Selasa, 05 April 2011

Kita sudah mengetahui perilaku yang jelas-jelas negative dan bertentangan dengan nilai-nilai yang dianut manusia secara universal, seperti membunuh, minuman keras, korupsi, permusuhan dan sebagainya. Akan tetapi, sesungguhnya banyak sekali perilaku dan gaya hidup syetan yang secara halus sering kita kerjakan bahkan telah menjadi prinsip-prinsip hidup kita.

Syetan bisa berasal dari golongan jin tapi juga bisa dari golongan manusia (An-Naas 6). Syetan masa kini banyak hadir dalam bentuk pemikiran-pemikiran, pola pikir, faham-faham, prinsip-prinsip yang sekilas nampak maju, modern dan berperadaban yang terkadang kita tidak menyadarinya.
Untuk itu perlu kita cermati apakah selama ini kita sudah terjebak ke dalam pola pikir-sikap-hidup ala syetan itu? Berikut ini adalah di antara trik-trik syetan.

TRIK PERTAMA: Syetan Mengajarkan Sikap Berlebihan atau Berkekurangan (Sikap ekstrim)
Alquran mengarjakan umat Islam sikap pertengahan, tidak berlebihan dan tidak menafikan. Sedangkan syetan mengajarkan perbuatan berlebihan padahal Allah sangat tidak menyukai hal itu (Al-An’am 141; Al-A’raf 31).

Contoh dalam hal membelanjakan harta
Di satu sisi banyak orang terjerumus kepada perilaku bakhil (kikir), enggan membelanjakan hartanya untuk infaq, zakat, shadaqoh dan amal lainnya, bahkan terkadang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri saja kikir.

Di sisi lain, banyak orang berperilaku sebaliknya, yaitu sangat boros dalam membelanjakan hartanya, bahkan seringkali harta itu dibelanjakan bukan untuk memenuhi kebutuhan dan beramal, akan tetapi hanya untuk kesenangan dan barang yang sia-sia.

Sedangkan Islam mengajarkan agar hidup hemat (iqtishod) dan membelanjakan harta tidak lain kecuali untuk memenuhi kebutuhan dan beramal (zakat, infaq, shadaqah, menafkahi keluarga dan sebagainya). Islam sangat membenci sifat bakhil atau kikir (Ali Imron 180) dan lawannya yaitu sifat tabdzir atau boros (Al-Isra’ 26-27; An-Nisa 37)

Contoh dalam hal hubungan seksual
Di satu sisi banyak agama mengajarkan hidup suci ala pendeta dengan menafikan kebutuhan dasar biologis manusia (hidup membujang dan tinggal di biara-biara jauh dari keramaian dunia).
Di sisi lain, masyarakat modern memburu kesenangan biologis tanpa mengindahkan lagi makna kesucian (dengan mempraktekan seks bebas yang hanya didasari rasa suka sama suka).

Sedangkan agama Islam, mengajarkan agar kebutuhan biologis haruslah tetap dipenuhi, tetapi harus tetap menjaga kesucian dengan bingkai lembaga pernikahan. Di mana hak, kewajiban dan tanggung jawab dapat disalurkan secara proporsional. Islam membenci perilaku zina (Al-Isra’:17) dan juga membenci perilaku membujang (Rasulullah bersabda: Nikah itu adalah sunnahku, barangsiapa yang tidak menyukai sunnahku berarti bukan dari golonganku).
Seorang alim, Machlad bin Husain berkata:
Allah tidak memerintah hambaNya kepada sesuatu melainkan dirintangi Iblis dengan 2 perkara. Ia tidak peduli mana yang dimenangkannya, yaitu terkadang disuruh berlebihan atau terkadang disuruh mengurangkan.”

TRIK KEDUA: Syetan Mengajarkan Budaya Jalan Pintas
Dalam mencapai tujuan hidupnya, manusia banyak menggunakan berbagai macam cara. Ada yang melalui proses dan bersabar melewati tahap-tahap yang baik dan benar. Akan tetapi tidak sedikit orang menempuh jalan pintas agar tercapai tujuannya. Demikianlah syetan mengajarkan budaya jalan pintas kepada manusia. Rasulullah SAW bersabda: Tergesa-gesa (suka menempuh jalan pintas) itu adalah bagian dari perilaku syetan.

Untuk meraih kekayaan yang berlimpah, orang sering menempuh jalan pintas seperti mencuri, merampok, korupsi, menjadi rentenir, menipu, perdukunan/pesugihan dan sebagainya. Untuk mencapai kedudukan dan kekuasaan orang suka menempuh jalan pintas dengan menebarkan janji-janji palsu kepada rakyat, money politic, black campaign, memfitnah rival politik dan sebagainya.

Agar lamaran diterima orang nekad menggunakan sihir dukun/pengasihan, pemaksaan, dan sebagainya. Padahal Allah mengajarkan kita bersabar dalam menjalani hidup dan tidak mudah tergoda oleh perhiasan dunia yang mendorong melakukan perbuatan yang terlarang (Al-Kahfi 28).


TRIK KETIGA: Syetan Mengemas Indah Perbuatan yang Buruk
Di tahun 1990-an kita masih bisa menyaksikan bagaimana judi dilegalkan dan dihalalkan secara nasional. SDSB, Sumbangan Dana Sosial Berhadiah, begitulah namanya dikemas indah. Dengan dalih sebagai sumbangan untuk mengembangkan olahraga nasional, tetapi substansinya jelas judi yang haram hukumnya karena hanya membuai masyarakat dengan harapan dan kemalasan serta meramaikan dunia perdukunan. Inilah salah satu cara syetan mengemas indah sesuatu yang buruk.

Banyak contoh lain, kemasan-kemasan indah syetan sehingga sesuatu yang haram nampak halal, yang buruk nampak bagus. Seperti haramnya praktek riba’ dalam dunia perbankan yang dikemas dengan nama ‘bunga’ sehingga nampak begitu apik, fair dan dipandang sebagai suatu yang halal oleh sebagian kaum muslimin.

Juga slogan “demokrasi” demikian didengung-dengungkan bahkan dijadikan landasan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kata demokrasi yang berarti kekuasaan di tangan rakyat, merupakan sesuatu yang terdengar indah dan benar, akan tetapi sesungguhnya merupakan faham yang tak ubahnya bagai pisau bermata dua. Kekuasaan di tangan rakyat, artinya kalau mayoritas rakyatnya baik maka pemerintah yang dipilih adalah pemerintah baik, tetapi kalau mayoritas masyarakatnya buruk maka buruklah pemerintah yang dipilih.

Suara terbanyak jadi sandaran, padahal belum tentu itu benar dan bahkan bisa menyesatkan. Dengan sangat jelas Allah berfirman: “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (Al-An’aam 116).

Sudah terbukti bagaimana banyak pemimpin daerah bahkan di pusat yang terpilih (melalui pemilihan umum) padahal tidak kredibel dan tidak kompeten. Dan pemilihan umum tidak lain adalah produk dari demokrasi.

Padahal Islam mengajarkan ‘musyawarah’, di mana keputusan diambil berdasarkan argument-argumen akal sehat, bukan semata-mata banyaknya pendukung, dan pemilihan pemimpin tidak dilakukan secara massal oleh orang awam yang seringkali tidak mempertimbangkan kompetensi, integritas moral dan agama calon-calon pemimpinnya.

Begitulah syetan senantiasa mengemas perbuatan yang buruk sehingga nampak indah seolah-olah keburukan itu penuh manfaat, padahal mendatangkan madharot dan menyesatkan manusia dari jalan Allah (An-Naml 24; Al A’raf 20).

Cobaan terberat kaum muslimin di era sekarang ini sebenarnya adalah pergeseran sudut pandang dan pola pikir. Sudut pandang dan pola pikir yang tidak dibangun pada pondasi Islam (keimanan, dll) akan sangat rentan membuat kaum muslimin memandang negatif pada agamanya sendiri.

Kalau ada orang yang mengkritisi atau tidak menerima konsep-konsep Islam maka sesungguhnya yang salah bukanlah konsep Islam itu, tapi adalah kesalahan sudut pandang dari orang itu.

Mungkin tema-tema ini mengingatkan kita, apakah kita termasuk orang-orang yang suka mengkritisi konsep Islam: tema khilafah, dibolehkannya poligami, pembagian waris pria dan wanita berbeda, nilai kesaksian pria dan wanita yang berbeda, wanita sebagai pemimpin, kewajiban berperang, menikahi anak yang di bumur, dan banyak lagi.

Pemikiran modern atau yang kita anggap modern sedikit banyak telah menggeser cara kita memandang konsep Islam. Orang-orang modern telalu berekspetasi akan dunia yang indah damai tanpa perang dan mengkritisi 'ajaran perang' dalam Islam, tapi mereka lupa bahwa tabiat manusia itu suka menjajah dan harus dihentikan dengan perang.

Mereka terlalu berekspetasi akan emansipasi wanita yang mengharamkan poligami, tapi mereka lupa tabiat pria dan fakta sosial yang berkembang sehingga bisa menjadikan poligami sebagai solusi. Fitrah manusia selamanya berefleksi ketika dihadapkan pada masalah hidupnya yang komplek, dan itu dikelola dengan baik oleh Islam.

Maka lebih baik bagi kita untuk berhati-hati terhadap segala jenis faham, sudut pandang, produk-produk hukum, praktek-praktek ekonomi, prinsip-prinsip sosial, dan segala jenisnya…. sekalipun itu telah beredar dan dianut oleh masyarakat luas.

Hendaknya kita tidak begitu saja menerima dan menelannya mentah-mentah. Sebab bisa jadi itu sesat dan menyesatkan. Kebenaran adalah milik Allah, dan Allah menitipkannya dalam kalam-Nya yaitu Al-Quran. Maka jalan terbaik bagi kita adalah lebih dalam mempelajari Al-Quran.

TRIK KEEMPAT: Syetan Menyamarkan dan Mencampuradukkan antara yang Haq dan Bathil
Dalam agama Islam, yang haq itu telah jelas dan yang bathil itu telah jelas. Tapi syetan (dalam wujud manusia atau jin) terus berusaha mengkampanyekan kebatilan dengan cara mencampuradukkannya ke dalam yang haq.

Dengan berbagai argumentasi mereka menyerukan bahwa sesuatu "haq" padahal sebenarnya bathil. Manusia dengan hati nuraninya yang suci, tentu akan menerima tuntunan agama Islam agar wanita menutup auratnya dan tidak memakai pakaian yang mengundang nafsu birahi lelaki, karena hal itu akan berdampak baik pada laki-laki dan begitu juga perempuan, serta membimbing kehidupan masyarakat secara umum menjadi lebih baik.

Tetapi dengan dalih 'budaya' ataupun 'keberagaman', tuntunan "menutup aurat" ini dinilai memangkas keberagaman dan mengancam punahnya budaya warisan leluhur. Mereka menuntut segala jenis pakaian apalagi yang berakar dari budaya warisan leluhur agar tetap dilestarikan, disandingkan dengan berbagai macam bentuk dan pola berpakaian di bawah payung "keberagaman". Begitulah syetan. 

Padahal Allah berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 42: 
Dan janganlah kamu campuradukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.

Budaya tetaplah budaya apapun itu bentuknya, yaitu hasil budi dan daya manusia. Seseorang yang beriman yakin bahwa agama datangnya dari Tuhan dan untuk membenahi segala bentuk kebiasaan manusia termasuk budaya dengan segala jenisnya.

Orang Islam yang memahami betul keimanannya akan menerima bahwa syariat menutup aurat itu datang untuk membenahi segala jenis pakaian yang mengumbar aurat, sekalipun itu sudah membudaya dan masuk ke dalam katalog warisan budaya. Sehingga pada gilirannya, budaya yang berlaku adalah budaya yang sesuai dengan tuntunan agama Islam.

Dalam hal keyakinan, Islam menegaskan bahwa tidak boleh memaksakan keyakinan pada orang lain (Al-Baqarah 256). Ayat inilah yang membuktikan Islam menghormati keberagaman orang memeluk agama.

Bahkan dalam tubuh umat Islam sendiri sangat dimungkinkan untuk berpeda faham dan pendapat tentang suatu hal, selama itu masih dalam koridor tuntunan Islam yang digariskan (yang sudah jelas, pen.).

Tetapi ketika seseorang atau sekelompok yang mengaku menganut Islam, melakukan "modifikasi yang melanggar batas" maka hal itu sudah dikategorikan sebagai penistaan.

Pada batas inilah nampak jelas bahwa "penyelewengan akidah" orang Islam terhadap Islam merupakan suatu "penistaan" yang harus dilarang, bukan merupakan bentuk "keberagaman" yang harus diakomodasi dan dihargai.


Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © ISB Corner -Imam Saiful Bahri- Powered by Blogger - Modified by ISB Corner -