Selasa, 05 April 2011

Pertama: Bukan Melawan Syetan, tapi Meminta Perlindungan kepada Allah
“Di tengah jalan dalam sebuah perjalanan panjangnya, seorang musafir terjebak di tengah sekumpulan anjing galak. Anjing-anjing itu menyalak-nyalak dengan memancarkan mata-mata buasnya. Seolah-seolah akan menerkam, mengoyak dan mencabik-cabik sang musafir itu.”

“Apa yang harus dilakukan musafir itu agar selamat dari gangguan anjing-anjing itu? Melawan anjing-anjing itu? Melemparinya? Atau lari sekencang-kencangnya?”

“Tidak! Ternyata musafir itu sangat cerdik. Ia memanggil pemilik anjing-anjing itu dan meminta tolong dengan hormat agar anjing-anjing itu disingkirkan darinya.”

Itulah sebuah kiasan yang disampaikan almarhum KH. Soiman Luqmanul Hakim –salah seorang pimpinan Pondok Gontor – saat  berpesan di hadapan santri-santrinya. Musafir itu ibarat manusia, sedangkan sekumpulan anjing-anjing itu ibaratkan kawanan syetan yang mengganggu dan menggoda manusia. Agar selamat dari gangguan kawanan syetan, bukan melawan dan melemparinya. 

Karena jumlah syetan yang terhingga dan akan terus mengganggu manusia. Akan tetapi, cara tepat menghindari gangguan syetan ialah memohon pertolongan Yang Maha Menguasai syetan dan sekalian makhluk, yaitu Allah. 

Kepada-Nya lah kita memohon pertolongan Allah agar dihindarkan sejauh-jauhnya dari gangguan syetan. Disebutkan dalam Alquran Surat Al-A'raaf 200: 
"Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan maka berlindunglah kepada Allah"

Kedua: Menjaga Pergaulan, karena Lingkungan itu Sangat Berpengaruh
Rasulullah SAW mengibaratkan jama’ah kaum muslimin itu bagaikan sekumpulan domba-domba di tengah padang yang setiap saat dalam incaran kawanan serigala. Kawanan serigala itulah kiasan dari ancaman gangguan syetan. Sehingga domba yang terpisah dari kumpulannya yang akan diserang dan dijadikan sasaran terkaman.    

Agar terhindar dari gangguan syetan, Rasulullah SAW memperingatkan kita supaya senantiasa menjaga jama’ah kaum muslimin, artinya kaum muslimin itu identik dengan kehidupan berjama’ah (organisasi), menjaga pergaulan dan saling bahu-membahu dalam segala bidang. 

Sehingga dengan jama’ah inilah akan terpelihara keimanan dan hidup kaum muslimin dari gangguan syetan dan kesesatan. Sementara orang Islam yang ‘lebih banyak’ bergaul, bertukar fikiran, bekerja sama dengan orang-orang fasiq dan syetan-syetan dalam berbagai wujudnya, maka sangat rentanlah ia untuk menjadi teman syetan lalu sesat dan disesatkan.

Ingat pepatah? Orang yang sering bergaul dengan penjual minyak wangi akan ikut menjadi wangi, dan orang yang sering bergaul dengan pandai besi akan ikut terkena baunya. Kata bijak Arab mengatakan: 'anil mar'i tas'al was-al qoriinahu' yang maksudnya:
"Kalau kau ingin tahu seperti apa sebenarkan kepribadian seseorang, cukuplah engkau tanya (mencari tahu) tentang kawan dekatnya (sebab seseorang itu bisa berkawan dekat hanya dengan orang yang memiliki kepribadian kurang lebih sama"

Ketiga: Meluruskan Niat
Mengutip pesan Sahabat Rasulullah, Pak Soiman berkata: Semua manusia itu akan celaka, kecuali orang-orang yang berilmu. Dan semua orang berilmu itu akan celaka, kecuali orang-orang yang mengamalkan ilmunya. Dan orang-orang yang mengamalkan ilmunya itu akan celaka, kecuali orang-orang yang ikhlash.

Orang ikhlash ialah orang yang menjadikan keridhoan Allah sebagai satu-satunya tujuan dalam beramal shalih. Dalam Surat Al-Hijr 40 disebutkan: “Iblis berkata: 
"Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma'siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis (ikhlash) di antara mereka.”

Bagaimana keikhlashan dapat menghindarkan orang dari godaan syetan?
Logika sederhananya, orang yang tidak punya keinginan dan tidak punya kepentingan adalah orang yang tidak bisa diimingi-imingi, orang yang tidak bisa diiming-imingi tentu tidak bisa digoda. Begitu juga, kalau orang hanya menginginkan ridho Allah, maka yang mampu memberikan keinginan itu hanyalah Allah. 

Syetan tidak bisa menggoda dan mengiming-imingi seseorang yang hanya menginginkan ridho Allah, sebab syetan tidak mungkin bisa memberikan ridho Allah.

Sebaliknya, apabila seseorang banyak keinginannya (selain ridho Allah) seperti terhadap kekayaan, kedudukan, dan kesenangan duniawi lainnya. Maka orang seperti ini sangat mudah dijebak oleh syetan, karena syetan bisa memberikan semua yang diinginkan orang ini. 

Orang seperti ini tentu lebih menginginkan kekayaan, kedudukan dan kesenangan duniawi lainnya dan tidak mau tahu apakah itu diharamkan atau tidak, berkonstribusi terhadap kebatilan atau tidak. Orang yang karena keinginan duniawinya besar sehingga berani mengabaikan yang haq, tentu akan mudah digoda syetan. 

Bagi syetan memberikan sebesar apapun dari dunia ini adalah mudah, asalkan seorang hamba mau mengabaikan kebathilan.

Begitulah syetan akan terus mendatangi manusia dari segala arah, ia tidak segan-segan meng’obok-obok’ keyakinan orang beriman, cara berfikirnya, perilaku dan sikapnya, menanamkan motif dan niatnya, bahkan bagaimana cara bertingkah laku dalam keseharian.

gambar diambil dari http://heyhega.blogspot.com/2010/07/godaan-setan.html

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © ISB Corner -Imam Saiful Bahri- Powered by Blogger - Modified by ISB Corner -