Kamis, 18 Agustus 2011

Dalam fikiran-fikiran asyikku yang sering bergejolak ini, sesekali aku sempatkan memikirkan tentang diriku sendiri. Tak terasa... tidak sedikit langkah-langkah 'nyleneh' telah aku tempuh. 'Nyleneh' itu sebenarnya menurut orang lain, tapi menurut aku sendiri itu adalah langkah 'berani' (hihihihi... menghibur diri). 

Pertama...
Teringat pertama kali aku memutuskan untuk memilih sekolah lanjutan mana setelah lulus sekolah dasar. Kebetulan nilai 'danem'ku waktu itu terhitung bagus, buktinya teman runner-up ku aja bisa masuk es-em-pe paling unggul di kota. Terasa 'nyleneh' dan disayangkan banyak orang, yaitu ketika aku memilih melanjutkan ke pesantren. Padahal juga, pesantren yg menjadi tujuanku waktu itu sudah tutup. Akhirnya aku 'mampir' dulu di pesantren lain. Keputusan itu menurut aku merupakan keputusan 'berani', karena....
(1) aku lebih memilih tempat yang 'dijauhi' banyak orang dan berpaling dari tempat yang 'diidamkan' banyak orang;  (2) kerabat dekatku tidak banyak yang mendukung; (3) seolah siap menerima konsekuensi hilangnya 'iming-iming masa depan yang lebih indah'. Tapi entahlah, hati kecilku... seolah telah mengatakan inilah yang terbaik bagiku.

Kedua.. dan seterusnya..
Di sebuah pesantren 'transit' itu lagi-lagi serasa aku menemukan banyak faktor yang mendorongku untuk tetap tinggal. Orang tua sudah puas. Tidak usah pindah lagi. Sama saja. Tetapi... sekali lagi, hati kecilku mengatakan... aku harus melangkah 'ke sana' yaitu ke tujuanku semula... Maka berlanjutlah langkahku meninggalkan 'kenyamanan' yang ditawarkan di pesantren 'transit' ini.

Hal-hal 'menentang arus' dan 'nyleneh' ini rupanya terus menjadi kebiasaanku. Dari mundur dari 'jabatan prestise' organisasi semasa sekolah, ketika sudah kerja begini, menolak even-even 'ceremonial' yang kurasa semu, memilih jurusan yang tidak populer saat kuliah, hingga anti daftar pe-en-es.

Satu hal yang selalu menjadi pertimbanganku adalah "meluruskan niat" setiap mengambil keputusan-keputusan ini. Aku selalu berusaha memastikan dalam hati bahwa aku tidak sedang membuat sensasi, aku tidak sedang asal tampil beda dan nyleneh (hubbul-mukholafah), apalagi sok-sokan. Sebab motivasi inipun tidaklah dapat dibenarkan. Satu fokusku adalah pertimbangan yang sering aku sebut "pertimbangan hati nurani", tapi tidak melulu urusan spiritual. Ada alasan-alasan yang kuat dan teramat jelas benarnya yang tertangkap hati nuraniku, dan dengan dasar itulah aku sangat 'yakin' menetapkan keputusan berani ini (atau nyleneh kata orang). Pentingnya meraih 'materi' tentu tidak bisa diabaikan, apalagi oleh manusia sebagai makhluk fisik tentu akan tetap butuh itu. Tapi sekali lagi, semua tidak melulu soal spiritual atau melulu soal materi. Semua harus dipertimbangkan dengan sebaik-baiknya untuk kemudian 'dipilih' yang terbaik.

Memang, keputusan-keputusan 'aneh'ku ini tidaklah populis, banyak konsekuensi-konsekunsei yang aku hadapi, tapi sudahlah..  itulah keputusanku dan aku tidak menyesalinya. Aku berusaha menerima segala resiko, menikmati, dan mensyukurinya. Lagi... satu hal yang sangat aku syukuri dan harapkan, semoga ini semua membesarkanku, membesarkan jiwaku - tanpa harus membuatku ujub (mengagumi diri sendiri).

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © ISB Corner -Imam Saiful Bahri- Powered by Blogger - Modified by ISB Corner -