Kamis, 18 Agustus 2011

Beberapa selebritis muslimah itu ketika ditanya kapan akan mengenakan jilbab, maka rata-rata jawabannya adalah "Saya belum siap untuk berjilbab sekarang" atau "Biarlah saya menjilbabi hati saya dulu" atau "Lebih baik saya jilbabi hati saya daripada berjilbab tapi hatinya tidak" atau paling mending "Saya ingin berjilbab setelah benar-benar siap, kalau sudah sekali berjilbab tidak akan saya lepas".

Orang Jawa bilang ajining diri soko ing lati, ajining rogo soko ing busono, ajining urip soko ing laku (Kemuliaan diri seseorang ditentukan dari ucapannya, kemuliaan tubuhnya ditentukan dari busananya, kemuliaan hidupnya ditentukan dari perilakunya). 

Begitu pula agama Islam merincikan setiap hak dari diri manusia. Jiwanya punya hak, raganya punya hak, fikiran punya hak, perasaan punya hak dan seterusnya. Semua ditunaikan dan diatur oleh agama.

"Menjilbabi" hati (dengan menjaganya dari penyakit-penyakit hati semacam riya', takkabur, 'ujub, cinta dunia dan kedudukan secara berlebihan) adalah bagian hak dari hati.
Begitu juga, tubuhpun memiliki haknya sendiri, yaitu ditutupi sedemikian rupa sehingga terjaga harga dan kemuliaannya.

Kalau seorang muslimah mengatakan akan menjaga atau menjilbabi hatinya "saja" berarti dia masih mengabaikan hak tubuh untuk ditutupi dengan busana yang layak sebagaimana agama ajarkan. Tidak perlu menilai orang-orang yang sudah berjilbab tapi hatinya penuh keburukan. 

Orang yang berjilbab tapi hatinya masih buruk itu ada nilai tersendiri di sisi Allah, dan orang yang tidak berjilbab tapi hatinya bersihpun ada nilai tersendiri di sisi Allah. Tapi lebih mulia dari keduanya yaitu orang yang berjilbab dan bersih hatinya.

Simpel saja, agama memerintahkan wanita berjilbab (dengan benar) tidak lain tidak bukan adalah untuk memuliakan wanita itu sendiri.  Tapi 'wanita-wanita pintar' abad ini justru menilai yang bukan-bukan bahkan menilai perintah jilbab ini sebagai ajaran yang tidak penting, na'udzubillah. Bahkan sering terlontar juga sikap "menggurui" agama, mengapa tidak fokus saja pada ajaran meluruskan hati dan kepribadian, dan tidak perlu mengurusi soal sesepele busana. 

Berhentilah melontarkan kritik-kritik bodoh semacam ini. Agama Islam tidaklah akan pernah kurang dalam membimbing soal-soal yang berkenaan tentang pelurusan hati dan kepribadian. Kini, agama tengah bicara tentang tubuh dan bagaimana menjaga kehormatan tubuh. Laksanakan saja, kalau belum mampu instrospeksilah... tidak usahlah melontarkan "kritik balik" terhadap agama yang tidak perlu dan tidak bermutu.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © ISB Corner -Imam Saiful Bahri- Powered by Blogger - Modified by ISB Corner -