Jumat, 30 September 2011

Kita semua tentu tahu dan ingat kisah-kisah bagaimana Rasulullah SAW begitu sabar dan penuh kasih sayang mengajak kaumnya yang sekalipun jelas-jelas kafir dan musyrik, agar mau menerima agama baru yang dibawa beliau, yaitu Islam. Hal ini beliau teruskan, tidak hanya ketika dalam posisi lemah pada periode Makkah tetapi juga ketika beliau kuat menjadi penguasa Madinah dan Semenanjung Arab.

Beliau tetap berhati-hati dalam berdakwah, menggunakan berbagai cara "mengambil hati dan simpati" manusia agar memilih Islam sebagai jalan hidup dan agama. Ingatlah kisah bagaimana beliau pada saat masih lemah, dengan penuh kesabaran menghadapi tindak brutal dan kekerasan kaum Thaif. Lalu kita ingat juga, ketika beliau sudah kuat dan memiliki ribuan bala tentara tetapi tetap bersabar meladeni dialog yang kemuadian menerima penolakan kaum Nashrani Najron. Itu semata-mata karena besarnya keinginan beliau, bagaimana manusia terbuka hatinya, mencintai lalu memeluk Islam.
Segala upaya dakwah beliau itu adalah selalu bagaimana membuat sebanyak mungkin orang tertarik dan memilih jalan kebenaran ini, jalan Islam.

Mari bercermin saudaraku...
Yang hari ini aktif di organisasi-organisasi dakwah, di persyarikatan-persyarikatan, di lembaga-lembaga, firqah-firqah dakwah, dan lainnya.


Apakah upaya dakwah kita juga mengikuti Rasulullah yang semacam itu?

Benarkah kita tidak "memaki-maki" pendapat berbeda saudara kita yang jelas sesama muslim sehingga hanya membuat mereka sakit hati?!

Benarkah kita tidak menutup diri dan membuat kelompok sendiri, padahal banyak orang-orang di luar sana yang membutuhkan rangkulan terbuka dan bimbingan kita ke jalan yang Allah ridhoi ?!

Seandainya benar saudara-saudara kita itu kita anggap sesat, bid'ah, rawan syirik, suka tahayyul, jauh atau menyimpang dari sunnah, mengapa kita tidak menggunakan cara-cara yang bisa "mengambil hati" mereka sehingga mereka sadar dan kembali ke jalan benar!?

Mengapa begitu mudahnya kita kehilangan kesabaran, sehingga memilih untuk mengkritisi, menyalahkan hingga memaki-maki dan hanya berbuah pada sakit hati, dendam dan permusuhan.


Sampai kapankah kita lebih mementingkan firqah kita sendiri, gerakan kita sendiri, persyarikatan kita sendiri... dan mengabaikan yang jauh lebih besar itu yaitu Islam yang satu. Ingatlah bagaimana Al-Quran memperingatkan kita bahwa Islam itu SATU dan tidak terkotak-kotak.

Bercermin pada 'dua" Idul Fitri
Kita boleh Sholat Id di masjid-masjid kita atau di lapangan-lapangan terbuka dengan jama'ah kita masing-masing, tapi ingat... waktunya haruslah sama. Karena kebersamaan itu adalah hak-nya Islam, persatuan itu adalah amanat Islam, terciptanya syiar besar itu adalah inti dari takbir Idul Fitri.

"Berpegangteguhlah kamu kepada tali (agama) Allah. Dan jangan berfirqah-firqah (bercerai-berai dalam hal yang seharusnya satu)."

Tali atau "habl" dalam ayat di atas disebutkan dalam bentuk mufrod (tunggal atau satu). Artinya agama Allah itu hanya satu. Dahulukanlah kepentingan yang terbesar yaitu agama kita, bukan firqah kita. Renungkanlah...

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © ISB Corner -Imam Saiful Bahri- Powered by Blogger - Modified by ISB Corner -