Senin, 29 Agustus 2011

Mohon Maaf Lahir Batin?
Minal Aidin wal Faizin merupakan sebuah idiom yang biasa kita ucapkan saat lebaran atau hari raya Idul Fitri tiba. 

Minal aidin wal faizin kalau diterjemahkan secara bebas bisa berarti “semoga termasuk orang yang kembali ke fitrah dan beroleh kemenangan”. 


Cuma seringkali kita mengucapkan rangkaian idiom “Minal Aidin wal Faizin” dengan “Mohon Maaf Lahir dan Batin”. Sesungguhnya kedua idiom ini tidak satu makna dan boleh dikatakan memiliki pesan yang berbeda, ada di antara kita ‘menyangka’ bahwa “mohon maaf lahir dan batin” adalah terjemahan atau satu makna dengan “minal aidin wal faizin” padahal bukan. 


Kalau “Minal Aidin wal Faizin” lebih mencerminkan keberhasilan pencapaian seorang mukmin setelah berpuasa dan beribadah kepada Tuhannya di bulan Ramadhan (sisi vertikal), sedangkan “Mohon Maaf Lahir Batin” lebih mencerminkan apa yang sedang dilakukan mukmin pasca bulan Ramadhan yaitu menyempurnakan hubungan sosialnya dengan sesama (sisi horisontal).

Makna “Minal Aidin wal Faizin”
“Minal Aidin” (Semoga termasuk orang yang kembali) dan “wal Faizin” (Semoga beroleh kemenangan).

Apa sih maksud “orang yang kembali” ini?
Dalam konteks Idul Fitri, tentu “kembali” di sini adalah “kembali ke fitrah”. Sedangkan “fitrah” sendiri ada beberapa arti, antara lain:

PERTAMA, ada yang memaknai “fithrah” sebagai kesucian. Kembali ke fitrah berarti kembali kepada kesucian, yaitu setelah berpuasa dan beribadah sebulan penuh di bulan Ramadahan dengan tekun dan niat yang lurus, maka jiwa kita menjadi suci dari dosa dan menjadi bersih layaknya seperti jiwa bayi yang baru dilahirkan atau layaknya kertas putih yang boleh tergores coretan apapun.

KEDUA, ada juga yang memaknai “fihtri” sebagai “futhur” yang berarti “makan” atau “berbuka”, jadi “Idul Fithri” dalam makna ini bisa diartikan “kembali makan”, yaitu moment kembali melakukan aktivitas makan setelah berpuasa sebulan penuh lamanya.

KETIGA, ada juga yang memaknai “fithrah” sebagai “jati diri manusia” (bukan berarti suci yang sempurna, bebas dari hawa nafsu). Jati diri manusia adalah sebagai makhluk hidup yang terkomposisi atas akal dan hawa nafsu, di mana akal lebih mendominasi hawa nafsunya. Sehingga seorang mukmin dikatakan “kembali ke fitrah” apabila dia telah sanggup memberikan tali kekang hawa nafsu pada genggaman akal, atau singkat kata “dirinya dalam posisi kuat mengendalikan hawa nafsu”. Sebaliknya, seorang mukmin belumlah dikatakan kembali ke fitrah bila hawa nafsunya masih liar, merepotkan akal dan membuat akalnya kwalahan.

Lantas mengapa harus disebut dengan “kemenangan”?
Kesan “menang” memang menunjukkan ada dua pihak yang berhadapan atau bermusuhan. Jadi ketika “kemenangan” itu diraih, secara otomatis ada “kekalahan” yang terjadi di pihak lain. Lantas siapa yang menang dan siapa yang kalah? Jawabannya tentu seperti yang kita pahami selama ini, bahwa yang menang adalah “akal” sedangkan yang kalah adalah “hawa nafsu”.

Mengapa harus ada yang menang dan ada yang kalah?
Inilah fakta hidup.
Dua sisi yang bertentangan ini selalu ada dan memang diciptakan untuk menyempurnakan jiwa manusia. Dalam Q.S. Asy-Syams ayat 8 dengan gamblang hal ini dijelaskan, bahwa untuk menyempurnakan jiwa manusia, Allah menciptakan kecenderungan jiwa kepada dua hal yang bertentangan yaitu “ketakwaan (akal)” dan “kefasikan (hawa nafsu)”. 

Seandainya jiwa manusia hanya diisi dengan “akal dan ketakwaan” maka manusia akan lebih memilih segera mati dan kembali kepada Tuhannya, dan tidak ada dorongan untuk hidup dan mengemban amanat yang lebih besar yaitu mengembangkan kehidupan yang diridhoi-Nya. Begitu juga sebaliknya, jika jiwa manusia hanya diisi hawa nafsu “tanpa akal” maka akan menciptakan kerusakan yang tidak terkira termasuk mempercepat musnahnya kehidupannya sendiri.

“Dua hal yang bertentangan” inilah yang diperlukan manusia agar tetap hidup dan mengembangkan kehidupan. Kedua hal yang bertentangan ini pada prakteknya tidaklah boleh seimbang secara absolut, tapi haruslah sisi “akal dan ketakwaan” yang lebih dominan bila dibandingkan “hawa nafsu dan kefasikan”. Hal ini tidak boleh terbalik. 

Kondisi akal dan ketakwaan yang dominan atas hawa nafsu dan kefasikan inilah yang disebut Al-Quran (Asy-Syams:9) sebagai sebuah situasi yang menguntungkan (bagi manusia) dan dalam konteks Idul Fithri disebut sebagai “kemenangan”.

Istilah “kemenangan” ini pun tepat sekali untuk menggambarkan bagaimana seharusnya “akal dan ketakwaan” seorang mukmin mengontrol dan mendominasi “hawa nafsunya”. Begitu sebaliknya, istilah “kalah”pun sangat tepat untuk disandang hawa nafsu. “Kalah” bukan berarti “mati”. 

Jadi akal dan ketakwaan ini “mengalahkan” hawa nafsu dan bukan “membunuh/mematikan/mengebiri” hawa nafsu. Hawa nafsu dalam konteks “kekalahan” ini adalah sebagai sesuatu yang dikendalikan, dikontrol dan didominasi oleh akal/ketakwaan, yang dalam saat yang sama  hawa nafsu ini masih berfungsi penuh sebagai pendorong bagi hidup manusia.


Ada slogan “Kasih Lebih daripada Pemenang”
Beberapa tahun lalu, ada acara menyambut hari raya suatu agama di sebuah televisi yang mengambil tema “Kasih Lebih dari Pemenang”. Awalnya saya kurang perhatian akan maksud dari tema itu. Setelah saya pikir-pikir, saya jadi ingat dengan istilah “menang” (Faizin) yang sering digemakan umat Islam di hari raya Idul Fitri. 

Spontan saya tangkap pesan, bahwa tema itu ingin menunjukkan bahwa “Kasih” lebih unggul dari “Pemenang”. Atau kasarnya, ingin menunjukkan bahwa slogan “kasih”nya agama itu lebih unggul bila dibanding dengan slogan “menang”nya agama Islam.

Sepintas kita semua mungkin akan membenarkan dan lebih “bersimpati” terhadap slogan “kasih” daripada slogan “menang”. Karena slogan “kasih” lebih berarti “merangkul semua pihak” sedangkan slogan “menang” lebih tersirat makna “mengalahkan pihak lain”.

Tapi ingat, konsep “kasih” dan “menang” dalam konteks bulan Ramadhan dan Idul Fitri tidaklah dapat dipertentangkan. Mengapa?

PERTAMA. “Kasih” secara bahasa bisa diartikan “memberi” atau “pemurah”, dengan menjadi “pemenang” pasca Ramadhan maka secara otomotis seorang muslim akan menjadi “pemurah” atau orang yang penuh “kasih”.

KEDUA. Begitu juga bila “kasih” dimaknai sebagai “kasih sayang” atau “cinta” maka sesungguhnya orang yang telah “menang"lah yang paling bisa merasakan “kasih sayang”. Mengapa? Karena orang yang telah ditempa sebulan penuh dengan “penderitaan lahir-batin” adalah orang yang paling mungkin tumbuh rasa cinta kasih sayangnya!

KETIGA. Setelah “pelatihan nyata” sebulan penuh dengan berpuasa lahir-batin, seorang muslim memang ingin mencapai derajat “kemenangan”. Dengan kemenangan ini, tidaklah ada yang dikalahkan selain hawa nafsu dalam diri tiap muslim itu sendiri. Memenangkan dalam hal ini sama sekali tidaklah berkonotasi destruktif atau menghancurkan pihak tertentu. 

Bahkan “kemenangan” ini menghasilkan sesuatu yang amat bernilai yaitu tumbuhnya jiwa yang penuh kasih, sayang, cinta, adil, syukur, sabar, pemurah, dan berbagai nilai-nilai luhur lain. Singkat kata, dengan Ramadhan dan Idul Fitrinya, umat Islam tidak hanya mencapai “kasih” tetapi juga sederet nilai agung yang lain.

Sementara slogan “kasih” hanya akan menjadi slogan ketika hanya digemakan dari forum ke forum, dari penghayatan dan ke penghayatan, atau dari acara ritual ke acara ritual lainnya tanpa ada “pelatihan nyata yang berarti”, yang pastinya tidak akan dapat dibandingkan dengan “pelatihan” Ramadhan.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © ISB Corner -Imam Saiful Bahri- Powered by Blogger - Modified by ISB Corner -