Minggu, 29 Mei 2011

Mengajarkan kosakata bahasa asing pada anak-anak tentunya berbeda dengan mengajarkannya pada remaja atau dewasa. Metode drill biasa dipakai di pondok-pondok pesantren bisa dipakai, tetapi akan membuat anak-anak usia 7-12 akan merasa penat dan kecapekan apalagi drill dilakukan lebih dari 10 menit. Siswa usia dini yang didril lebih 10 menit akan hilang konsentrasinya, dan akan mengalihkan perhatiannya pada hal lain seperti bermain, bicara sendiri, berjalan hingga berlarian di kelas. Karena banyaknya kosakata yang akan disampaikan ke siswa yaitu sekitar 20 hingga 30 kata, perlu dilakukan cara khusus untuk menyampaikan, yaitu cara yang membuat siswa tetap focus selama proses pengenalan kosakata ini berlangsung bahkan hingga 90 menit. Berikut ini mungkin bisa Anda coba!



Mendistribusikan kosakata
Puluhan kosakata tentu tidak mudah untuk dikuasai siswa. Salah satu metode yang bisa digunakan guru adalah “metode distribusi”, yaitu mendistribusikan secara merata beban menguasai kosakata ke seluruh siswa.
Misalnya ada 20 kosakata dan jumlah siswa ada 20 orang. Maka tiap 1 siswa dibebani 1 kosakata untuk dikuasai. (Kalau jumlah siswa hanya 10, tiap 1 siswa dibebani 2 kosakata. Kalau ada 40 siswa, 1 kosakata yang sama bisa diberikan pada 2 siswa, begitu seterusnya bisa disesuaikan).
Proses ‘penyerahan’ kosakata ke tiap siswa, haruslah disaksikan seluruh siswa tetapi arti dari kosakata itu hanya diketahui siswa yang diberi/dititipi. Guru menyebutkan kosakata itu dan ditirukan semua siswa. Pelafalan huruf, panjang-pendek harus benar-benar tepat. Dilafalkan cukup 2 atau 3 kali. Lalu kosakata itu diberikan ke salah satu siswa begitu seterusnya hingga semua siswa memperoleh kosakata.


Menerangkan arti kosakata
Apabila kosakata yang didistribusikan ini belum diketahui siswa, misalnya siswa tidak memegang buku paket. Maka arti dari kosakata ini perlu diterangkan. Caranya adalah  dengan menyebutkan kosakata dan ditirukan semua siswa. Lalu memanggil salah satu siswa dan menunjukkan gambarnya tanpa sepengetahuan siswa lain. Begitu seterusnya, hingga tiap siswa memperoleh kosakata berikut artinya yang berbeda satu sama lain. Tahap berikutnya adalah kegiatan “barter kosakata” antar siswa. Pada tahap ini akan terjadi “pasar dadakan” di kelas Anda, di mana siswa-siswa berlalu lalang berburu dan bertukar kosakata satu sama lain. Proses ini akan berlangsung sekitar 5-10 menit dan benar-benar membuat siswa aktif. Proses akan semakin lama tetapi hasilnya lebih baik, apabila siswa bisa mendeskripsikan benda dari kosakata yang dimilikinya dan siswa lain menebak-nebaknya. Misalnya Si A memiliki kosakata “sabburotun” yang berarti papan tulis. Maka ketika ada siswa lain yang menanyakan kosakatanya, si A menjelaskan seperti berikut: “Kosakataku “Sabburotun”, yaitu benda lebar… warnanya bisa hitam bisa putih… biasa dipajang di dinding depan kelas… digunakan guru untuk menulis… dst”. Setiap siswa menerangkan begitu seterusnya ketika setiap siswa lain menanyakan.


Menguasai kosakata
Setelah tiap siswa memperoleh kosakata, guru tidak lantas menyuruh siswa menghafal masing-masing kosakatanya itu, akan tetapi guru harus memfasilitasi siswa untuk menguasai kosakata yang dibebankan itu. Cara seperti ini mungkin bisa Anda coba:

Pertama, guru bisa menggambar (memasang gambar) seluruh kosakata di depan/papan tulis. Lalu, tiap-tiap siswa maju bergiliran/antri menyebut dengan suara keras sambil menunjukkan kosakatanya sendiri, begitu seterusnya, mereka bisa berputar bergiliran beberapa kali.

Ketika seorang siswa menyebutkan kosakatanya sendiri, sebenarnya sedang terjadi proses penguasaan kosakata oleh siswa lain sehingga pada akhirnya siswa bisa menyerap kosakata milik temannya.

Pada tahap berikutnya, siswa dilombakan agar menyebutkan kosakata milik temannya sebanyak yang dia mampu. Lama kelamaan seluruh kosakata bisa dikuasai tiap-tiap siswa. Dalam 2 -3 kali pertemuan, siswa akan mampu menghafal 20-30 kosakata.


Pengondisian siswa
Satu hal yang penting! Guru harus bisa mengkondisikan siswa, memotivasi dan menyemangati siswa mengikuti proses ini. Di SDMT Ponorogo, hal ini biasa dicoba dan proses ini merupakan bagian yang paling disukai siswa. Siswa yang tidak terkondisi, kurang antusias dan tidak semangat sangat menghambat penerapan metode ini.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © ISB Corner -Imam Saiful Bahri- Powered by Blogger - Modified by ISB Corner -