Senin, 11 April 2011

Dalam perjalanan Isra’ Mi’raj (perjalanan spiritual yang luar biasa) yang ditempuh Nabi Muhammad SAW, beliau mengalami suatu bagian di mana beliau ditawari dua gelas yang satu berisi khmar (arak yang memabukkan) dan yang satunya berisi susu. Lalu beliau pun memilih susu dan meminumnya.

Konon menurut suatu sumber, susu yang beliau pilih ini tidaklah beliau minum seluruhnya, tetapi hanya sepertiga-nya saja. Selanjutnya, sumber itu menerangkan makna dari peristiwa itu adalah bahwa dari seluruh umat manusia hanya sepertiganya saja yang menjadi pengikut beliau dan ikutserta menempuh jalan yang benar. (!!!!)

Terlepas dari benar tidaknya sumber yang menyampaikan tentang “sepertiga” gelas susu yang terminum, ada baiknya kita mengkaji bahwa umat manusia itu sebenarnya terbagi menjadi 3 golongan. Dan hanya satu yang menempuh jalan yang benar. Terlepas juga apakah golongan ini terbagi menjadi 3 bagian dalam porsi yang masing-masing sama?! Yang pasti terbaginya manusia menjadi 3 golongan ini diterangkan dalam Al-Quran Surat Al-Fatihah.

Surat Al-Fatihah sebagaimana kita tahu dinamakan juga “Ummul Qur’an” atau “Ummul Kitab” (Induk Al-Quran) karena dia merupakan induk bagi semua isi Al-Quran, serta menjadi intisari dari kandungan Al-Quran. Dalam surat ini pulalah disebutkan bahwa pada dasarnya manusia itu dibagi menjadi 3 (tiga) golongan. Pada ayat 6 disebutkan: Ihdinas-shiroothol-mustaqim yang berarti “Tunjukilah kami jalan yang lurus”. Seperti apakah jalan yang lurus itu?

Pada ayat ke-7 dijelaskan tentang kriteria satu golongan orang yang diberi petunjuk jalan lurus, dan bahkan disebutkan sekaligus dua golongan lain yang tidak memperoleh petunjuk jalan lurus.

Ayat ke-7 (ayat terakhir) dari surat Al-Fatihah itu berbunyi: Sirathal-ladzina an’amta ‘alaihim, ghoiril maghduubi ‘alaihim, walaadh-dhoolliin, yang berarti: “(Jalan lurus) itu ialah jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni’mat kepada mereka; bukan (jalan) orang-orang yang dimurkai; dan bukan (pula jalan) orang-orang yang sesat. 
(Jalan lurus) itu ialah jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni’mat kepada mereka; bukan (jalan) orang-orang yang dimurkai; dan bukan (pula jalan) orang-orang yang sesat.

Pada ayat 7 ini tertulis dengan jelas bahwa manusia terbagi menjadi tiga golongan, yaitu:

Pertama, orang-orang yang diberi nikmat.
Inilah golongan orang-orang yang berusaha mencari kebenaran dan beroleh kebenaran.

Kedua, orang-orang yang dimurkai.
Inilah golongan orang-orang yang tidak berusaha mencari kebenaran bahkan terang-terangan menentang kebenaran.

Ketiga, orang-orang yang sesat.
Inilah golongan orang-orang yang berusaha mencari kebenaran, merasa menemukan kebenaran tetapi sebenarnya mereka tidak menemukan kebenaran. Kebenaran itu sesungguhnya telah datang kepada mereka namun mereka menolaknya.

Golongan Pertama (Haq)
Pada golongan pertama ini, siapakah yang dimaksudkan “orang yang diberi nikmat” itu?
Inilah golongan orang-orang yang berusaha mencari kebenaran dan beroleh kebenaran.
Dalam surat Al-Maidah ayat 3 bahwa penyempuranaan nikmat itu identik dengan diturunkannya ajaran Islam atau tauhid. Jadi orang dikatakan beroleh nikmat bila orang itu menerima ajaran Islam dengan penuh ketundukan, mereka meyakini keesaan Tuhan dan menjalankan ajarannya dengan sebenar-benarnya.

Menurut Al-Quran, orang-orang yang masuk ke dalam golongan ini adalah orang yang tunduk pada ajaran tauhid yang dibawa para nabi dan rasul yang diutus di tiap umat.

Golongan Kedua (Bathil)
Pada golongan kedua ini, siapakah yang dimaksudkan “orang yang dimurkai” itu?
Inilah golongan orang-orang yang tidak berusaha mencari kebenaran bahkan terang-terangan menentang kebenaran.
Dalam surat Al-Maidah ayat 60, Al-Mujadilah ayat 14, Al Mumtahanah ayat 13 dan ayat lain disebutkan bahwa mereka adalah suatu golongan besar manusia yang tidak percaya Tuhan dan akherat, tidak peduli apakah perbuatannya merusak atau tidak, melanggar atau tidak, dilarang atau tidak. Mereka itulah penentang sejati, sehingga mereka disebut sebagai golongan yang dimurkai. Sikap menentang terang-terangan inilah yang mendatangkan kemurkaan Allah.

Berdasarkan keterangan Al-Quran, orang-orang yang masuk ke dalam golongan ini adalah orang-orang atheis (nyata-nyata tidak percaya Tuhan dan Akherat), serta orang-orang yang hidupnya dipenuhi pengingakaran, kemungkaran dan kemaksiatan, akrab dengan dunia kriminalitas hingga ajalnya.

Golongan Ketiga (merasa Haq, tetapi sebenarnya Bathil)
Pada golongan ketiga ini, siapakah yang dimaksudkan “orang yang sesat” itu?
Inilah golongan orang-orang yang berusaha mencari kebenaran, merasa menemukan kebenaran tetapi sebenarnya mereka tidak menemukan kebenaran. Kebenaran itu sesungguhnya telah datang kepada mereka namun mereka menolaknya.
Dalam surat Al-Ahqaf ayat 5 dan banyak ayat lainya diterangkan bahwa mereka adalah suatu golongan besar manusia yang masih berupaya ‘menemukan’ dan menyembah Tuhan, tetapi sesungguhnya apa yang mereka anggap Tuhan itu tidak lain hanyalah nama-nama dan bukan Tuhan. Mereka berusaha mengikuti ajaran kebenaran yang mereka yakini dari Tuhan, tetapi sebenarnya mereka sendirilah yang menetapkan ajaran itu menurut hawa nafsu mereka. Ketika ajaran Tuhan yang sebenarnya datang dan tidak sesuai dengan kehendak hawa nafsu mereka, maka mereka pun menolaknya. Golongan ini sebenarnya berusaha mencari kebenaran dengan kebaikan-kebaikan, tetapi jiwanya tidak berserah diri ketika kebenaran itu datang. Berserah diri pada kebenaran tauhid inilah sebenarnya Islam, dan mereka ini adalah golongan yang tidak mau menerima Islam. Oleh karena itu, mereka disebut sebagai golongan orang yang sesat, yaitu kiasan orang yang mencari jalan yang benar tapi tidak menemukannya.

Berdasarkan keterangan Al-Quran, orang-orang yang masuk ke dalam golongan ini adalah orang-orang yang menganut berbagai agama, kepercayaan, faham-faham, ideologi, prinsip-prinsip hidup dan nilai-nilai yang mereka yakini sebagai kebenaran, tetapi sebenarnya semua keyakinan mereka itu tidaklah benar. Kebanyakan mereka menganut kepercayaan yang berasal dari nenek moyang mereka secara turun-temurun, akan tetapi nilai-nilai ketauhidan sudah dinodai dan bergeser pada keyakinan yang keliru tentang Tuhan berikut ajaran-ajaran-Nya.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © ISB Corner -Imam Saiful Bahri- Powered by Blogger - Modified by ISB Corner -