Jumat, 29 Juli 2011

Islam berarti pasrah atau berserah diri. Berserah diri pada apa? Berserah diri terhadap apa yang dititahkan Allah. Kalau seseorang belum sepenuhnya berserah diri, berarti Islamnya pun belum penuh. Bagaimanakah keislaman kita?

Mungkin kita bisa berkaca pada hal berikut ini.
Anda muslim atau muslimah?

Anda mungkin mengaku muslim atau muslimah, tetapi sesungguhnya pengakuan itu perlu diuji. Dan yang menguji bukan siapa-siapa selain Allah.

Maaf, seringkali kita mengaku muslim (orang yang berserah diri terhadap perintah Allah) tetapi di sisi lain kita sering mengingkari tuntunan atau sebagian tuntunan dari Allah.

Contoh kecil saja, banyak di antara kita dengan berbagai macam dalih, menolak dan mengingkari sesuatu yang dijadikan tuntunan agama.

Karena hati kita yang belum sepenuhnya menerima, kita berdalih ini dan itu, agar tuntunan itu bisa sesuai betul dengan "perasaan" dan "keinginan" hati kita. Anda tahu "poligami"? Yaitu beristri lebih dari satu?

Dalam ajaran kita, dan menurut kebanyakan kita, poligami adalah dibolehkan dalam agama kita. Tapi sebenarnya, nash (ajaran tertulis agama Islam) sendiri tidak sekedar "membolehkan" poligami tapi sudah sampai pada tahap "menganjurkan" atau mensunahkan.

Ayat poligami jelas menyatakan agar seorang muslim menikah lebih dari satu (dua, tiga, atau empat), baru kalau merasa tidak sanggup memenuhi/mencukupi materi dengan adil, "alternatif terakhir"nya adalah menikah satu (monogami). Jadi kalau dilihat dari redaksinya, sudah jelas bahwa alternatif utama adalah poligami dan alternatif terakhir adalah monogami.

Wacana yang Beredar
Tapi apa yang terjadi? Kaum muslimin (maaf, terutama kaum muslimah) mengambil kesimpulan dan berpandangan seolah-olah bahwa "alternatif utama" bagi kaum muslimin itu adalah menikah monogami, dan kalau benar-benar sanggup berlaku adil baru boleh melakukan poligami. Karena "berbuat adil" itu tidak mungkin bagi manusia, kesimpulannya berarti manusia (laki-laki) itu tidak boleh berpoligami.

Kesimpulan ini sebenarnya mengada-ada, dan justru menilai Allah "bermain kata-kata" dengan ayat-ayatNya.
Para ulama dan cendekiawan muslim yang menyimpulkan poligami sebagai suatu "jalan darurat", sebenarnya telah terbawa pemikiran dan pandangan yang tengah beredar saat ini.

Fakta yang memprihatinkan....
Kenyataan yang terjadi saat ini sebenarnya menegaskan, bahwa sunnah Rasulullah untuk "berpoligami" bagi kaum muslimin yang mampu sangatlah tepat untuk diikuti. Isti-istri orang-orang kaya lebih suka mengizinkan suaminya yang "ngebet" untuk nikah mut'ah (nikah kontrak), nikah sirri dengan wanita lain daripada harus dimadu. Dan na'udzublillah, ada juga yang lebih rela suaminya "jajan" daripada harus berbagi suami dengan wanita lain.

Di sisi lain, semakin banyak kaum wanita yang lebih rela menjadi wanita pekerja seksual, wanita simpanan, dan masih mending menjadi istri simpanan "sah" dari lelaki yang telah beristri..... demi hanya untuk menyambung hidup.

Pemikiran kaum muslimah (utamanya) yang secara "nurani" menolak poligami, tidaklah lepas dari perkembangan pemikiran dan faham yang "membebaskan" wanita. Awalnya di Eropa dan Timur Tengah pada zaman pra Islam, kaum wanita mengalami titik paling nadzir, mereka terjerat dalam kungkungan perbudakan bahkan hingga disetarakan derajatnya dengan binatang.

Ketika Islam datang membebaskan dan mendudukkan wanita menjadi makhluk terhormat pendamping bagi pria (kedudukan sama dengan peran berbeda), dunia Barat terus "membebaskan" kaum wanita untuk benar-benar setara dengan pria dalam segala aspeknya. Padahal pembebasan ala Barat semacam ini justru merendahkan kaum wanita itu sendiri, dan melenyapkan jati diri mereka sebagai wanita.


Antara Hukum Waris dan Hukum Pernikahan
Dalam faroid (pembagian warisan), mengapa wanita hanya memperoleh setengah dari pria? Hal ini tidak bisa dipandang berdiri sendiri, karena hukum waris sangat terkait dengan hukum pernikahan.

Dalam hukum pernikahan, pria-lah yang dibebani kewajiban untuk memenuhi nafkah istrinya (wanita), sedangkan wanita tidaklah diwajibkan semacam itu. Jadi untuk menopang kewajiban pria memberi nafkah, agama Islam memberikan "fasilitas" bagi kaum pria dengan dilebihkan jatah warisannya yang dua kali lipat daripada wanita.

Jadi hukum waris dan hukum pernikahan tidaklah bisa dipisahkan satu sama lain. Sikap kaum muslimin yang hanya menerapkan hukum pernikahan dan mengabaikan hukum waris tentu hanya akan mengakibatkan kepincangan. Pandangan yang keliru dan berlanjut praktek yang keliru semacam inilah yang sering membuat kita serasa asing dengan agama kita, Islam.

Ajaran Islam serasa ada yang ganjal bagi kita, serasa kurang nyaman kita menerimanya. Perasaan ini muncul bukan karena kurang sempurnanya ajaran Islam itu, tetapi kurang sempurnanya kita dalam berserah diri menerima ajaran itu.

Hal ini tidak terjadi pada hal hukum waris dan hukum pernikahan saja, tetapi juga pada banyak hal lain. Untuk itulah sebaiknya kita lebih membuka diri mempelajari agama kita ini. Tentunya dengan hati yang ikhlas dan jiwa yang lebih berserah diri.... lebih "islam"...

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © ISB Corner -Imam Saiful Bahri- Powered by Blogger - Modified by ISB Corner -