Sabtu, 05 Januari 2013

Di setiap agama selain agama Islam, selalu dikenal “pendeta” atau pemuka agama. Sebenarnya dalam agama Islam tidaklah dikenal pemuka dalam arti seluas pendeta dalam agama lain. 

Pendeta dalam agama lain memiliki “kewenangan” yang amat luas, seperti memimpin prosesi sembahyang, memimpin berbagai upacara ritual, memimpin proses pernikahan, dan lain sebagainya. Semua dikerjakan oleh sosok pemimpin yang disebut pendeta. 

Pendeta dalam agama selain Islam sering didudukkan sebagai “perantara” antara jemaat dan Tuhan, karena pendeta dinilai telah mencapai tahap spiritual yang lebih tinggi bila dibanding jemaatnya. Sehingga dikenal “layanan doa” atau “layanan pengampunan dosa”. Dalam prosesi doa dan pengampunan dosa, para jema’at acapkali meminta bantuan pada pendetanya yang dipandang “lebih dekat” dengan Tuhan.

Inilah yang tidak ada di Islam. Dalam memimpin sholat atau sembahyang dikenal dengan istilah imam. Dalam memimpin prosesi pernikahan sebenarnya cukup orang tua/wali mempelai perempuan, tapi seringkali diserahkan kepada penghulu atau petugas KUA, dan bukanlah..... pemimpin agama. Pemuka agama dalam arti seluas “pendeta” tidak ada dalam Islam.

Muslim tidak boleh memandang orang lain “lebih dekat” dengan Tuhan dibanding dengan yang lain. Begitu juga tidak seorang pun muslim yang minta dipandang “lebih dekat” dibanding yang lan. Sehingga tidaklah benar bila seorang muslim minta muslim lainnya untuk menyampaikan permohonan kepada Tuhan. 

Berdoa dan memohon ampun tidak bisa dilakukan kecuali langsung, antara hamba dengan Tuhannya. Seorang muslim boleh meminta doa dari muslim lainnya, tetapi dirinya sendiri haruslah berdoa, dan orang yang diminta itu bukanlah “semata-mata” perantara.

Inilah yang bergeser dalam Islam. Di mana sebagian kalangan kaum muslimin ada yang “menjunjung” seorang yang dianggap “lebih dekat” dan sering dimintai doa dalam arti nyaris dijadikan “perantara”. Untung saja, upaya-upaya dan gerakan-gerakan memperingatkan hal ini selalu ada.

Posisi ulama
Ulama atau orang yang berpengatahuan dalam agama Islam dipandang sebagai pewaris para Nabi. Maka “kewenangan” ulama dalam agama Islam tidaklah boleh melebihi kewenangan para Nabi. Nabi dalam agama Islama adalah orang yang diberi pengetahuan lebih berupa wahyu agar dia menyampaikan itu pada umat. Begitu juga ulama, ilmu yang dianugerahkan Allah pada mereka tidak lain adalah agar disampaikan kepada umat. Sehingga umat tahu mana yang benar dan mana yang haq. 

Ulama TIDAKLAH BOLEH berlebihan mendudukkan dirinya sebagai orang yang “lebih dekat” dibanding dengan umat, sehingga ulama menjadi perantara antara umat dan Tuhan. Tugas ulama tidak lebih dari “penyampai” dan “pembimbing” dan bukan “perantara”. Ditegaskan Rasulullah bahwa “tidak ada kependetaan dalam Islam” (Laa rohbaaniyata fil-Islam). (Mohon dibantu cek riwayat hadist ini)

Keluasan Islam
Keluasan Islam bukan justru terletak pada kewenangan yang diberikan kepada “pemuka”nya, tetapi pada Islam itu sendiri. Islam sebenarnya bukan hanya sekedar sebagai “agama” tetapi juga sebagai sistem dan pedoman hidup yang yang dianugerahkan Tuhan. Umat Islam percaya hidup manusia di dunia adalah karena kehendak Tuhan, dan karenanya Tuhan memberikan pedoman hidup yang “memadai” dan tidak terbatas yaitu “Dien Islam”. 

Dien Islam tidak hanya mencakup bagaimana manusia “berinteraksi” dengan Tuhannya (dalam arti agama), tetapi juga segala jenis seluk beluk kehidupan lain diatur prinsip-prinsipnya oleh Dien Islam ini. Dalam kompleksitas “sistem pedoman hidup” ini, tidaklah ada pemimpin dalam arti didudukkan sebagai wakil Tuhan atau “perantara” antara manusia dengan Tuhan. 

Yang ada orang yang diberi “pengetahuan lebih” oleh Tuhan dan berkewajiban menyampaikannya pada manusia. Mereka inilah yang disebut Nabi atau penerusnya yaitu ulama.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © ISB Corner -Imam Saiful Bahri- Powered by Blogger - Modified by ISB Corner -