Senin, 25 April 2011

Kalau Anda ditanya, darimanakah uang yang Anda miliki itu? Tentu Anda akan menjawab itu hasil kerja Anda. Tetapi kalau dikatakan itu dari pemberian Tuhan, tentu Anda tidak membantahnya. Lantas dari mana sebenarnya? Uang itu secara "syareat" adalah dari hasil kerja Anda, tetapi secara "hakekat" itu adalah pemberian Tuhan.



Mengkritik Jalan "Syari'at"
Seorang teman saya berkomentar agak miring tentang teman saya yang lain. Padahal teman saya yang dikomentari ini rajin sholatnya sampai-sampai terbekas di dahinya tanda sering sujud. Justru karena sholatnya yang rajin inilah ia dikomentari dan dikritik.

"Centhak-centhuk khusuk sholat kayak gitu pamrihnya apa sih, kalau sehari-hari masih suka ngomongin orang?!" Kadang komentar miring muncul tentang puasa. "Senin-Kamis rajin puasa, begitu waktu buka tiba langsung makan selahab-lahabnya, sampek-sampek lemes karena kekenyangan. Apa gunanya puasa kayak gitu!!" 

Terus teman yang mengkritik ini memberikan semacam "langkah yang seharusnya" menurut versi dia. Sholat itu kan seharusnya bisa mendekatkan diri pada Allah, sehingga karena kedekatan-Nya pada Allah jadi takut ngomongin orang dan menghindarkan diri dari semua yang tidak baik.

Begitu juga puasa, puasa kan tujuannya untuk mengontrol diri agar perilaku hidup menjadi lebih baik. Kalau tiap buka puasa pol-polan (habis-habisan dan berlebihan) kayak gitu, baik dari mana?! Mustinya kan tetap terkontrol dan yang terpenting pribadi sehari-hari menjadi lebih baik. Ritual keagamaan Islam atau yang biasa disebut syariat, menurut dia tidak lebih dari gambar semata, tanpa isi dan tanpa ruh.

Mengkritik Jalan "Hakekat"
Sebenarnya saya setuju dengan kritik teman saya ini. Bahkan sangat setuju sekali.
Tetapi ketika melihat prakteknya dia sendiri saya jagi kurang sreg. Mengapa? Memang saya akui, perilaku teman saya cenderung lebih baik dibanding yang rajin sholat dan puasa tadi.

Dia terbukti jujur kalau berurusan masalah uang, jual beli dan sejenisnya. Dia juga pribadi yang disukai banyak orang karena suka menolong, dermawan dan sebagainya. Hanya satu yang kurang saya setuju...


Apakah itu?

Dia jarang dan sepertinya tidak sholat, seandainya sholatpun tidak dengan cara layaknya sholat dengan berdiri-rukuk-sujud, tetapi hanya duduk bersila dan berdzikir mengheningkan cipta. Dan kalau puasa Ramadhan dia santai saja minum kopi di pagi hari dan memang cara makannya terkontrol sekali. Menurut dia inilah sebenarnya "hakekat" dari beribadah dan hidup di dunia, penuh makna dan beginilah sesungguhnya yang diingkan Tuhan.

Apa itu Hakekat, Apa itu Syariat?
Apa itu hakekat dan apa itu syariat? Dalam ilmu tasawwuf sebenarnya urutannya adalah dari syari'at, thoriqah, hakekat dan ma'rifat. Orang-orang yang mendalami tasawauf punya penjelasan tersendiri tentang hal ini. Tapi arti hakekat dan syariat, mungkin secara sederhana bisa saya gambarkan sebagai berikut:
Bumi dan tanah yang kita injak ini "hakekat"nya adalah milik Allah, tapi "syareat"nya adalah milik orang yang memiliki sertifikat tanah yang sah.
Orang yang kekeh memegang syariat mengaku dialah yang memiliki tanah itu, mau diapakan juga tanah itu adalah haknya, mau dijual-dibakar-dieksploitasi habis-habisan adalah sudah menjadi hak milik dia. Mau dibangun di atasnya rumah, masjid atau tempat judi semua adalah hak miliknya. Beginilah kalau "syariat yang buta" berbicara.

Sebaliknya, kalau orang lain memegang kekeh "hakekat dengan buta" maka ia akan semaunya menggunakan tanah milik orang lain, dengan dalih bahwa semua tanah adalah milik Allah. Jadi tidak ada satupun orang yang punya tanah di dunia ini, semua tanah milik Allah, dan semua orang harus rela berbagi. Beginilah kalau menganut "hakekat yang buta".

Bagaimana menyikapi syariat dan hakekat? Mana yang benar? Haruskah memilih?
Kedua-duanya tidaklah salah dan kedua-duanya memang harus ada. Bila salah satu ditinggalkan maka akan terjadi ketidakseimbangan dan bahkan kehancuran.

Peran syariat
Tanah dalam tataran syariat (hukum manusia) adalah milik orang dan itu harus diakui dan dilindungi. Sebab tanpa adanya syariat (hukum) yang mengatur dan menetapkan itu, tentu kekacauan akan terjadi. Apalagi yang dipermasalahkan nantinya tidak hanya tanah, tapi segala jenis benda dan urusan. Untuk menjaga keseimbangan dan keteraturan hidup, syariat di sini sangat dan wajib diperlukan.

Peran hakekat
Akan tetapi hakekat tanah itu adalah milik Allah. Inipun tidak bisa dikesampingkan. Apa maksudnya? Siapapun yang mempunyai tanah, boleh menggunakan sesuai kebutuhan dan keperluannya, tetapi bukan tanpa batas. Karena tanah itu milik Allah, berarti tanah itu titipan dari Allah dan harus dipergunakan sesuai dengan kehendak Allah, tidak boleh dipergunakan untuk hal-hal yang tidak disukai dan dilarang oleh Allah.

Titik temu
Jadi di sinilah terdapat titik temu antara "syareat" dan "hakekat". Secara "syariat" orang boleh menjadi pemilik tanah-tanah dan itu sah, tetapi karena "hakekat" tanah itu milik Allah maka harus dipergunakan sesuai perintah Allah.

Kasus-kasus
Pemahaman hakekat dan syareat terjadi dalam banyak kasus, antara lain seperti pada masalah sholat dan puasa di atas.
  • Sholat "hakekat"nya adalah menyembah dan mendekatkan diri pada Allah, tetapi kalau caranya diserahkan kepada masing-masing orang Islam. Apa jadinya bentuk sholat itu nanti? Ada yang berdiri, ada yang duduk, ada yang bersedekap, ada yang bersemedi, ada yang menari-nari dan seterusnya. Akhirnya kembalilah umat ini seperti umat terdahulu, yang ritual ibadahnya tidak hanya bervariasi secara teknik tapi menyimpang jauh dan keluar dari hakekat awalnya. 
  • Maka untuk itulah ditetapkan "syareat" sholat sebagaimana yang kita kerjakan selama ini. Syareat ini tidak lain untuk menjaga, agar tata cara ini tetap lestari dan ruh/spirit yang menyertainya pun turut terjaga. Bahkan dengan ditetapkan "syareat" sholat seperti ini, muncul manfaat dan hikmah lain yang tak terhingga banyaknya. Seperti kesehatan tubuh, persaudaraan-kekompakan antar kaum muslimin dengan jamaah sholat dan arah kiblatnya, kesetaraan derajat manusia dengan duduk sama rendah ketika jamaah, dan hikmah-hikmah yang lain.
  • Begitu juga "syareat" puasa. Seandainya setiap orang dibebaskan berpuasa dengan caranya masing-masing, entah apa jadinya. Maka dengan adanya "syareat" puasa yang seperti itu, umat Islam menjadi tertib puasanya, bisa bersama-sama menjalankannya, dan bisa merasakan hikmah yang luar biasa, termasuk mencapai "hakekat" puasa menjadi pribadi yang bisa mengontrol diri.
  • Berbagai jenis syariat sudah diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW seperti syariat menikah, berhijab/berjilbab, bersedekah, berdakwah, dan banyak lagi. Kita tinggal mempelajarinya, memahami hakekatnya dan melaksanakannya. Tentunya semua itu dengan penuh kesabaran. Dengan menjalankan syariat dan berupaya menemukan/memahami hakekat dari ditetapkannya syariat itu. Insyaallah, kehidupan umat Islam akan senantiasa beroleh berkah dan keberuntungan. Amin.

{ 1 komentar... read them below or add one }

- Copyright © ISB Corner -Imam Saiful Bahri- Powered by Blogger - Modified by ISB Corner -