Sabtu, 14 Mei 2011

Setelah bertanya jawab tentang penyakit masing-masing, pasien ini lantas menghujani pasien di sampingnya itu dengan nasehat-nasehat, banyak sekali nasehat. Setelah capek memberi nasehat, ia baru bertanya: "Sampean iku kelahiran tahun berapa?"

"Lha, sampean sendiri kelahiran tahun.....?" tanya orang yang ditanya itu pada 'sang penasehat"
"Saya kelahiran 87, sampean seumuran paling sama saya" tebak sang penasehat.

Orang yang sedari tadi mengangguk-angguk saat 'hujan lebat' nasehat itu pun menjawab santai. "Angka tahun kelahiran kita kebalik"

"Maksudnya?" tanya sang penasehat.
"Kalau sampean 87, saya 78. Angkanya besar sampean, kok" jelas 'si pengangguk'

"Masa sih??!!" tanya sang penasehat seperti tak percaya.
"Ya betul, seingat saya tahun 87 itu (baca: waktu lahir sampean), saya duduk di kelas IV SD"

".......???!!!" sang penasehat itu bengong. Belum sempat ia meneruskan pembicaraan.

"Dah ya, ini giliran saya. Saya tak masuk dulu. Makasih atas nasehatnya, sampean baik banget." si tua yang 'basah kuyub' oleh hujan nasehat itupun melangkah meninggalkan sang penasehat. Dia tertawa-tawa kecil di hati, "Ya Allah... salah apa ya aku ini, atau... apakah ini menunjukkan betapa baiknya Engkau.... sehingga aku dinasehati sedemikian rupa itu... oleh anak muda ini"

"Sudahlah, unzhur maa qoola. Walaa tanzhur man qoola (lihat apa yang dibicarakan, jangan melihat siapa yang berbicara. Semuda apapun orang itu, kalau kata-katanya baik dan mengandung hikmah. Apa salahnya kalau kita dengarkan" tiba-tiba ke situlah dia berpikir dan menyimpulkan.


Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © ISB Corner -Imam Saiful Bahri- Powered by Blogger - Modified by ISB Corner -