Kamis, 17 November 2011

Pernahkah kita merasa ibadah harian kita terpuruk? 

Ibadah harian (ubudiyah) kita kepada Allah, seperti sholat, dzikir, wirid, ibadah-ibadah sunnah lainnya. 

Barangkali di antara kita ada yang merasa kesulitan memperbaiki sholatnya. Sudah bertaubat dan berupaya menepati sholat 5 waktu dan menyempurnakannya dengan ibadah-ibadah sunnah, tetapi beberapa waktu kemudian mengendor dan berantakan lagi. 

Mencoba lagi lalu terpuruk lagi, mencoba lagi lagi berantakan lagi. Begitu seterusnya, rasanya seperti terjerat dalam lingkaran syetan. Seperti menabrak dinding baja yang kokoh.

Bagaimana memperbaiki keadaan ini?
Tentu Anda ingin menjadi orang yang ibadahnya selalu khusuk, menyukai dan rajin ibadah, berdzikir, wirid, mengaji Al-Quran, dan serentetan ibadah lain dengan istiqomah dan baik. Akan tetapi hal ini sangat sulit Anda jalankan. 

Bahkan keluhan ini tidak hanya terjadi di kalangan orang yang awam agama, bagi mereka lulusan pesantren pun merasakan hal ini.
Mungkin gambaran ini bisa jadi masukan untuk Anda, sehingga ibadah Anda menjadi baik. 

Pengalaman di Pesantren
Saya pernah tinggal di pesantren, sholat 5 waktu selalu dikerjakan berjama'ah. Apalagi sebagai pengasuh, tentu rasa tanggung jawab mendorong untuk lebih tertib dan intensif mengikuti kegiatan ibadah ini. Suasana dan lingkungan pesantren sangat mendukung. Bahkan yang rutin dilakukan tidak hanya sholat fardu, akan tetapi sholat-sholat sunnah, puasa-puasa sunnah, wirid-dzikir, mengaji dan lainnya bisa dilaksanakan begitu mudah dan menjadi kebiasaan.

Dari sini, barangkali bisa ditarik kesimpulan bahwa faktor "lingkungan" dan "suasana" sangatlah mendukung tingkat ubudiyah seseorang. Bila lingkungan dalam suatu komunitas mendukung, maka individu-individu dalam komunitas itu secara otomatis akan terkondisi dan terbentuk.


Lantas bagaimana dengan mereka yang tinggal di rumah-rumah?
Setelah pulang dari pesantren, saya tinggal di rumah yang jauh dari lingkungan pesantren. Saya tinggal di sebuah desa yang masyarakatnya awam akan agama. Ada mushola tapi tidak begitu makmur. 

Dan yang terjadi memang, semua kebiasaan di pesantren seperti mengaji dan ibadah sunnah rutin harian jadi menurun drastis. Kesimpulan saya akhirnya mengarah kepada penciptaan "lingkungan" dan "suasana", dari lingkup keluarga, lingkungan RT/RW hingga seluas-luasnya. Jadi intinya, untuk menjaga "ubudiyah" pribadai kita adalah dengan mengajak orang-orang di sekitar kita membangun suasana.

Bagi para orang tua, tentu bisa mengajak anak-anak untuk membiasakan sholat berjamaah, rutin mengaji dan menciptakan suasana keluarga dan rumah yang mendukung hal tersebut.

Falsafah "adzan" mungkin bisa kita pakai dalam hal ini. Di mana seorang muadzin tidaklah sholat dulu lalu memanggil dan mengajak orang lain sholat, tetapi dia memanggil orang dulu lalu sholat bersama-sama. Maka hal ini tentu klik dengan konsep dasar "sholat fardhu" yang identik dengan "sholat jamaah". Dalam Al-Quran sendiri perintah sholat fardhu selalu menggunakan "wawul-jama'ah" yang berarti sholat diperintahkan agar dilakukan secara berjamaah.

Sekali lagi intinya adalah untuk menjaga dan meningkatkan ubudiyah diri sendiri, kita haruslah mengajak orang di sekitar kita  meningkatkan ubudiyahnya sehingga terbentuk suasana. Dengan suasana inilah ubudiyah kita terjaga.

Ilustrasi "Domba dan Srigala"
Jamaah kaum muslimin yang selalu diancam oleh godaan syetan itu oleh Rasulullah SAW diibaratkan sekumpulan domba yang selalu diancam oleh sekumpulan srigala. Maka domba yang terlepas dari kumpulannya yang akan diserang dan dijadikan sasaran si srigala.

Mari kita instropeksi, apakah kita ini termasuk orang-orang yang keluar dari jamaah? Ataukah kita ini punya kumpulan tapi belum membentuk jamaah dan suasana ibadah?

{ 1 komentar... read them below or add one }

- Copyright © ISB Corner -Imam Saiful Bahri- Powered by Blogger - Modified by ISB Corner -