Minggu, 01 Mei 2011


Ternyata Raja Arab Saudi, siapapun dia, merupakan buruh, buruhnya tanah suci Makkah dan Madinah.

“Arti” buruh
Habis lihat berita unjuk rasa “buruh” di hari Buruh Internasional awal Mei ini, saya jadi teringat dengan aneka macam ragam buruh.
Sekalipun yang dimaksud buruh di atas adalah buruh pabrik, sebenarnya kenyataannya banyak sekali orang-orang yang profesinya adalah buruh sekalipun tidak di pabrik. Saya tidak sedang membahas arti “buruh” sebagaimana ahli bahasa membahasnya. 

Entah apapun sebutannya.... buruh, pekerja, abdi, karyawan, pembantu, anak buah, pelayan, pegawai, atau maaf “jongos” atau yang paling ekstrim adalah “budak” atau “hamba” pada prinsipnya memiliki kesamaan, yaitu adalah bawahan yang memiliki atasan dan bisa disuruh-suruh atasannya. Hanya saja, masing-masing ada penempatannya sendiri-sendiri dan kadarnya sendiri-sendiri. Dan bahkan orang muslim dengan keislamannya berarti menempatkan diri sebagai hamba Allah atau abdi bagi Allah, dan selalu dalam posisi sanggup diperintah oleh Allah. 

“Macam-macam” buruh
Ternyata yang punya buruh atau abdi atau pembantu bukan hanya perusahaan, pabrik, negara, atau rumah tangga tetapi “Tanah Suci Mekkah dan Medinah” juga punya pembantu atau abdi. Kalau buruhnya rumah tangga itu namanya pembantu Rumah Tangga, buruhnya pabrik biasa disebut karyawan, kalau buruhnya negara disebut PNS, buruhnya perusahaan swasta biasa disebut pegawai swasta. Nah, kalau buruhnya Tanah Suci Mekkah dan Medinah disebut Abdi Dua Tanah Suci.

Raja Arab Saudi adalah “Buruh”?
Tahukah Anda? Siapakah yang menjadi Abdi dari Dua Tanah Suci itu? Abdi dari Dua Tanah Suci itu adalah orang yang termasuk terkaya di muka bumi ini, dialah Raja Arab Saudi. Jadi, Raja Arab Saudi selain sebagai “raja” bagi kerajaaanya juga merupakan sebagai “abdi”, yaitu abdi atau pelayan bagi 2 tanah suci yaitu Makkah dan Madinah. Sehingga siapapun yang menadi Raja Arab Saudi itu akan memiliki gelar “Khodimul Haramain” artinya Abdi dari Dua Tanah Suci (Makkah dan Madinah).

Kalau kekayaan negara Arab Saudi dikelola, dikuasai dan diabdikan pada Kerajaan, maka Kerajaan beserta sumber daya yang dimilikinya adalah untuk mengabdi/melayani Tanah Suci Makkah dan Madinah. Apapun yang menjadi kebutuhan dari 2 tanah suci itu, kerajaan berkomitmen untuk mencukupi dan mengutamakannya.

Makanya sekalipun Makkah dan Madinah masuk ke dalam teritorial Kerajaan Arab Saudi, keberadaan Raja Kerajaan Arab Saudi bukanlah sebagai “pemerintah” atas dua tanah suci itu, dan dua tanah suci itu tidaklah berada di bawah posisi Raja Arab Saudi. 

Tetapi sebaliknya, Makkah dan Medinah sebagai “dua raja” yang harus dilayani Raja Arab Saudi. Raja Arab Saudi mengambil posisi ini karena semua umat Islam tahu, Makkah dan Madinah bukanlah milik Arab Saudi, tetapi adalah milik Allah yang diamanatkan kepada seluruh umat Islam di dunia, dan dalam hal ini Raja Arab Saudi berada di garis terdepan dalam pelayanan terhadap kedua tanah suci itu.

Lantas, kalau Raja Arab Saudi tidak puas dengan “gaji” yang diterimanya? Kepada siapakah hendak unjuk rasa? Mengingat Dua Tanah Suci adalah milik Allah dan sebenarnya dalam penjagaan Allah, maka Allah-lah yang mencukupi “pembantu” dua tanah suci-Nya. Allah telah memberikan kerajaan beserta kemakmuran yang sedemikian rupa. Barangkali dengan pemberian Allah ini, Raja Arab Saudi cukup “nyadar” untuk tidak unjuk rasa. Hehehehe....

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © ISB Corner -Imam Saiful Bahri- Powered by Blogger - Modified by ISB Corner -