Senin, 02 Mei 2011


KESALAHAN PERTAMA: Kiamat bisa datang di tahun dekat-dekat ini

Koreksi: Dalam waktu  dekat-dekat ini/di tahun-tahun dekat ini seperti prediksi kiamat akan datang di tahun 2012 itu tidaklah benar. Dalam konsep Al-Quran, hari kiamat sebagai salah satu azab terbesar bagi umat manusia tidak akan datang selama masih ada orang di muka bumi yang beristighfar (memohon ampun) kepada Allah. Dan tentunya orang-orang yang beristighfar itu adalah orang-orang beriman. 

Di tahun-tahun ini, Insya Allah, orang-orang masih banyak komunitas orang beriman dan mereka banyak yang beristighfar kepada Allah. Mereka inilah, yang mencegah datangnya azab Allah. Dan semua proses ini sebenarnya sudah ditetapkan Allah kapan waktunya, yaitu sebelum kiamat datang, kaum beriman "dengan sistematis" akan diwafatkan terlebih dahulu, dan yang tersisa adalah kaum kafir lagi durhaka. Jadi, hari kiamat akan datang ketika muka bumi ini hanya dihuni oleh orang-orang kafir lagi durhaka.

Koreksi ini didasarkan kepada ayat :
Orang-orang yang tidak beriman kepada hari kiamat meminta supaya hari itu segera didatangkan dan orang-orang yang beriman merasa takut kepadanya dan mereka yakin bahwa kiamat itu adalah benar (akan terjadi). Ketahuilah bahwa sesungguhnya orang-orang yang membantah tentang terjadinya kiamat itu benar-benar dalam kesesatan yang jauh. (QS. Asy Syuura: 18)

Ketika mereka melihat azab (pada hari kiamat) sudah dekat, muka orang-orang kafir itu menjadi muram. Dan dikatakan (kepada mereka) inilah (azab) yang dahulunya kamu selalu meminta-mintanya. (QS. Al Mulk 27)
Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun. (QS. Al Anfaal 33)







KESALAHAN KEDUA: Mesin waktu itu mungkin ditemukan dan diciptakan 
Koreksi: Seandainya mesin waktu dapat ditemukan dan diciptakan sehingga manusia bisa menjelalah ke masa-masa yang akan datang (di tahun-tahun mendatang) sesuai keinginannya lalu kembali lagi ke masanya, berarti manusia “dapat mengetahui dengan pasti peristiwa esok yang belum terjadi”. Padahal menurut Al-Quran manusia tidak akan pernah tahu dengan pasti apa yang terjadi esok. Dan hanya Allahlah yang memiliki pengetahuan tentang waktu. Pandangan ayat ini mungkin memupuskan harapan orang untuk menemukan/menciptakan mesin waktu. Tapi manusia tidak dilarang berupaya menciptakan mesin waktu, Silakan saja, sia-siakah usahanya? Berhasil-gagalnya kita lihat saja nanti.
                          
Koreksi ini didasarkan kepada ayat :
Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Luqman 34)





KESALAHAN KETIGA: Orang mati dapat melihat orang hidup
Koreksi
: Ketika peristiwa kematian datang pada seseorang, banyak orang yang menyatakan bahwa orang yang meninggal itu bisa menyaksikan mereka yang masih hidup, hanya dari alam yang berbeda. Kemampuan orang yang sudah meninggal untuk “menyaksikan” orang yang hidup ini tidaklah benar menurut Al-Quran, sebab begitu orang itu meninggal dunia mereka memasuki alam baru antara dunia dan akherat yang bernama alam barzah. Antara alam barzah dan alam dunia terdapat “dinding” yang tidak mungkin bisa ditembus oleh orang yang mati atau hidup untuk saling menyaksikan.

Koreksi ini didasarkan kepada ayat:
(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: "Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia). Agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan. (QS. Al-Mu’minun 99-100)







KESALAHAN KEEMPAT: Suara terbanyak itu benar, dan suara rakyat adalah suara Tuhan
Koreksi: Kebanyakan negara-negara di dunia menganut paham demokrasi yang berarti kedaulatan di tangan rakyat. Artinya ke mana negara itu dibawa amat tergantung pada keputusan rakyatnya, tentunya sebagian besar dari rakyat dan tidak mungkin seluruh rakyat secara bulat. Dan paham ini meyakini bahwa kebenaran itu relatif, kebenaran yang benar-benar datang dari Tuhan tidak bisa lagi ditentukan dan diwakili oleh siapapun apalagi agama amat beragam. Sehingga untuk lebih mendekatkan diri pada kebenaran, suara terbanyak rakyatlah yang dijadikan pedoman. Rakyat sudah dianggap dewasa dan tahu konsekuensi dari segala keputusannya. Sungguh nasib manusia banyak diserahkan pada ‘gambling’ dan ‘spekulasi’. Dalam masyarakat Islam, penyerahan keputusan kepada suara terbanyak amat dihindari, karena kebanyakan manusia itu cenderung mengikuti hawa nafsunya bukan memilih sesuatu untuk kebaikannya. Keputusan haruslah dilakukan melalui musyawarah di antara orang-orang ahli dan amanah.

Koreksi ini didasarkan kepada ayat:
Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah) (QS. Al An'aam 116)

Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat dan Injil dan (Al Quran) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas dan dari bawah kaki mereka]. Diantara mereka ada golongan yang pertengahan. Dan alangkah buruknya apa yang dikerjakan oleh kebanyakan mereka. (QS. Al Maa'idah 66)




KESALAHAN KELIMA : Amal biar yang sedikit yang penting ikhlash
Koreksi: Kalimat ini sebenarnya pada awalnya dinyatakan sebagai bentuk kritik kepada orang yang banyak beramal tapi tendensius, penuh pamrih dan tidak ikhlash. Akan tetapi, kalimat “biar sedikit yang penting ikhlash” ini jadi perisai bagi orang-orang yang enggan beramal, toh seandainya mau beramal maka tidak seberapa nilainya. Ketika mereka dituntut untuk beramal lebih, mereka mengucapakan kalimat ini “buat apa amal banyak tapi tidak ikhlash, biar sedikit yang penting ikhlash”. Amal banyak tapi tidak ikhlash itu jelas tidak diterima Allah, begitu juga amal yang tidak seberapa nilainya juga tidak dipandang Allah. Karena beramal sesuatu yang tidak ada nilai pengorbanannya (amal dari sisa-sisa), sama saja mempersembahkan sesuatu yang tidak ada.

Koreksi ini didasarkan kepada ayat :
Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. (QS. Ali 'Imran 92)



KESALAHAN KEENAM: Amal itu harus sembunyi-sembunyi,  dan tidak terang-terangan. Sebab amal dengan terang-terangan itu kurang baik (tidak ikhlash).
Koreksi: Amal yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi itu memang lebih baik daripada amal yang dilakukan secara terang-terangan, karena amal yang terang-terangan cenderung mengundang niat yang tidak ikhlash dari orang yang beramal. Tetapi sebenarnya baik sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan dalam beramal, sama-sama ada godaannya masing-masing. Orang yang beramal terang-terangan beramal godaannya adalah hati yang “riya” (pamer) yaitu beramal agar dipuji orang banyak. Sedangkan beramal sembunyi-sembunyi godaannya adalah hati yang “ujub” (memuji diri sendiri), yaitu diam-diam menilai diri sendiri adalah orang yang baik atau lebih baik dari orang lain. Jadi, yang penting dari beramal adalah mengikhlaskan niat, seandainya terang-terangan tetap diniatkan ikhlash dan harapan bisa dicontoh oleh orang lain.

Koreksi ini didasarkan kepada ayat :
Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Baqarah 271)




KESALAHAN KETUJUH: Dalam beramal yang penting ikhlash dan tidak usah pilih-pilih, karena Allah tahu niat kita
Koreksi: Allah Maha Tahu keiklashan hamba-Nya dalam beramal. Tetapi Allah juga mengajarkan kita untuk pandai-pandai beramal. Sama-sama memberi makan tetapi kalau diberikan kepada orang yang berbeda tentu akan berbeda nilainya, maksudnya memberi makan orang miskin yang lapar tentu lebih bernilai dibanding memberi makan orang kaya dalam sebuah acara senang-senang. Menginfaqkan harta yang bisa dimanfaatkan dalam jangka waktu yang lama, tentu lebih bernilai dibandingkan harta yang kemanfaatannya berlaku dalam jangka waktu pendek (sekalipun besar infaqnya sama). Untuk itulah Allah mengajarkan bahwa orang yang beramal baik, akan dibalas sepuluh kali lipat. Sedangkan orang yang berinfaq di jalan Allah (di atas kebaikan biasa) dengan cara yang cerdas, infaqnya akan mendatangkan pahala yang berlipat ganda hingga beratus-ratus kali lipat. Jadi, selain ikhlash pandai-pandailah kita beramal.

Koreksi ini didasarkan kepada ayat :
Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan). (Al An'aam 160)

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Al Baqarah 261)


Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © ISB Corner -Imam Saiful Bahri- Powered by Blogger - Modified by ISB Corner -