Sabtu, 05 Januari 2013

Pilkada atau Pemilukada yang akhir-akhir ini kisruh di beberapa daerah, semakin menambah daftar panjang konflik di kalangan wong cilik sebagai buah dari 'meladeni' euforia akan demokrasi.

Berbagai upaya pencarian solusi -konon- sedang tengah digodok orang-orang yang 'kompeten' membuat hukum, seperti kalangan legislatif, jajaran pemerintah terkait, akademisi hingga praktisi dan pengamat hukum. Salah satu usulan seperti pelaksanaan Pilkada cukup untuk pemilihan Walikota saja sedang pemilihan Bupati cukup dipilih DPRD.

Mengingat tingkat pengenalan masyarakat (terutama masyarakat di luar Jawa) pada calon Bupati sangat rendah, sedang untuk wilayah kota masyarakat cenderung tahu siapa calon walikota yang akan dipilih.

Apapun solusinya, saya yakin kebocoran potensi konflik akan tetap terjadi di sisi-sisi lain. Kran demokrasi memang telah membuat bangsa kita yang dulu menjunjung tinggi adat musyawarah mufakat (duduk bersama dalam suasana toleransi, mengutamakan orang lain, 'thithik edeng' saling berbagi penuh pengertian) kini menjadi rajin sekali voting (pemungutan suara) dengan digelarnya Pemilu berkali-kali.

Kebenaran (dalam menentukan suatu pilihan) tidak lagi diambil dengan mendahulukan argumentasi, akal sehat dan pertimbangan orang-orang bijak.... akan tetapi beralih... diambil oleh suara terbanyak sekumpulan orang-orang awam yang sering tidak mengerti akan kebutuhannya sendiri.

Kumpulan (maaf) maling tentu akan memilih maling sebagai kepala kampungnya, kumpulan pemabok tentu akan memilih pemabok atau setidaknya orang yang tidak menghalang-halangi mereka mabok sebagai kepala desanya. Begitu dst...

Mengapa tidak DPR/DPRD saja yang memilih?
Ya inilah, Pemilu Presiden dan Pemilukada adalah ujung dari ketidakpercayaan masyarakat terhadap sekumpulan wakil yang mereka pilih sendiri untuk duduk di DPR/DPRD.

Kenapa tidak percaya kepada wakil mereka sendiri? Tentu mereka tidak percaya dan tidak akan pernah percaya kepada wakil-wakil yang sebenarnya tidak mereka kenal, atau mereka kenal sebagai orang-orang yang jelas tidak kredibel.

Inilah buah dari demokrasi.
Rela menanam 'pohon' demokrasi, berarti harus rela terhadap apapun 'buah' yang dihasilkan demokrasi.
Bagaimana solusinya? Mari kita renungkan baik-baik....

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © ISB Corner -Imam Saiful Bahri- Powered by Blogger - Modified by ISB Corner -