Senin, 25 Juli 2011

Seorang tokoh nasional pernah berkomentar tentang Gontor. Bahwa Gontor adalah pesantren yang cukup maju dan terkenal di nusantara. Insyaallah, Gontor akan tetap terus eksis di tengah-tengah masyarakat, lingkungan nasional dan internasional, sebab Gontor memiliki kehebatan. Yang hebat dari Gontor itu bukan "ilmu"nya, sebab banyak pesantren yang membekali santrinya lebih padat ilmu bahkan menjadi hafidz/penghafal Quran. Hebatnya Gontor juga bukan karena "bahasa"nya, sebab banyak lembaga-lembaga pendidikan yang mampu menelorkan alumni yang tingkat penguasaan bahasa Arab-Inggrisnya lebih unggul dibanding alumni Gontor. Hebatnya Gontor juga bukan karena "disiplin"nya, sebab sekolah-sekolah kepegawaian dan kemiliteran jelas lebih menerapkan kedisiplinan yang lebih ketat dibandingkan Gontor.

Lantas, apakah yang hebat dari Gontor itu? Menurut beliau, yang hebat dari Gontor adalah itu.... Sembari menunjuk pada untaian-untaian kata yang terpajang memenuhi aula. Menurut beliau, itulah falsafah hidup yang tidak hanya terpajang menghiasi lingkungan pesantren, tapi menghunjam ke dalam hati sanubari seluruh penghuni bahkan para alumni Gontor. Kyai, ustadz, santri dan alumni Gontor secara mendalam meyakini itu sadar atau di bawah sadar, memegangnya baik dalam keadaan tenang, dalam tekanan atau dihantam ujian. Seandainya ada orang-orang Gontor, yang terpuruk dan tersisihkan... segera ingat-ingatlah dan peganglah kembali "untaian" kata itu, niscaya ia akan bangkit dengan kekuatan luar biasa.... Allahu Akbar.



Yang dimaksud "untaian kata" yang terpajang itu adalah falsafah-falsafah hidup, slogan-slogan, dan sebagainya yang memang dijadikan bagian penting "materi pelajaran" bagi seluruh santri dan penghuni pesantren Gontor. Seperti contohnya:

"Berjasalah, tapi jangan minta jasa"
"Berkorbanlah, tapi jangan jadi korban"
"Nyatakanlah kebenaran, bukan harus selalu membenarkan kenyataan"
"Benar, berani tapi sopan"
"Jadilah ulama yang intelek, bukan intelek yang tahu agama"
"Hidup sekali hiduplah yang berarti"
"Sebesar keinsyafanmu, sebesar itulah keuntunganmu"
"Siap dipimpin dan siap memimpin"
"Jadilah perekat umat"
"Bondo bahu pikir lek perlu sak nyawane pisan - dalam berjuang janganlah ragu-ragu berkorban harta, tenaga, fikiran kalau perlu seluruh hidupnya sekalian"
dan seterusnya.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © ISB Corner -Imam Saiful Bahri- Powered by Blogger - Modified by ISB Corner -