Kamis, 12 Desember 2013


Karena mungkin merasa punya segudang pengetahuan, jadi ahli theologi/ilmu kalam, ahli filsafat, ahli fiqih, ahli tafsir, dan seterusnya, para intelektual muslim cenderung "ngglonjom" dalam mengkaji bab-bab agama nampak semaunya, obrolannya renyah, dipenuhi gelak tawa, seperti sedang menjadikan tema-tema agama ini mainan yg bisa dilempar sana sini, dikupas-dikuliti, dan diambil-dicampakkan mana yg mereka suka.

Mereka lupa bahwa mempelajari agama akan sia-sia kalau mengabaikan faktor "adab". 

Barangkali mereka bisa mengambil substansi nilai dari yg dibicarakan, tapi tidak akan memperoleh ruh dan bimbinganNya dalam mengamalkannya.

Qs. Hujurot 2

Disebutkan dalam surat ini, bahwa sebanyak apapun amal, jasa dan perbuatan baik kita, akan menjadi sia-sia dan tidak berguna apabila kita tidak punya adab, baik adab terhadap Rasulullah, para wali, alim ulama, orang-orang shaleh yang menjadi lantaran sumber pengetahuan agama bagi kita. 

{ 2 komentar... read them below or Comment }

  1. Orang kadang merasa dengan ilmunya yang tinggi, tidak lagi perlu adab. Na'udzubillah..

    BalasHapus
  2. Betul. Kita memang perlu belajar lagi menjaga "adab", agar amal kita tidak sia-sia.

    BalasHapus

- Copyright © ISB Corner -Imam Saiful Bahri- Powered by Blogger - Modified by ISB Corner -