Senin, 29 Agustus 2011


Siapa Ingin Diampuni Allah, Maka Supaya Memaafkan Saudaranya
Memaafkan adalah sebuah tonggak di mana hubungan sosial yang baik dimulai. Tanpa itu, hubungan sosial seseorang dengan orang lain akan mengalami ganjalan. 

Dengan kata lain hubungan sosial akan berlangsung tidak sehat ketika dilandasi rasa dendam karena tiada memaafkan. Karena besarnya arti memaafkan ini dan beratnya melakukannya, Allah mendudukkan perbuatan “memaafkan” sebagai salah satu jalan menuai ampunan Allah. Dan siapa yang beroleh ampunan Allah maka dia akan beroleh surga. Maka secara tidak langsung, memaafkan adalah salah satu jalan ke surga Allah (Ali Imron 133-134)

Meminta Maaf dan Memaafkan
Meminta maaf adalah sesuatu yang berat karena harus menembus dinding yang bernama gengsi. Sedangkan memaafkan adalah lebih berat karena harus menembus dinding yang bernama dendam dan sakit hati.

Bagaimana Meminta Maaf?
Seseorang yang meminta maaf berkewajiban meminta maaf dengan setulus hati sesuai kesalahannya. Semakin berat kesalahannya, semakin besar pula seseorang dituntut kerendahhatiannya untuk meminta maaf.

Apabila kesalahan seseorang amat besar terhadap orang lain, tidaklah cukup hanya dilakukan dengan ucapan atau lisan, tetapi harus disertai kesediaan untuk menebus kesalahan dengan sesuatu yang setimpal. 

Misalnya, seseorang telah menyakiti hati orang lain dengan perkataannya, maka ia harus rela bila orang yang sakit hati itu membalasnya dengan perbuatan serupa. Atau dulu pernah menyakiti fisik orang lain, maka ia harus sanggup dibalas dengan perbuatan serupa.


Orang yang disakiti pada dasarnya berhak mempersyaratkan sesuatu (membalas dahulu) sebelum memaafkan, sekalipun memaafkan langsung itu lebih baik di sisi Allah.


Orang yang meminta maaf hanya “bermodal” ucapan saja dan tidak mau menebus kesalahannya (atau menerima pembalasan atas kesalahannya), padahal telah melakukan kesalahan yang besar pada orang lain, sama saja belum meminta maaf dengan sesungguhnya.

Begitulah yang dicontohkan Rasulullah SAW di hadapan para sahabatnya. Beliau rela dibalas atas kesalahan yang beliau lakukan, dan tidak semata-mata minta maaf secara lisan.

Maka kalimat orang yang meminta maaf yang benar kira-kira adalah “Aku minta maaf yang sedalam-dalamnya atas kesalahanku. Bila kamu bermaksud membalas setimpal atas kesalahanku, aku bersedia menerimanya.”
Meminta maaf tidaklah gampang dengan modal ucapan minta maaf saja, dan menyalahkan orang yang dimintai maaf bila tidak mau memaafkan.

Bagi orang yang merasa dizalimi berhak untuk membalas setimpal dengan kezaliman yang diterimanya, dan tidaklah dibenarkan membalas berlebihan.

Bila dulu dicubit maka ia boleh membalas mencubit, bila dulu ditampar maka ia boleh membalas menampar, dan seterusnya yang setimpal. Namun demikian, bila orang yang dizalimi itu mau memaafkan tanpa membalas sedikitpun maka dia beroleh keutamaan dan pahala yang besar dari Allah.

Apabila orang yang bersalah itu telah menempuh jalan meminta maaf sesungguh itu (bersedia dan menerima balasan), maka kewajiban bagi orang yang dimintai maaf untuk memaafkan. Di titik inilah, seseorang yang dimintai maaf akan beroleh dosa bila tidak mau memaafkan, padahal yang meminta maaf sudah meminta maaf dengan sebenar-benarnya dan bersedia dibalas dengan balasan yang setimpal.



Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © ISB Corner -Imam Saiful Bahri- Powered by Blogger - Modified by ISB Corner -