Sabtu, 07 Januari 2012


"Sebuah Mimpi Buruk"
Pas dengar instrumen atau soundtrack film The Mist ini, saya jadi teringat kisah akhir dari film itu. Film horor yeng mengisahkan pembantaian sebuah penduduk kota kecil oleh monster-monster mengerikan di tengah kabut pekat menyelimuti seluruh kota. Pembantaian terjadi di mana-mana, penduduk yang tidak bersembunyi di tempat yang aman pasti menjadi korban. Ngeri, panik dan ketakutan menjadi satu. Tinggal tersisa beberapa gelintir orang, yang sudah dihinggapi rasa putus asa. Di saat-saat pupusnya harapan hidup itu, sebuah keluarga mencoba peruntungan terakhir untuk kabur dengan mobil mereka menembus pekatnya kabut yang menyelimuti kota. Ternyata takdir menghendaki lain, kendaraan mereka harus terhenti di pusat kota di mana para monster itu terkonsentrasi. Rasa ngeri semakin tidak terkontrol, apalagi saat mereka melihat monster raksasa melintas di hadapan mereka.

"Sebuah Keputusan" 
Karena rasa takut dan sayang yang bercampur aduk itupun, mereka memutuskan untuk bunuh diri bersama dengan pistol yang ada, agar terhindar dari kematian yang mengerikan dibantai monster-monster buas itu. Rupanya peluru yang tersedia hanya empat, padahal anggota keluarga itu ada lima. Sang kepala keluarga pun merelakan dirinya untuk menjadi korban terakhir keganasan para monster itu. Akhirnya ia  menelan buah simalakama dengan terlebih dahulu menembaki istri dan anak-anaknya. Hancur sudah... harapan hidup bagi keluarganya. Kini tinggal dia menunggu takdir kematian menjemputnya melalui para monster keji itu.

"Pertolongan itupun Datang..."
Ironi... di saat dirinya putus asa dan pasrah menghadapi maut itu... pelan namun pasti...kabut tersingkap, ribuan tentara lengkap dengan tank dan helikopter datang memberikan pertolongan. Sang kepala keluarga itu pun shock berat....  terduduk berlutut... serasa tidak percaya.... bagaimana bisa pertolongan itu datang... mengapa pertolongan itu datang sejenak setelah dia tembaki keluarganya.
Dia berteriak-teriak.... gila.....dan penyesalan atas segala penyesalan...
Mengapa ia buru-buru "menyelamatkan" keluarganya dengan tembakan-tembakan maut itu, padahal penyelamatan sebenarnya datang sebentar kemudian...
Mengapa... pertolongan itu tidak beberapa menit datang lebih cepat...
Mengapa... keputusan itu dieksekusi tidak beberapa menit lebih lambat...
Mengapa... mengapa...
Akhirnya yang tersisa adalah ... tangis, marah, sesal... dan gila.....












Itulah mengapa....
kita perlu belajar untuk lebih bersabar lagi..
perlu menunda keputus-asaan itu lebih lama lagi....
sebab bisa jadi... pertolongan itu sungguh teramat dekat....

Download Sountrack The Mist. Mp3



Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © ISB Corner -Imam Saiful Bahri- Powered by Blogger - Modified by ISB Corner -