Senin, 25 April 2011

Dalam pesan tertulisnya di buku kenang-kenangan Kelas VI (Kelas Akhir) KMI Gontor Tahun 1998, KH. Shoiman Luqmanul Hakim (seorang Pimpinan Pondok Gontor saat itu) mengutip perkataan Imam Al-Ghazali sebagai berikut:


وَالنَّاسُ كُلُّهُمْ هَلْكَى اِلاَّ الْعاَلِمُوْنَ، وَالْعَالِمُوْنَ كُلُّهُمْ هَلْكَى اِلاَّ الْعَامِلُوْنَ، وَالْعَامِلُوْنَ هَلْكَى اِلاَّ الْمُخْلِصُوْنَ.


Setiap orang itu binasa kecuali orang yang berilmu, dan semua orang yang berilmu itu akan binasa kecuali orang yang beramal (melaksanakan ilmunya), dan semua orang yang beramal akan binasa kecuali orang yang ikhlash (meniatkan amalnya karena Allah semata).

KH. Hasan Abdullah Sahal menafsirkan untaian kalimat Imam Al-Ghazali dengan bahasa beliau yang lebih lugas:
Semua orang itu sebenarnya “merugi” kecuali yang berilmu,
dan semua orang yang berilmu itu “mabuk” (dengan ilmu-ilmunya) kecuali orang yang beramal,
dan semua orang yang beramal itu “tertipu” (dengan niatnya yang salah) kecuali orang yang ikhlash,
dan semua orang ikhlash itu “bingung” akan kesudahan dari ikhlasnya.”

Dari pesan beliau berdua, saya berusaha memetik hikmah semampu saya, yang tentunya pemahaman sayapun dari waktu ke waktu tidak selalu sama. Artinya pada titik tertentu mengalami dan memperoleh pencerahan/kejelasan dan begitu seterusnya.

Pesan Imam Al-Ghazali yang beliau kutip di atas sebenarnya mengingatkan kita betapa pentingnya beberapa hal berikut ini terkait dengan keberadaan hidup kita di dunia, yaitu:

PERTAMA: ILMU PENGETAHUAN  
Ilmu pengetahuan menjadi kunci pertama sebelum kunci-kunci lainnya. Mengapa? Karena setiap amal perbuatan terutama amal saleh yang tidak didasarkan atas ilmu, hanya atas prasangka saja, ikut-ikutan tanpa tahu ilmunya, asal meniru tanpa tahu maknanya, dan seterusnya... nilainya tentu amat sangat rendah, bahkan tidak dinilai sama sekali.  

Ilustrasinya begini:  
Ada dua orang yang sama-sama sholat.  

Yang satu paham betul apa itu sholat, mengapa sholat, apa tujuan sholat, bagaimana sholat, hafal betul bacaan-bacaan sholat, memaknai betul setiap untaian kalimat dalam sholat, bahkan karena kedalaman ilmunya itu...orang ini sering menangis setiap kali sholat, terasa betul baginya komunikasi dan ‘sowan’ ke hadirat Ilahi hingga sampai pada satu titik ketenangan batin yang luar biasa selalu dirasakan seusai sholat. 

Sementara, yang satunya tidak banyak tahu apa itu sholat, kurang hafal bacaanya apalagi mengerti makna-maknanya, semakin dalam ia berusaha khusuk justru yang didapat hanya pikiran yang tertekan, dan ujung-ujungnya sholat menjadi sesuatu yang amat melelahkan baginya. 

Inilah penyakitnya banyak orang awam, terutama yang awam agamanya. Kesulitan hidup dan penghidupan yang dirasakannya menghimpit membuatnya terasa kehilangan sudah waktu untuk belajar dan memahami berbagai pengetahuan agama. Di depan matanya hanya bagaimana bertahan hidup dan meningkatkan kualitas dan taraf hidupnya saja, belajar dan menimba ilmu terasa memasuki “gudang teori dan tumpukan bualan” yang tidak memberikan keuntungan apa-apa. Na’udzubillah. 

Sehingga disebutkan dalam Q.S. Az-Zumar: 9 : “Katakanlah (hai Muhammad): "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” Arti secara tegas dari ayat ini adalah orang berilmu dan tidak berilmu itu berbeda dan tidak pernah sama, berbeda nasibnya, berbeda hasil pekerjaanya, dan berbeda tempat akhir kesudahannya. 

Rasulullah pun menegaskan: “Siapa yang menginginkan dunia maka ilmulah alatnya, siapa yang meninginkan akherat maka ilmulah alatnya, dan siapa yang mengingiankan dunia-akherat maka ilmu pulalah alatnya.”


KEDUA: AMAL PERBUATAN 
Sekalipun telah diliputi ilmu pengetahuan yang nampak unggul bila dibandingkan orang awam, hendaknya orang berilmu itu tidak terlena atau “mabuk” - istilah Ustadz Hasan tadi. Inilah godanya orang yang punya ilmu. Karena mungkin terlalu overestimate akan mulianya “kedudukan ilmu” sebagaimana disebutkan di atas, kadang orang yang berkutat dalam bidang keilmuan sering kelupaan untuk lebih banyak berbuatnya daripada membahasnya, untuk lebih banyak prakteknya daripada teorinya.  

Sebab acapkali golongan “orang-orang berilmu” ini terlalu asyik dengan keilmuannya, dari satu forum ke forum lain, dari satu seminar ke seminar lain, dari satu kuliah ke kuliah lain, begitu seterusnya. Hari demi hari mereka bertukar fikiran dengan berbagai referensi dan kajian untuk menemukan jawaban dari “satu” topik keilmuannya. Dan ketika jawabannya ditemukan, tangga menuju jalan “amal perbuatan” masih terasa jauh, karena topik-topik lain rupanya telah dipersiapkan untuk dibahas lagi secara maraton. Begitu seterusnya hingga ajal mereka menjemput. Mereka begitu bangga dengan pola hidup mereka seperti ini, apalagi dunia modern memayungi mereka dengan istilah “profesionalitas” dan “profesionalisme”, di mana berkutat di ranah ilmu pengetahuan (baca: tanpa perlu amal perbuatan) memang sudah menjadi spesialisasi yang sah bagi mereka. 

Inilah penyakitnya kaum terpelajar seperti para mahasiswa, dosen, profesor, kyai-kyai kitab, muballig-muballigh ‘verbal’, penulis-penulis buku, dan sejenisnya. Tentunya tidak termasuk dalam dalam golongan ini mereka yang tetap tekun beramal saleh yang nyata, dalam kesehariannya mereka membangun dan bersosialisasi dengan masyarakatnya. 

Dalam Q.S. Ash-Shaf : 3 disebutkan: “Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”

KETIGA: KEIKHLASAN NIAT 
KH. Abdullah Syukri Zarkasyi pernah menyampaikan satu untaian kalimat tentang ikhlash yang sempat saya tulis dalam buku harian pondok saya. Kira-kira bunyinya: Kalimatul-ikhlash Laa ilaaha illaallaah (Keikhlasan itu tercermin dalam kalimat Laa-ilaaha illallah/Tiada Tuhan selain Allah). Maksud yang saya pahami dari perkataan ini adalah bahwa suatu amal perbuatan dikatakan ikhlash bila diniatkan karena Allah semata, tidak untuk yang lain.  

Ada satu pertanyaan: “Apakah orang yang dibayar itu tetap bisa dikatakan ikhlash?” 
Ustadz Hasan menjawab pertanyaan ini dengan jawaban yang gamblang: “Tidak semua yang dibayar itu berarti tidak ikhlash. Dan yang tidak dibayar itu belum berarti pasti ikhlash. Semua amat tergantung pada niat masing-masing.” 

Ilustrasi Pertama 
Tentang bagaimana ikhlash ini, saya coba uraikan lewat ilustrasi ini. 
Seorang kepala keluarga bekerja di suatu tempat dengan mengharapkan upah. Dari upah itu ia berharap bisa memberi nafkah dan mencukupi kebutuhan keluarga. 

Bekerja, mendapat upah, memberi nafkah hingga mencukupi kebutuhan keluarga baginya merupakan SATU PAKET yang dipersembahkan untuk mencapai ridho Allah. Jadi ketika ada satu dari paket ini yang tidak tertunaikan, ia akan berusaha sungguh-sungguh menunaikannya bahkan kalau perlu menuntutnya. 

Semisal unsur “bekerja”, bila dia merasa masih belum bagus dan maksimal maka dia akan berusaha memperbaikinya. Dan misalnya dia tidak “mendapat upah” maka ia menuntut kepada yang berkewajiban memberinya upah. Begitu seterusnya hingga sempurna rangkaian paket ini. Kira-kira seperti inilah ikhlash yang benar. (Mohon dikoreksi kalau salah). 

Ilustrasi Kedua 
Ketika rangkaian dalam satu paket ini dipotong-potong maka akan berbeda lagi masalahnya, dan di sinilah godaan “ikhlas tidak ikhlash” itu muncul. Dalam ilustrasi yang hampir sama digambarkan begini: Ada kepala keluarga yang lain bekerja di suatu tempat dengan mengharapkan upah. Dari upah itu ia berharap bisa memberi nafkah dan mencukupi kebutuhan keluarga. 

Sama seperti pada ilustrasi pertama. Hanya saja, orang ini tidak pernah peduli apakah bekerja, mendapat upah, memberi nafkah hingga mencukupi kebutuhan keluarga merupakan PAKET yang dipersembahkan untuk mencapai ridho Allah ataukah tidak. Baginya adalah bekerja, memperoleh upah dan bisa mencukupi kebutuhan keluarga. 

Dan terkadang konyolnya, dia tidak menuntut bila upahnya tidak dibayar, dengan alasan takut atau tidak berani menuntut dan akhirnya mengikhlaskan, akibat dari sikapnya ini keluarganya jadi terlantar. Justru keikhlashan yang seperti inilah yang tidak pada tempatnya. 

Inilah penyakit yang banyak menghinggapi masyarakat kita saat ini. Mereka rajin bekerja setiap hari dan semata-mata hanya untuk menyambung hidup. Ketika niat mencari ridho Allah sudah tidak bisa “memayungi” dan menjadi garis penunjuk jalan, yang terjadi sering mengambil cara-cara yang tidak benar dan halal dalam bekerja dan mencari penghidupan. 

Ada juga bentuk-bentuk ketidakikhlashan yang kasat mata, seperti sumbangan-sumbangan dengan motif meningkatkan popularitas, status sosial, prestise, dan tendensi-tendensi lainnya. Ketika apa yang menjadi tujuannya itu tidak tercapai, spontan sumbangan dan berbagai bentuk amalan baik itu dihentikan. Selesailah sudah amal baik itu, berhenti karena niat sesaat dan sesat. Na’uzubillah. 

Dan konyolnya, orang-orang seperti ini dalam hati mereka merasa sebagai “orang baik” yang layak dan berhak beroleh surga-Nya. Mereka inilah orang-orang yang disebutkan Ustadz Hasan sebagai orang-orang yang “tertipu”. Asal-asalan berbuat baik, tetapi tidak benar-benar menata niatnya. 

Dalam QS. Al-Lail 20-21 disebutkan: “Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha Tinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan.” 

KEEMPAT : PERASAAN HARAP-HARAP CEMAS 
Setelah bisa melampui godaan “tidak ikhlash”, seorang yang beramal saleh dengan ilmunya akan sampai pada tahap ini, yaitu perasaan harap-harap cemas. Orang yang sungguh-sungguh beramal saleh, senantiasa memberikan yang terbaik yang dia punya, berkorban besar dan ikhlas mengharap ridho Allah, biasanya tidaklah terlalu berharap banyak pada “balasan dunia”. 

Bagi mereka “balasan dunia” ini teramat kecil dan bukan apa-apa (tanpa mengurangi kesyukuran). Balasan sesungguhnya yang ia harapkan adalah “balasan akherat” yang agung. Hanya memang “balasan akherat” ini tidak bisa dibuktikannya sekarang dan segera. Di sinilah, seorang yang telah ikhlash dituntut untuk tidak pernah berhenti berharap, berharap dan berharap. 

Namun berharapnya orang yang ikhlash bukanlah berharapnya orang yang congkak lagi sombong, seraya merasa “pasti dan aman” beroleh surga itu. Seorang yang ikhlash haruslah berharap seraya “terus memohon dengan kerendahan hati” kepada-Nya agar benar-benar balasan yang dijanjikan-Nya itu diperolehnya.  

Kondisi hati yang seperti inilah yang paling ideal bagi seorang mukmin, yaitu “perasaan harap-harap cemas” di hadapan Allah, seorang Ustadz menyebutnya dengan istilah perasaan “Bainal khouf war-rojaa”. Jagalah senantiasa hatimu di sini!!

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © ISB Corner -Imam Saiful Bahri- Powered by Blogger - Modified by ISB Corner -