Kamis, 18 Agustus 2011

Kisah pertama “pelampiasan dendam”
Ada seorang pemuda yang ‘kacau’ dan membiarkan hidupnya terjerumus pada pola hidup yang penuh kemaksiatan dan keburukan. Ketika ditanya mengapa dia tidak segera bertaubat dan kembali ke jalan yang benar? Pemuda itu menjawab.

“Biarlah! Aku memang ditakdirkan untuk menjadi manusia sial. Aku menjadi begini karena orang tua yang sial. Ini semua karena salah mereka. Sejak kecil mereka menyia-nyiakan aku. Bahkan hingga dewasapun, bukannya pendidikan yang baik yang aku terima, tapi justru teladan yang amat buruk dari orang tuaku yang suka maksiat, jauh dari agama, zalim, dan mentelantarkan semua hak-hakku sebagai anak.”

Begitulah pemuda itu ‘menggadaikan hidupnya’ di dunia karena mengira orang tuanya yang bertanggung jawab atas kesalahannya.

Kisah-kisah lain
Pada contoh-contoh lain, sering kita temui kisah ini pada hubungan antara atasan dan bawahan, guru dan murid, pemimpin dan anak buah, suami dan istri, pada komunitas-komunitas, dan banyak lagi. 

Banyak bawahan menunjukkan kinerja yang amat buruk di kantor, dengan alasan karena kinerja atasannya yang lebih parah darinya. 

Ada lagi orang yang menekan bawahannya karena merasa ditekan atasannya; ada juga yang melakukan ‘pungli’ pada anak buahnya karena disunat penghasilannya oleh bosnya; ada juga masyarakat yang seenaknya melanggar peraturan lalu lintas karena sering melihat aparat saja biasa melanggar; ada juga suami yang nekad “jajan” karena istrinya tidak melayaninya dengan baik. Begitu dan seterusnya,.

Perilaku-perilaku “dendam dan melampiaskan diri” seringkali kita temui dalam kehidupan kita sehari-hari. Pelampiasan semacam ini sering kita anggap sebagai suatu yang wajar dan bahkan kita membenarkannya. Bukannya mengambil solusi yang tepat, tetapi justru sikap ‘gelap mata’ yang ditempuh.

Apakah Tuhanmu memaklumimu?
Dikisahkan di akherat seseorang karena amat buruk dan fasiqnya ia, sehingga ia diputuskan untuk dimasukkan ke dalam api neraka. Lantas orang itu protes dan mengadukan bahwa segala keburukan dan kefasikannya tidaklah lepas dari peran kedua orang tuanya yang juga fasiq lagi zhalim membiarkan dia terlantar dan tidak terdidik. 

Pengaduan orang inipun dibuktikan dan diterima, sehingga orang tuanya diputuskan untuk masuk neraka karena menyia-nyiakan amanah mendidik anak. Tetapi tahukah Anda? Apakah lantas kalau orang tua selaku “penyebab”nya diputuskan masuk neraka, lantas anaknya itu dibebaskan dari api neraka? TIDAK!! Kedua-duanya (orang tua dan anak) sama-sama masuk neraka. 

Tidak berarti orang tua saja sebagai penyebab (tersesatnya sang anak) yang akan masuk neraka, sang anak (yang disesatkan orang tuanya) pun ikut masuk neraka.
Bukan saja syetan (sebagai penyebab tersesatnya manusia) yang akan masuk neraka, tetapi juga manusia (yang disesatkan syetan) itu akan masuk neraka.”
Dalam QS. Al-Baqarah 166 disebutkan: “Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: "Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami." Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka.”


Putuskanlah mata rantai syetan itu!
Ketika seseorang membiarkan dirinya terpuruk dalam keburukan sebagai akibat perbuatan orang lain, lantas tidak mau memperbaiki diri, selalu merasa jadi ‘korban’ kezhaliman orang lain, maka sesungguhnya ia telah masuk dalam “mata rantai syetan”. Putuskanlah mata rantai itu!

Ketika orang tua lalai mendidik kamu, jangan lantas menyalahkan orang tua apalagi melawannya, dan membiarkan kamu menjadi orang yang berperangai buruk. Berhentilah menyalahkan orang tua, sebab itu urusan dia dengan Allah. Berhentilah menjadi berperingai buruk, sebab Tuhanmu akan tetap mengazabmu karena peringaimu itu.

Ketika seorang istri lalai melayani suami, jangan lantas sang suami melampiaskan diri mencari kepuasan dari wanita lain dengan cara haram. Berhentilah menimpakan kesalahan pada sang istri, sebab itu urusan dia dengan Allah. Berhentilah mencari pelampiasan yang haram, sebab Tuhanmu akan tetap mengazabmu apapun alasanmu melakukan itu.

Putuskanlah mata rantai syetan itu, dan bersabarlah, itu lebih baik bagi kamu.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © ISB Corner -Imam Saiful Bahri- Powered by Blogger - Modified by ISB Corner -