Jumat, 05 Agustus 2011

Sudah sama-sama kita ketahui, bahwa dalam agama Islam ada larangan menggambar atau melukis wajah Nabi Muhammad SAW. Mengapa?

Jawaban untuk pertanyaan ini cukup singkat. Yaitu ditakutkan bahwa Rasulullah SAW akan dikultuskan dan disembah di kemudian hari (baca: hari ini dan akan datang). Bagaimana bisa? Bukankah ummatnya cukup pintar dan mengerti untuk tetap "tidak mengkultuskan" beliau?

Tunggu dulu!
Kurang pintar apa sih, ummat-ummat terdahulu sebelum zaman Rasulullah? Toh pada akhirnya ummat-ummat itu terjerumus menjadi mengkultuskan dan menuhankan nabi-nabi mereka.

Fakta sejarah dulu dan kini
Dalam Al-Quran disebutkan bahwa di tiap negeri/bangsa pada tiap kurun waktu selalu diutus Nabi/Rasul yang berdakwah kepada mereka. Pada masa nabi-nabi itu hidup, tidak ada satupun umatnya yang menganggap nabi-nabi itu Tuhan. Tapi sepeninggal nabi-nabi itu, lama kelamaan ummat mereka yang sudah sedari awal mengagumi para nabi itu pun berubah menjadi menganggap nabi yang (sebenarnya adalah manusia) sebagai "Tuhan".

Coba perhatikanlah pada agama-agama selain Islam yang lahir di negeri manapun. Agama-agama itu mempunyai satu keyakinan bahwa pembawa agama mereka tidak lain adalah "Tuhan yang menitis". Baik menitis dari waktu ke waktu (bereinkarnasi), atau keyakinan model trinitas.

Kekaguman para penganut agama akan "kehebatan" dan "keluarbiasaan" para nabi mereka itulah, sehingga membuat mereka berkeyakinan bahwa para nabi itu tidak lain adalah Tuhan yang "menitis" atau "menjelma" atau "merendahkan diri" sebagai manusia.

Pada awalnya, saat para Nabi itu ada, kaum itu memang tidak menuhankan. Selain karena nabi-nabi sendiri hanya mengaku sebagai manusia biasa dan tidak lebih dari utusan Tuhan, nabi-nabi itu juga melarang dirinya dituhankan. Tapi pada generasi-generasi sesudah nabi-nabi ini, dan sekalipun ummat telah berganti generasi, kekaguman yang ditularkan ke anak cucu mereka tidaklah pudar tetapi justru semakin membesar. Sehingga pada taraf menuhankan.

Mengapa mereka menjadi "menuhankan"?
Jawaban dari pertanyaan ini cukup sederhana. Umat-umat generasi sepeninggal nabi-nabi itu "menyimpan" gambar-gambar/lukisan-lukisan para nabi-nabi mereka. Gambar-gambar yang biasa dipajang di rumah-rumah dan tempat-tempat umum yang disertai perasaaan kagum yang mendalam dalam jiwa umat, membuat umat itu semakin memuja.

Hingga manifestasi dengan "gambar" pun meningkat menjadi "patung" dan akhirnya patung itupun meningkat statusnya menjadi "berhala". Yaitu pahatan yang disembah. "Meningkatnya" perubahan status Nabi menjadi Tuhan itu seiring sejalan dengan "meningkatnya" wujud penggambaran dari gambar 2 dimensi menjadi 3 dimensi dan seterusnya.

Demikianlah Rasulullah SAW bercerita tentang nabi-nabi terdahulu sehingga dikultuskan menjadi Tuhan, yaitu karena umat terdahulu tidak dilarang menggambar para nabinya.

Sekali lagi, inilah yang saat ini terjadi pada agama-agama yang ada pada selain Islam. Penganut agama-agama itu sulit menerima bahwa "penyebar" agama mereka itu hanyalah setingkat nabi dan hanyalah manusia biasa. "Keluarbiasaan" dan "mukjizat-mukjizat" yang mereka tunjukkan merupakan alasan mengapa "para penyebar agama" itu diyakini sebagi Tuhan.

Semisal "kemampuan" mengangkat bukit, menggerakkan awan, menghidupkan orang mati, dilahirkan tanpa ayah, dan sederet "keluarbiasaan" lainnya.

Ya! akhirnya keyakinan yang memandang "sang penyebar" itu adalah sosok tuhan/dewa dalam wujud manusia menjadi bagian dari sistem keyakinan mereka. Na'udzubillah.

Seandainya Nabi Muhammad SAW tidak melarang para sahabat dan umatnya menggambar/melukis dirinya, mungkin saat ini umat Islam juga jatuh pada pemujaan beliau dan menempatkan beliau sebagai "tuhan".

Siapa yang bisa menjamin dalam kurun waktu 14 abad lebih, dari generasi ke generasi itu tidak mengalami pergeseran pemikiran-persepsi-pandangan bahkan keyakinan?! (Sebab, tidak kurang mukjizat dan keluarbiasaan yang ditunjukkan Nabi Muhammad SAW.

Lihat saja besarnya jumlah pengikut beliau di bumi saat ini. Lihatlah bagaimana beliau tidaklah hanya sebagai pemimpin agama, tetapi juga dari sisi politik, ekonomi dan dimensi sosial lainnya beliau adalah pelopor dan sumber inspirasi.


Semoga umat ini dilindungi dari mengkultuskan dan menuhankan Nabinya. Amin.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © ISB Corner -Imam Saiful Bahri- Powered by Blogger - Modified by ISB Corner -