Kamis, 19 Mei 2011

-->Kampung damai Darussalam Gontor......

Kungkungan "pagar disiplin" yang menurut kebanyakan orang layak disebut penjara, tapi bagi penghuninya terasa menjadi “dunia lain” yang luas tiada batas. Seolah “dunia baru” tercipta di lingkungan itu, mereka menamainya ‘mujtama’ shoghir’ (masyarakat kecil). Intensitas tinggal 24 jam per hari itu, membuat banyak tercipta komunitas-komunitas yang unik, yang ‘kekentalan’nya mengalahkan segala jenis komunitas yang pernah diciptakan pelajar/mahasiswa manapun. Keberagaman etnis dan budaya menciptakan paduan-paduan budaya-budaya baru yang unik dalam balutan nafas-nafas Islam. Di antara budaya yang tercipta ini adalah ungkapan-ungkapan ‘unik’ ala insan ma’had. Sekalipun bikin pusing bagian penggerak bahasa, temen-temen ma’had tetep rajin memasyarakatkan ungkapan-ungkapan ini. Temen-temen ‘khirij’ (alumni) mungkin tidak asing dengan ungkapan-ungkapan “pelampiasan” berikut ini:


Yahanu..
Yahanu termasuk salah satu bahasa Arab pasaran yang beredar di Gontor kala itu (tahun 1995-an), entah sekarang. Kalimat ini benar dari Arab atau bukan, yang jelas temen-temen ma’had (orang pondok) sering menggunakan untuk mencibir seseorang. Kurang lebih “yahanu” berarti ‘sok’....atau juga bisa diartikan “pura-pura” ....

Kalau “yahanu jiddan” untuk arti “sok banget sih”, kalau “yahanu tsiqoh” untuk arti “sok cakep!”, dst...


Suyu’
Suyu’ dalam bahasa Arab kalau tidak salah berarti komunis. Entah siapa yang memulai duluan ungkapan ini, yang jelas temen-temen ma’had sering memakainya untuk memaki temen atau orang yang dianggapnya kurang ajar atau ngeselin,”Ah, ente suyu’ jiddan!” dst....


Mudalla’ atau tamallak
Ungkapan ini biasa dipakai untuk ngomelin anak laki yang kemayu, cari perhatian atau genit. Dalam komunitas ribuan anak itu, tentu ada saja yang entah sengaja atau tidak yang suka berulah mudalla ini.


Qittun
Qittun artinya jelas kucing. Untuk sekedar memaki teman yang ngeselin-ngeselin gimana itu, cukup dilontarkan ungkapan ini, “Qittun, ente!”



Qurowiy

Qurowiy makna bahasanya adalah orang desa atau orang kampung. Kata-kata ini dipakai untuk mencibir temen-temen perilakunya yang dinilai ndeso, norak atau kampuangan. Ya, semisal nggak bisa mengoperasikan komputer gitu. Dulu pasti dikatain "Quraqiy jiddan ente" ...




Ghoiru – Kafin – Tsiqoh

Ghoiru kurang lebih berarti “tidak”, tetapi yang dimaksud anak ma’had artinya adalah “tidak cakep”. Sedangkan “kafin” berarti adalah “cukup”, tetapi yang dimaksudkan adalah “lumayan cakep”. Sedang ‘tsiqoh” berarti adalah cakep banget. Maklumlah, ‘masyarakat lelaki’ yang bertahun-tahun ‘tersensor’ dari pemandangan kaum hawa... ketika melihat selintas aja mereka langsung berkomentar... kalau dirasa cakep ya mereka akan bilang, “kafin laah....”. Sedangkan kalau kurang menarik mereka akan bilang, “ah, ghoiru!”. Dan kalau “bil-ijma’ (sekiranya secara aklamasi) dinilai cakep, mereka akan menyebutnya “wah, tsiqoh jiddan... “


Demikian di antara idiom-idiom ‘negatif’ yang pernah beredar di pondok, ketika saya belajar di sana. Masih banyak lagi yang lain. Temen-temen ma’had yang baca ini boleh menambahkan, sekedar nostalgia. Barangkali di ma’had sekarang sudah tidak berlaku, atau bergeser pengertiannya.....


gambar diambil dari http://migontor.files.wordpress.com/2008/04/hari-jumat-di-gontor.jpg

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © ISB Corner -Imam Saiful Bahri- Powered by Blogger - Modified by ISB Corner -