan segala amal dan kesabarannya selama hidup sebagai sesuatu yang pantas untuk ditukar dengan rahmat (kemurahan dan belas kasihan)-Nya.
Satu lagi... "Tidak ada lagi kata menunggu untuk berkata benar, syukur bisa berbuat benar"

Ya Allah, ampuni kami dan saudara kami yang beriman yang telah mendahului kami. Jadikanlah kami yang ditinggalkan hidup rukun, damai dan saling mengasihi. Karana hanya Engkaulah yang memberikan rahmat dan belas kasih. 
Robbanaagh-fir lanaa wa li-ikhwaaninal-ladziina sabaquuna bil-iimaan, wa laa taj'al fi quluubina gillaal lilladziina amanuu. Robbanaa innaka ro'ufur rohim.





Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © ISB Corner -Imam Saiful Bahri- Powered by Blogger - Modified by ISB Corner -