Minggu, 17 April 2011


Tabloid yang tergabung dalam MNC Grup pada edisi ke-18-nya (11 – 24 April) ini, mencatut sedikit artikel-ku tentang pornografi (hal. 20). Ya tentunya dalam rangka memberikan ‘warning’ bagi para ibu-ibu sebagai segmen utamanya, agar putra-putrinya bisa dihindarkan dari pengaruh negatif pornografi. 
Prinsip mengenai pornografi perlu dihindarkan dari kehidupan masyarakat, saya setuju. Tetapi barangkali sejauh mana standar pornografi (kapan suatu tampilan bisa dikatakan pornografi atau tidak) belum ditemui satu kata sepakat.

Pro dan Kontra
Pornografi!
Saat bicara pornografi aku teringat dengan masa-masa pro-kontra RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi dulu. Untung sekarang sudah disahkan, sekalipun masih banyak yang kurang setuju.
Apalagi standar di mana suatu gambar/tontonan itu bisa dikatakan pornografi, dan kapan suatu aksi/pertunjukan itu bisa dikatakan pornoaksi, belum disepakati benar...

Bahkan sementara pihak ada yang tidak setuju sama sekali adanya RUU ini. Menurut mereka, pornografi sama sekali bukan pemicu dan tidak terkait dengan terjadinya tindak kekerasan seksual, pemerkosaan, phedophilia dan seterusnya... Justru pornografi bagi mereka merupakan suatu saluran yang bisa mengurangi timbulnya kekerasan seksual. Maaf, astaghfirullah....


Standar Pornografi
Pertama. Tentang standar pornografi, semua sepakat bahwa film-film porno, foto-foto adegan porno, maupun cerita-cerita porno adalah tergolong pornografi.

Kedua. Sedangkan apakah berpakaian minim dan ketat, foto bugil yang artistik, goyangan-goyangan erotis yang etnistik, juga pose-pose seksi dan eksotik... termasuk pornografi-aksi ataukah tidak? Kalangan umumnya masyarakat (apakah mayoritas atau tidak) mengatakan itu bukan termasuk pornografi, sementara orang-orang religius (baca: kaum muslimin) yang konsent dan taat pada ajaran agama menyatakan itu sudah termasuk pornografi.

Anda masih ingat, bagaimana dahsyatnya pro-kontra masyarakat akan “goyang ngebor” Inul Daratista di tahun 2003-an lalu? Kira-kira pro kontra tentang “standar pornografi” inipun nggak jauh beda dari itu, orang-orangnya dan argumen-argumennya...
RUU pun itu kini disahkan menjadi UU dan mungkin mengakomodasi perbedaan pendapat di atas.

Komentar
Komentar ini semata-mata saya dasarkan pada pengetahuan saya akan agama Islam baik naqly (dalil tertulis) maupun aqly (dalil logika). Mungkin ada pihak yang lebih tahu, silakan menambahi atau membetulkan.

Apakah pornografi bisa menjadi penyaluran?
Dalam wacana ini, ada jawaban yang cukup jelas bahwa penyaluran hawa nafsu yang berlebihan bukannya bisa mengontrol hawa nafsu itu, tetapi justru bisa membuatnya semakin tidak menjadi-jadi, takkan pernah puas, ketagihan, dan kecanduan. Dan yang menjadi korban adalah rusaknya badan dan jiwa orang yang bersangkutan. Pepatah bijak Arab mengatakan:
Hawa nafsu itu bagaikan anak kecil yang sedang menyusui. Jika engkau membiarkannya (tidak menyapihnya) maka ia akan terus menyusui hingga besar (ketergantungan). Tapi bila kamu mau menyapihnya, maka tersapihlah juga ia.
Inilah yang terjadi pada orang-orang yang ketergantungan pornografi, seks dan narkoba, orang-orang yang gila harta, gila pangkat, dan kegilaan pada dunia.. Semakin dituruti semakin menjadi-jadi, dan tidak akan terpuaskan. Bagaikan orang haus yang minum air laut yang asin, semakin diminum semakin haus, dan bila itu keterusan, bukannya hausnya yang hilang tapi tubuhnya yang rusak, karena tidak sanggup menampung banyaknya air laut yang tidak pernah memuaskan itu.

Karenanyalah, agama Islam memberikan ajaran ‘tawassuth’ (pertengahan) dan mengecam ‘ghuluw’ (berlebihan). Hawa nafsu manusia adalah fitrah yang diberikan Tuhan pada manusia agar manusia bisa bertahan hidup, meneruskan hidup dan meneruskan keturunannya dan bukan untuk kesenangan-kesenangan yang berlebihan.

Karenanyalah agama Islam menetapkan syariat “nikah” sebagai sarana saluran tersebut, mengharamkan zina, homoseksual, dan berbagai praktek hubungan seksual yang menyimpang.
Dalam urusan hubungan seksual saja, diatur sedemikian rupa seperti diperbolehkannya berbagai posisi tetapi diharamkan memasuki daerah belakang (dubur), dianjurkan foreplay (pemanasan) tapi disarankan tidak banyak melihat aurat, dst..

Apakah ‘pakaian minim’ itu pornografi dan mengundang syahwat ataukah tidak?
Sesuai tuntunan agama Islam,  aurat lelaki yang harus ditutup setidaknya antara pusar hingga lutut kaki. Sedangkan aurat wanita adalah seluruh tubuh kecuali muka dan kedua pergelangan tangan.
Banyak sekali wanita yang menggunakan jilbab dan menutup auratnya, tetapi masih ketat, bagaimana? Jawabannya saya rasa cukup jelas seperti dijelaskan seorang Ustadz di sebuah televisi swasta sebagai berikut: “Agama Islam memerintahkan menutup aurat bukan membungkus aurat”
Artinya pakaian ketat dalam berbagai ayat dan dalil, termasuk kategori membuka aurat.

Banyak artis perempuan berkomentar:”Kalau ada laki-laki yang nafsu sama cewek berpakaian seksi. Bukan ceweknya yang salah, emang laki-laki itu saja yang pikirannya jorok.”

Untung saja yang komentar itu perempuan, karena dia bukan laki-laki dan tidak bisa merasakan bagaimana menjadi laki-laki. Kalau yang berkomentar itu laki-laki, mungkin laki-laki itu ‘kurang normal’, atau sudah ‘sangat kebal’ terhadap pornografi.

Jujur dan terus terang!

Saya pribadi dan umumnya laki-laki
Saya pribadi, sebagai laki-laki normal kalau melihat wanita menarik yang berpakaian minim, ketat dan seksi secara spontan ada dorongan fikiran ‘nakal’ sekalipun amat kecil. Bahkan, sekalipun itu hanya berupa lekukan pinggang.... atau tonjolan paha...
Untuk menghindarinya, saya berusaha mengalihkan pandangan. Mungkin laki-laki pada umumnya, seperti saya ini. Daripada kepikiran yang nggak-nggak mending cari amannya. Segera beralih dan konsen ke urusan yang lain.

Laki-laki “nakal”
Kalau ini terjadi pada laki-laki yang “masa bodoh” dengan ‘fikiran nakal’nya, tentu ‘wanita-wanita seksi’ itu sudah ‘dilahap’nya dalam alam fikirannya. Dan sepertinya ini terjadi banyak laki-laki...
Pernah lihat berita pelecehan seksual di halte Bis Trans Jakarta, di mana seorang laki-laki sampai mengeluarkan sperma hanya karena melihat cewek seksi? 

Jadi kalau ada wanita yang ‘kekeh’ dan bangga berpakaian seksi di depan umum dan bahkan media, bersiap-siap sajalah untuk ‘dilahap habis’ dalam alam fikiran lelaki-lelaki nakal ini. Atau sadarilah bahwa sudah ‘dilahap’ oleh mereka. Maaf, tidak terkecuali laki-laki itu adalah saudaranya sendiri, anaknya sendiri, atau bawahannya sendiri....
Wahai perempuan.... Anda siap??
Kalau Anda sudah siap, jangan-jangan ada yang “tidak beres” dalam jiwa Anda...
Ada satu ‘hal yang tidak Anda inginkan’ dalam hati Anda, tapi tetap tidak Anda pedulikan.....

Terus terang saya belum melakukan survey, tetapi bagi Anda yang tidak percaya, silakan melakukan survey... buat sample yang sebanyak-banyaknya hingga Anda yakin.

Cari amannya sajalah...
Wahai perempuan.... baik muslimah atau bukan...
Jujur, mode pakaian saat ini hampir semua bisa dikategorikan ‘seksi’ seperti di atas. Hampir seluruhnya mengundang ‘reaksi fikiran nakal para lelaki nakal bahkan normal’..
Kalau Anda tidak mau menjadi obyek ‘fikiran nakal’ lelaki itu, akan lebih baik bila Anda memakai busana yang rapi, tidak usah terlalu ketatlah....  terutama yang menonjol sisi-sisi keperempuannya...
tidak dapat gelar “seksi” nggak apa-apalah....
masih ada gelar lain yang bisa Anda capai, seperti “anggun” dan sebagainya.

Kalau laki-lakinya mau menahan diri dari fikiran-fikiran jorok, alangkah baiknya jika para perempuannya juga mendukung itu. Insyaallah nggak ada ruginya, bahkan banyak manfaatnya..



Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © ISB Corner -Imam Saiful Bahri- Powered by Blogger - Modified by ISB Corner -