Rabu, 27 April 2011

Suatu komunitas dari yang kecil semisal keluarga hingga yang besar sekaliber negara atau organisasi antar negara, voting (pengambilan suara terbanyak) sering dan hampir dijadikan cara utama menetapkan keputusan. Cara ini memang dinilai adil bagi para anggota yang terlibat di dalamnya. Memang, pada intinya "keputusan" itu diambil untuk kepentingan dan keuntungan yang mengambil keputusan. Kalau ada perbedaan dan perselisihan pendapat, tentu yang didahulukan adalah yang terbanyak atau keinginan yang terbanyak. 

Apakah "suara terbanyak" mencerminkan keinginan pihak yang terbanyak?
Jawabannya adalah Ya.

Tapi apakah "suara terbanyak" itu pasti benar?
Jawabannya adalah:
"Suara terbanyak" itu bisa benar dan bisa salah.


Bagaimana suara terbanyak itu bisa benar dan bisa salah?
Contohnya begini, masyarakat suatu kampung di sebuah pantai ingin mencari solusi agar kampung mereka terbebas dari tsunami.

Dalam musyawarah kampung itu ada yang berpendapat agar mereka membangun sistem peringatan dini tsunami, tetapi sebagian besar warga mengusulkan agar rumah-rumah mereka dibangun dengan pondasi yang tinggi atau membangun rumah-rumah panggung saja.

Setelah musyawarah tidak mencapai mufakat, maka cara voting pun diambil. "Suara terbanyak" akhirnya memutuskan untuk membangun rumah-rumah panggung atau meninggikan pondasi, sehingga tsunami tidak menenggelamkan rumah-rumah dan mereka tetap bisa berlindung di ruma-rumah mereka.

Suatu ketika tsunami yang sangat dahsyat itu datang dan menyapu bersih perkampungan itu!!
Beginilah.... "suara terbanyak" tidak menjamin sama sekali dapat membuahkan "kebenaran".

Dalam banyak kasus:
Kalau kebanyakan warganya pemabuk, tentu mereka akan memilih pemimpin yang mau mabuk atau setidaknya akan mengizinkan mereka mabuk. Begitu seterusnya.

Terus bagaimanakah kebenaran diperoleh?
Kebenaran itu diperoleh tentu dengan ilmu pengetahuan. Siapa yang lebih berilmu, tentu lebih mungkin mengarahkan pada kebenaran, tidak peduli apakah orang yang berilmu itu jumlahnya lebih sedikit . Jadi untuk "lebih" mendekatkan kita pada keputusan yang benar, sebaiknya suatu keputusan itu diserahkan kepada yang lebih berilmu, tidak peduli apakah pihak yang terbanyak itu suka atau tidak suka,

Hanya masalahnya, orang berilmu itu tidak ada yang sempurna. Hampir semua bidang ada orang berilmunya, dan hampir semua orang berilmu terbatas bidang keilmuannya. Jadi tingkat keberilmuan seseorang itu sungguh amat terbatas.

Dalam sistem ajaran agama Islam, agar pengambilan keputusan lebih dekat kepada kebenaran disyariatkan "musyawarah". Musyawarah adalah ajang berbagi ilmu sehingga ditemukan keputusan yang terbaik berdasarkan usulan-usulan orang yang berilmu.

Dan agama Islam sangat menganjurkan agar tidak mudah-mudahnya menjadikan "voting" atau "suara terbanyak" itu sebagai jalan pengambilan keputusan. 

Bahkan, "suara terbanyak" itu diharamkan digunakan kalau hanya untuk menentang apa yang telah ditetapkan oleh tuntunan agama (Al-Quran dan Sunnah). Semisal, menetapkan hukum dengan "suara terbanyak" agar membolehkan judi dan perzinahan.
Orang yang tidak berilmu atau lemah imannya, sangat sulit membedakan apa yang sesungguhnya "terbaik" bagi mereka dan apa yang hanya "menyenangkan" saja bagi mereka.
Apabila kebanyakan pemberi suara itu sedikit pengetahuan agama/lemah imannya, mereka tentu akan menyepakati hal itu.

Orang yang tidak berilmu atau lemah imannya, sangat sulit membedakan apa yang sesungguhnya "terbaik" bagi mereka dan apa yang hanya "menyenangkan" saja bagi mereka. Keputusan dengan suara terbanyak seperti inilah yang telah diwanti-wanti dalam Al-Quran untuk dijauhi. Dalam QS Al-An'aam 116 dijelaskan:
Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)

Kesimpulannya: 
Musyawarah haruslah diutamakan. Kalau ada pendapat yang mendekati kebenaran atau tuntunan agama Islam, supaya pendapat itulah yang diambil, sekalipun yang lebih banyak tidak setuju.

Seandainya harus menggunakan voting (pemungutan suara terbanyak), hendaknya "opsi" yang dipilih dalam voting itu tidak ada yang melanggar tuntutan yang ditetapkan ajaran agama Islam. 

Lantas bagaimana kalau dalam masyarakat yang beragam? Tuntunan apa yang dianut?
Tentu yang dianut bukan salah satu dari agama atau kelompok yang ada di komunitas itu, tetapi tuntunan yang dianut adalah nilai-nilai universal yang disepakati, seperti nilai keadilan, hak asasi manusia, kebebasan dan kemerdekaan manusia, kesamaan derajat-hak-kewajiban manusia, nilai kemanusiaan, dst.

Bagaimanakah dunia saat ini?
Memang ada nilai-nilai universal yang bisa disepakati, tetapi nilai-nilai inipun masih memiliki tafsir-tafsir yang berbeda-beda dari tiap komunitas di bumi. Contohnya arti "kebebasan" bagi satu komunitas adalah begini, tapi bagi komunitas lain adalah begitu. Perbedaan yang terus berkembang inilah yang  pada akhirnya mendorong manusia menempuh jalan pengambilan suara terbanyak.

Agama Islam menganjurkan dengan keras "asas musyawarah", namun.... dunia dengan kompleksitas penduduk dan keberagaman itulah telah menjadikan "suara terbanyak" sebagai cara "ideal" menetapkan keputusan. Dan sistem yang yang menuhankan "suara terbanyak" sebagai jalan menuju kebenaran adalah bernama demokrasi.

Kalau kita sudah "menjatuhkan diri" ke dalam demokrasi, dan menyerahkan nasib kita pada "suara kebanyakan orang".... banyak-banyaklah berharap agar orang-orang di negeri kita ini mayoritas adalah baik dan menjadi baik. Banyak-banyaklah berharap, orang-orang di DPR itu baik dan memutuskan yang baik.

Dengan "contreng" Anda di Pemilu, Anda telah memberikan cek kosong pada para anggota dewan itu, Anda tidak pernah tahu apakah yang mereka putuskan itu demi kebaikan Anda, hanya demi kesenangan pribadi mereka atau bahkan memperpuruk nasib Anda!!


Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © ISB Corner -Imam Saiful Bahri- Powered by Blogger - Modified by ISB Corner -