Rabu, 18 Mei 2011

Tidak ada spesialisasi "agama"
Dunia modern mulai melangkah ke era spesialisasi. Banyak orang mengambil spesialisasi di banyak bidang, seperti bidang politik, sosial, budaya, ekonomi, keamanan, kesehatan, psikologi, konstruksi, lingkungan, teknologi dan sebagainya. 

Dan bahkan “agama” pun sudah masuk ke dalam salah satu spesialisasi ini. Ketika agama dimasukkan ke salah satu spesialisasi ini, apa yang terbersit di pikiran Anda? Mungkin kita berfikir: “Memang satu bidang khusus dan tidak semua orang menguasai bidang ini, sehingga pantas dispesialisasikan”.

Seandainya kita tahu, sesungguhnya agama (dalam arti Islam) bukanlah salah satu "pilihan" dari sekian spesialisasi. Setiap muslim berhak dan sekaligus wajib mengerti benar akan agamanya. Tidak setengah-setengah dan pemahamannya 'ala kadarnya' begitu, dengan dalih telah memiliki spesialisasi di bidang lain. Bagi muslim, memahami agama Islam dengan benar dan sebenar-benarnya merupakan suatu keharusan di samping memiliki spesialisasi di bidang lain. 

Merengkuh Islam tidak sekedar akidahnya, akhlaknya, syariahnya, adabnya, akan tetapi hendaknya menyeluruh. Sungguh, persiapan ke akhirat dengan modal agama ini tidak bisa dikesampingkan atau dinomorsekiankan. 

Silakan menjadi spesialis di bidang politik, ekonomi, budaya, kesehatan, konstruksi, pendidikan, psikologi, kesenian, militer, keamanan, dan apapun, tapi jangan pernah mengabaikan agama dan merelakannya "dikuasai" orang-orang tertentu. 

Dekatilah, kenalilah, pelajarilah, rengkuhlah, dan menyatulah ke dalamnya.... ke dalam dinul Islam. Dialah yang menjadi nafas kita, apapun spesialisasi kita. 

Semua muslim berhak menjadi imam
Itulah mengapa dalam agama Islam tidak dikenal istilah pendeta, tetapi imam, yaitu pemimpin jamaah sholat. Kedudukan imam dalam Islam tidaklah seistimewa pendeta dalam agama-agama lain. Imam hanyalah pemimpin prosesi sholat.

Imam tidak pernah dipandang sebagai "perantara" atau dinilai lebih dekat dengan Tuhan dibanding jama'ahnya. Imam dan jama'ahnya sama-sama memiliki peluang untuk lebih dekat dengan Allah, amat tergantung taqwanya. Dan untuk menjadi imam tidaklah sulit syaratnya, bahkan setiap muslim dalam berbagai keadaan harus siap menjadi imam.

Sudah saatnya kita semua, dengan waktu yang tersisa ini, untuk memantapkan hati menjadi "faqih" (mengerti sebenar-benarnya) akan agama Islam. Bila kita telah memantapkan hati, mendalami agama menjadi sangatlah mudah dan tidak sesulit yang dibayangkan.

Allah akan memudahkannya. Dan pengetahuan agama tidak lagi didominasi segolongan orang saja, tidak dimonopoli orang-orang yang kadang menyimpangkan agama dari yang sebenarnya. Mari belajar, belajar, dan belajar..... Allah akan memudahkan kita mempelajarinya dan memudahkan hidup kita... di dunia dan akhirat.

Seberapa pentingkah agama itu?
Sebagai seorang muslim, saya memandang agama adalah penting bahkan adalah YANG TERPENTING. Secara gamblang pentingnya agama itu dapat dijelaskan dengan logika sederhana antara lain sebagai berikut:

Pertama, agama menyadarkan orang bahwa Allah itu Maha Tahu sehingga segala gerak-gerik perbuatannya semakin terkontrol
Orang yang berhasil terdidik agamanya akan kuat imannya sehingga merasa selalu diawasi oleh Allah Yang Maha Tahu dan Maha Melihat, seluruh tingkah laku akan terkontrol bahkan niat dan fikirannya selalu terarah.

Kedua, selain sebagai kewajiban "akherat" agama mendorong orang menunaikan kewajiban-kewajiban duniawinya baik secara individu maupun sosial
Selain sisi ukhrowi (keakheratan), agama juga mendorong seseorang bertanggung jawab sebagai makhluk sosial, seperti perintah mencari nafkah bagi para suami, perintah mendidik anak bagi para orang tua, perintah berbakti pada orang tua bagi para anak, perintah berbuat baik pada tetangga dan lingkungannya.

Ketiga, motivasi berbuat baik orang beragama itu tidak terbatas
Motivasi orang beragama adalah kebahagiaan akherat. Motivasi “akherat” ini jauh melebihi segala jenis motivasi. Kebaikan yang diciptakan seseorang beragam jenis motivasinya: ada yang demi memperoleh harta, demi kemapanan hidup, demi nilai dan penilaian orang, demi kehormatan pribadi, demi kebaikan sosial, demi prinsip hidupnya, demi membela harga diri, demi cinta kasih sayang, demi membela bangsa negara serta komunitas, dan demi motivasi-motivasi lain . 

Tetapi dari segala jenis motivasi itu motivasi “akherat” yang diajarkan agama adalah yang terunggul.
Segala jenis motivasi “duniawi”, bisa menghentikan upaya kebaikan seseorang ketika motivasi itu diperolehnya. Tetapi motivasi “akherat” yang bisa memberikan hanya Allah, maka orang yang berbuat baik karena motivasi “akherat” tidak dapat diiming-imingi dan dihentikan.


Keempat, agama mengajarkan pedoman-pedoman yang tepat untuk menghadapi kompleksitas masalah hidup di dunia
Dalam dunia ini kita tidak hidup dalam dimensi individual tetapi juga sosial, tidak hanya dimensi material tetapi juga spiritual, tidak hanya dimensi alam nyata tapi juga alam ghaib, tidak hanya dimensi ‘kekinian dan masa depan’ tetapi juga ‘kesejarahan dan masa lalu’, serta berbagai dimensi yang terjalin begitu komplek dan berhubungan. 

Dan begitulah faktanya dunia. Dan kompleksitas masalah dunia ini dirangkum solusinya dalam paket ajaran yang sempurna oleh agama.


Karena pentingnya pendidikan agama inilah hingga Rasulullah SAW bersabda:

Barang siapa yang dikehendaki kebaikan (menjadi orang baik) oleh Allah, maka Allah akan memahamkan orang itu akan ilmu agama

Bahkan karena pentingnya pendidikan agama ini, di saat kaum muslimin dalam situasi perang, Allah tetap memerintahkan agar ada di antara mereka yang menuntuk ilmu dan pendidikan agama.

“Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.”  QS. At-Taubah 122


Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © ISB Corner -Imam Saiful Bahri- Powered by Blogger - Modified by ISB Corner -