Senin, 06 Juni 2011


Sebab Terkabulnya Doa-doa Besar
Banyak sekali bahasan yang menjelaskan tentang bagaimanakah doa itu bisa dikabulkan, doa seperti apa, kapan waktunya, di mana tempatnya, bagaimana sikap kita saat berdoa, hingga bagaimana kondisi jasmani dan rohani kita sebagai orang yang berdoa.

Mungkin uraian singkat ini bisa menggambarkan bagaimana pemahaman umumnya kaum muslimin tentang diijabahnya doa, yang PERLU DILURUSKAN.

Sebab berikut ini sesungguhnya INI BUKAN SEBAB UTAMA doa dikabulkan!!

“Doa untuk tujuan kebaikan”
Doa yang dikabulkan Allah adalah doa memohonkan kebaikan. Orang yang mendoakan keburukan untuk orang lain, maka Allah tidak akan mengabulkannya.”

Berapa juta doa tentang kebaikan telah terpanjatkan, tentang permohonan kesehatan, kebahagiaan, rezeki, kemudahan, kesuksesan, bertambah kekayaan, naik jabatan-kedudukan dan seterusnya. Tetapi berapa banyak pula doa itu yang tidak diijabah?! Seandainya diijabahpun, tidak banyak perasaan “luar biasa” yang bisa kita rasakan dari terkabulnya doa-doa kebaikan yang rutin ini.

“Doa di waktu-waktu mustajabah”
Doa akan mustajab bila dilakukan di waktu-waktu mustajabah, seperti di antara adzan dan iqomah, sujud terakhir dalam sholat, antara dua khutbah, setelah sholat malam, setelah shalat fajar, ketika teraniaya, pemimpin yang adil, pedagang yang jujur, orang yang tengah berpuasa, ketika hendak berbuka dan seterusnya”.

Anda dan kita semua yang membiasakan diri berdoa di waktu-waktu mustajabah ini, berapa banyakkah doa Anda yang diijabah? Saya yakin, seandainya diijabah itupun sifatnya biasa-biasa saja, tidak berdampak luar biasa bagi Anda apalagi bagi sekeliling Anda. Seandainya dampaknya dahsyat, sesungguhnya bukan waktu mustajabah inilah sebab utamanya.

“Doa di tempat-tempat mustajabah”
Doa akan mustajab bila dilakukan di tempat-tempat mustajabah, seperti tempat-tempat yang disucikan Allah seperti masjid. Utamanya adalah Masjidil Haram, dan lebih utamanya lagi di Multazam, yaitu tempat antara Maqom Ibrahim dan Ka’bah. Atau di Raudah yaitu area di dekat makam Nabi Muhammad SAW di satu bagian dari Masjidil Madinah.”

Saya ingin bertanya, berapa juta tiap tahun jamaah haji yang berdoa di tempat-tempat mustajabah itu? Apakah ada doa dahsyat yang terkabulkan? Adakah kehidupan bangsa ini berubah? Adakah kualitas keagamaan kaum muslimin berubah? Dan nyatanya tidak banyak berubah bukan?! Andaikata ada doa yang dikabulkan, itu sifatnya individu-individu, temporer, duniawi dan tidak banyak berdampak luas bagi kehidupan.

“Doa dengan penuh adab”
“Agar doa terkabul, hendaknya orang memperhatikan adab berdoa yaitu menghadap arah kiblat seraya mengangkat tangan, merendahkan suara, memohon dengan sepenuh hati

Banyak orang-orang di sekitar kita mengeluh doanya tak jua diijabah, bahkan yang dirasakan terkadang jauh dari yang diharapkan. Padahal mereka-mereka inilah yang berdoa dengan penuh adab ini. Mengapa doa mereka tidak juga dikabulkan secara nyata!?

“Orang yang berdoa hendaknya suci jasmani dan rohani
“Dikisahkan ada orang yang merintih-rintih berderai air mata tetapi Allah tetap tidak sudi mengabulkan doanya, karena di dalam daging dan tubuhnya ada sari-sari makanan yang haram. Sehingga, selain dalam kondisi suci dari najis dan hadas, jasmani seseorang haruslah suci dari makanan-makanan haram dan perilaku-perilaku haram.”

Orang baik-baik di sekitar kita banyak, mencari penghidupan dengan cara yang baik lagi halal, tidak neko-neko, legal dan resmi, tapi toh... doa merekapun diijabahnya biasa-biasa saja. Diijabah terasa biasa, dan ijabahnya tertunda pun biasa..

Menjadi orang yang “dekat” dengan Allah?
Dianalogkan, bahwa orang kalau orang sudah dekat, tentu minta apa saja lebih mudah dibandingkan dengan orang yang tidak dekat. Sehingga banyak orang bertaqarrub, beribadah dan berdzikir dengan khusuk, intensif dan istiqomah, memperbanyak dan meningkatkan mutu kedekatan-Nya dengan Allah, menempuh jalan tasawwuf, dan seterusnya agar bisa merengkuh status “dekat” dengan Allah”. 

Tetapi setelah ia merasa dekat, hal-hal kecil dalam urusan duniawi yang dimintanya pun kadang tidak diberi-Nya, semisal kekayaan, kedudukan terhormat di masyarakat, dan sebagainya. Ia tetap biasa, tidak menjadi siapa-siapa dan bukan siapa-siapa, serta tidak banyak bermanfaat bagi banyak orang.

Lantas apa SEBAB UTAMA terkabulnya DOA-DOA BESAR?
Uraian di atas memang menggambarkan secara teknis dan beberapa substansi penting bagaimanakah seharusnya seseorang berdoa agar doanya dikabulkan Allah. Tetapi, sesungguhnya doa-doa yang dipanjatkan “hanya” dengan cara di atas tidaklah mendatangkan diijabahnya DOA-DOA BESAR, tetapi hanya doa-doa biasa, dan terkabulnya pun sering ditunda.

Lantas apakah SEBAB UTAMA dikabulkannya doa-doa besar?
Kita tentu tahu, kisah shahih yang tertulis dalam Al-Quran tentang diijabahnya doa-doa besar dari orang-orang shalih. Mereka tidak hanya dekat dengan Allah, tidak hanya menjaga tubuh mereka dari makanan haram, bahkan acapkali mereka berdoa tidak di tempat-tempat dan waktu-waktu yang mustajab.

Nabi Ibrahim, dengan doanya beliau diselamatkan dari dari api yang membakar. Bahkan sungguh luar biasa, api yang panas itu tidak lagi terara panas dan tidak membakar dirinya.

Nabi Ayub, disembuhkan dari penyakit dan dipulihkan kondisinya dari keterpurukan total hidupnya.

Nabi Musa, mampu memimpin dan menjadi jalan penyelamat bagi kaumnya dari kebengisan Raja Firaun dengan kisah menakjubkan menyeberangi Laut Merah yang terbelah sebagai bentuk terkabulnya doanya.

Dan orang-orang salih lain.... dengan doa mereka, Allah sudi mendatangkan hujan di saat kemarau kering tiada tara, mencukupkan makanan yang sedikit untuk dikonsumsi ribuan orang, berjalan di atas air, berbicara dengan binatang, berkendara angin, membuat orang buta dapat melihat kembali, memulihkan orang lumpuh, menghidupkan sesuatu yang mati, dinaungi awan, mendatangkan badai atas musuh yang mengancam jiwa mereka, dan banyak kisah-kisah ‘ajaib’ sebagai bentuk diijabahnya doa.

Apa benang merah dari itu semua?
Para nabi dan orang-orang shaleh itu, mengapa doa mereka begitu luar biasa diijabah Allah?
Kalau Anda menjawab karena mereka dekat dengan Allah, maka jawaban itu belum cukup!!
Atau karena... sebab-sebab sebagaimana disebutkan di atas, maka itu juga belum cukup!!

Sesungguhnya, yang menyebabkan diijabahnya doa-doa orang itu adalah seperti yang akan saya jelaskan melalui ilustrasi ini.

Allah punya kepentingan.
Kepentingan Allah adalah tunduknya seluruh makhluk-Nya dengan penuh ketaatan dan pengabdian.

Sesungguhnya dengan kemahakuasaan-Nya, Allah bisa mewujudkan apapun yang menjadi kepentingan-Nya. Tetapi Allah telah menetapkan sunnatullah dalam kehidupan dunia ini yaitu pemberlakuan ‘hukum alam’ yang adil bagi seluruh makhluknya tanpa terkecuali, baik yang patuh atau yang membangkang, yang beriman atau yang ingkar, dst akan merasakan kepastian hukum alam (sunnatullah) ini.

Di sinilah, Allah menjadikan ketetapan sunnah-Nya ini sebagai ujian bagi hamba-hambaNya yang beriman untuk tetap beriman kepada-Nya sekaligus MENERUSKAN KEPENTINGAN Allah, yaitu berjuang agar yang lain untuk BERIMAN dan PATUH kepada-Nya.

Dan “fasilitas” yang Allah berikan kepada orang yang mau menempuh jalan ini sungguh luar biasa.... yaitu berupa DIIJABAHNYA DOA-DOA BESAR dan LUAR BIASA.

Orang yang beroleh fasilitas ini adalah mereka yang tidak hanya ingin BAIK SENDIRI, mau DEKAT SENDIRI dengan Allah, masuk surga dengan keluarganya sendiri, dengan temannya sendiri. Tetapi mereka adalah orang-orang YANG PEDULI untuk mengajak semua orang untuk menjadi BAIK. Mereka tidak egois, mereka ingin kebaikan ini memenuhi bumi. 

Dengan penuh dedikasi, mereka berjuang mengupayakan agar umat manusia mengenal, mencintai dan mengabdi pada Tuhan-Nya. Mereka berjuang menyadarkan manusia agar menemukan jalan sebenarnya, mereka berjuang agar manusia menemukan jawaban dan memenuhi titah mengapa mereka diciptakan.


Orang-orang yang menempuh jalan inilah yang sesungguhnya TERPILIH. Kumpulan orang-orang seperti inilah yang disukai Allah, yaitu berjuang menyebarkan kebaikan agar berkah dan rahmat-Nya tercurah dalam kehidupan umat manusia. Dan istilah perjuangan ini sebenarnya sudah amat kita kenal, tetapi sering kita abaikan... yaitu dakwah. Dakwah berarti mengajak, berarti peduli, yaitu mengajak orang lain dan sebanyak orang untuk baik (beriman, tunduk kepada Allah dan menyebarkan kebaikan).

Orang-orang yang “berdakwah” inilah yang sebenarnya mendapat fasilitas luar biasa berupa diijabahnya doa, yaitu doa-doa besar dan luar biasa. Dan ‘dakwah’ inilah yang menjadi BENANG MERAH dari segala dikabulkannya doa-doa para Nabi dan orang-orang shaleh.

Sehingga karena inilah.....
terasa kecil di hadapan Allah arti “kesucian” orang yang hanya memperhatikan dirinya sendiri,
terasa remeh nilai ibadah sendiri-sendiri,
terasa hina orang yang mengaku beriman tetapi asyik dengan kesenangan duniawinya,
terasa naif orang beriman yang hanya memikirkan kenyamanan anak-istri dan keluarganya.


Bacalah kembali Al-Quran!

Ingatlah bagaimana Rasulullah sangat berpesan, “Kalau engkau melihat kemungkaran, cegahlah dengan tanganmu. Kalau tidak mampu, dengan lisanmu. Kalau tidak mampu dengan keprihatinanmu.”
Ingatlah bagaimana pula Rasulullah di akhir hayatnya terus menyebut “umatku... umatku...”

Ini semua adalah PERINGATAN NYATA (bukan isyarat lagi) bahwa kita HARUS PEDULI!!

Kini mari kita baca kembali Al-Quran itu. Membacanya bukan hanya membunyikan huruf-hurufnya. Membacanya adalah menyelami makna dan menangkap pesan-pesan yang dikandungnya.

Bacalah rangkaian kisah-kisah perjuangan para pendakwah itu.
Bacalah bagaimana pengorbanan dan perjuangan yang mereka tempuh untuk kepentingan dan kebaikan sebenarnya bagi umat manusia.
Bacalah bagaimana tidak memperoleh tempat yaitu orang-orang egois yang hanya memikirkan diri dan kesenangannya sendiri.

Di sana kita akan sampai pada satu kesimpulan.....
“Hai Manusia, jadilah engkau orang yang baik, bersama itu pula ajaklah orang lain untuk menjadi baik. Jangan hanya baik untuk dirimu sendiri, dan apalagi jangan menjadi buruk”

“Baik” bagi Allah pasti adalah mengakui Allah, yang berarti beriman dan mengabdi kepada-Nya. Sebab inilah fakta pertama dan utama mengapa manusia diciptakan. Baik di sini bukanlah seperti dibayangkan kaum sosialis atau humanis... yang sekedar memperjuangkan kebaikan-kebaikan ‘kemanusiaan’ tapi tidak mengutamakan ‘Tuhan’ sebagai fakta yang maha penting (untuk dijelaskan, dipercaya dan dipatuhi).


Inilah mau Tuhan, maka Dia akan menuruti maumu ...
Mulai sekarang...
Berhentilah bermimpi seolah menjadi wali-wali Allah yang ‘dekat’ dengan Allah.. tetapi engkau enggan mengajak orang lain dekat dengan Allah..

Berhentilah bercita-cita menjadi orang suci, tetapi engkau acuh dan tidak peduli ketika kiri-kananmu yang terus berlumuran dosa dan nista...

Berhentilah membanggakan kepedulianmu pada keluargamu sebagai ibadah besar untuk ditukar dengan surga, sementara dirimu tidak seberapa prihatin akan keluarga-keluaga lain yang masih jauh dari mengenal dan menghargai Tuhan..

Hentikan sejenak dzikirmu itu... gantilah dengan “rasa prihatin” akan umat ini...
Jangan lagi menghitung-hitung keterkabulan doa, sebelum engkau mau mengerti apa mau Sang Pengabul Doa!!

“Ud’u.... ud’u....”
“Ajaklah... ajaklah...”
Perintah ini tertulis dalam Al-Quran berupa fi’il amr dalam bentuk mufrod yang berarti WAJIB AIN, tiap “individu wajib mengajak”... tiap individu wajib peduli umat ini.... tiap individu wajib berdakwah.

Para nabi, orang-orang shaleh, para da’i menempuh cara ini (dakwah)... sehingga kini kita menjadi umat yang beriman, dan hanya dengan cara ini pula kita mempertahankan agar umat mendatang tetap beriman...
Periode dakwah bukanlah sudah selesai ....
Tapi kita harus ikut memulai...
Dan tiada akhir untuk dakwah.

{ 1 komentar... read them below or add one }

  1. Derajat tertinggi manusia itu diduduki para Nabi/Rasul, mereka itulah dai, penyeru, pengajak, dan mereka itulah orang yang paling peduli pada tegaknya kalimat Allah...

    BalasHapus

- Copyright © ISB Corner -Imam Saiful Bahri- Powered by Blogger - Modified by ISB Corner -