Kamis, 07 April 2011



Banyak kita temui orang-orang yang beramal maupun menginfaqkan tenaga, harta dan apa yang dia punya dalam jumlah yang besar tetapi acapkali menampakkan motiv-motiv yang kurang benar, seperti menyumbang untuk meningkatkan popularitasnya, membuka lembaga sosial untuk menunjukkan strata sosialnya, dan berbagai bentuk amalan lain yang memang didasarkan bukan mencari ridho Allah. Sehingga muncullah paradok...
"Buat apa beramal banyak tapi tidak ikhlas gitu. Mending sedikit, tapi ikhlash, ya kan?!"
Tahukah Anda, apa yang muncul menyusul populernya kalimat di atas? Banyak orang menjadikan kalimat di atas sebagai dalih untuk enggan beramal, atau mau beramal tapi hanya sedikit dan seadanya. 

Kalimat di atas rupanya cukup manjur untuk menjadi 'payung' bagi orang yang beramal dari sisa-sisa apa yang dia punya, berjuang dari sisa-sisa waktunya, berkonstribusi untuk umat dari sisa-sisa jabatannya, dan mengabdikan diri dengan sisa-sisa umur dan tenaganya.. seraya berucap, "Masih mending mau beramal.. walau sedikit, daripada tidak!!"

Sementara yang paling berharga dari dirinya dikemanakan? Hanya dipakai untuk kepentingan dirinya sendiri, keluarganya, dan orang-orang tercintanya, menomorsekiankan maslahat umat, agama dan kehidupan masyarakat yang lebih luas... seraya berdalih "Nggak beramal banyak kan gak apa-apa, paling tidak saya tidak membebani orang lain

Padahal Allah SWT menyatakan dengan amat sangat jelas dalam Q.S. Ali Imron ayat 92: 
"Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan apa yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya."
Allah SWT akan membalas setiap amalan hamba... tentunya sesuai kadar amalan itu, sekalipun amal itu kecil, sedikit, dari sisa-sisa yang dia punya, sisa waktu, sisa harta, barang-barang bekas, pakaian bekas, dan sebagainya. 

Tapi sungguh semua amalan ini belum mencapai derajar "al-birr" yaitu kebajikan yang sesungguhnya. Ingatlah bagaimana kaum Anshar Madinah menawarkan yang terbaik dari rumah-rumahnya, kebun-kebunya, dan apa yang mereka punya kepada kaum Muhajirin yang hijrah dari Makkah. 

Karena keyakinan yang amat mendalam dan harapan akan ridho Allah yang besar, para sahabat Rasulullah SAW terbiasa menawarkan apa yang terbaik yang dia punya, bukan sekedar sisa-sisa, bukan yang terbaik untuk dirinya dan yang ala kadarnya ditawarkan.

Dan Rasulullah SAW pernah bersabda,
"Menafkahkan 1 dirham ketika hidup itu lebih berharga daripada 100 dirham ketika mati."
Harta itu dibutuhkan orang ketika dia masih hidup, ketika dia sudah mati berapapun hartanya itu tidaklah berharga sama sekali. Hadist Rasulullah SAW di atas menegaskan, justru nilai dari suatu amalan adalah seberapa berharganya sesuatu itu bagi yang bersangkutan. 

Semakin berharga baginya dan semakin besar jiwanya merelakan dirinya untuk beramal, semakin besar juga nilai dari amalannya. Orang miskin yang beramal 100.000 rupiah adalah lebih bernilai dibanding orang kaya yang beramal dengan jumlah yang sama, karena orang miskin perlu 'kerelaan yang lebih besar' untuk beramal sejumlah itu, sedangkan jumlah sebesar itu apalah artinya bagi orang kaya.

Benar...beramal itu butuh keikhlashan (dipersembahkan kepada Allah semata), dan memang 'ikhlash' adalah ruh dari setiap amal. Tanpa ikhlas, semua amal itu tidak akan diterima Allah, dan semua yang tidak diterima Allah pasti diterima syetan. Akan tetapi... beramal yang seadanya, ala kadarnya, sekedar gugur tugas, asal-asalan.. nyaris tidak dipandang oleh Allah.

Dan hati nurani kita tahu, sesungguhnya yang diharapkan Allah adalah yang terbaik dari kita, dari yang kita punya, dan tentunya dilambari dengan jiwa yang ikhlash.

Maka dari itu, alangkah baiknya kita semua instrospeksi diri...masihkah kita berlindung di balik naungan "yang penting ikhlash" ini?

Ketika masyarakat dan agama kita menuntut perhatian dan pengorbanan lebih dari kita, sehingga harus mengorbankan banyak waktu yang seharusnya untuk diri sendiri dan keluarga... 

Ingatlah sesungguhnya Allah sedang menawari kita... maukah kita mencapai "al-birr" yaitu kebajikan yang sesungguhnya, yang sebesarnya. Apakah Anda mau menolaknya?


Note:
Tulisan ini saya buat sebenarnya berangkat dari rasa keprihatinan saya, melihat kita" (termasuk saya pribadi) tanpa sadar mulai terseret ke dalam pola hidup individual, mengutamakan diri sendiri dan keluarga sendiri, dan memandang bahwa memperjuangkan kesejahteraan diri dan keluarga sebagai 'amal ibadah' yang besar.................(??!!)

Padahal Al-Quran dengan jelas "menyebut" (tidak sekedar menyindir) bahwa memperjuangkan nasib keluarga (anak-istri) secara berlebihan adalah sesuatu sikap egois.... dan bagian dari 'fitnah'.

Sementara untuk memperjuangkan kemajuan dan perkembangan agama-masyarakat hanya dari sisa-sisa potensi yang telah terkuras. Padahal seandainya umat Islam mau lebih menyisihkan potensi lebih banyak untuk bersama-sama membangun masyarakat, Allah pasti menolong penghidupan dan keluarganya. Seandainya, saya masih "kaburo maktan" (ngomong doang).... setidaknya saya bisa berbagi keprihatinan... semoga ada yang menyambut ini...



Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © ISB Corner -Imam Saiful Bahri- Powered by Blogger - Modified by ISB Corner -