Minggu, 10 April 2011

-->Mungkin Anda pernah absen kerja, absen masuk sekolah, absen kuliah, dan seterusnya. Tapi pernahkah Anda absent minded'?

Mungkin temen-temen ma’had (alumni Gontor) ingat dengan judul di atas. “Absent minded” seingat saya adalah salah satu judul dalam buku Reading kelas VI KMI Gontor. Absent Minded dalam buku itu dimaksudkan merupakan suatu kondisi di mana seseorang lupa sesaat dengan keadaan yang tengah dialaminya atau keadaan yang tengah berlangsung. 

Kisah Isaac Newton 
Dalam bacaan itu dikisahkan bagaimana Sir Isaac Newton yang sedang mengadakan semacam percobaan ilmiah dengan menggunakan peralatan dari lilin atau tungku api kecil, sebutir telur dan arloji. Isaac Newton pada awalnya bermaksud memanggang telur itu di atas tungku api kecil sembari melihat arloji untuk menghitung lama waktu berlangsungnya pemanggangan.

Tapi apa yang terjadi? Isaac Newton tanpa sadar memanggang arlojinya di atas tungku api kecil itu sembari menatap kosong ke arah telur. Beberapa saat lamanya, Isaac Newton melakukan hal tersebut hingga akhirnya ia menyadari kesalahan yang dilakukan. Ia sadar bahwa ternyata sedari tadi yang dipanggangnya adalah ‘arloji’ padahal seharusnya ‘telur’, dan yang ditatapnya dengan mata kosong itu ternyata ‘telur’ padahal seharusnya ‘arloji’. Begitulah penemu hukum gravitasi yang jenius ini pun mengalamai absent minded....

Kisah lembar jawab dan soal
Di tahun 2003-an pada ujian kenaikan kelas dari kelas II ke kelas III KMI, saya pernah mengalami peristiwa sejenis. Nggak tahu ya, mungkin saking ‘spaneng’nya pikiran (terlalu fokus), hingga tanpa sadar saya mengumpulkan lembar soal sedangkan lembar jawab saya bawa ke luar ruangan. Ketika saya hendak membahas beberapa soal dengan teman, saya begitu kaget bukan main..... ternyata yang saya pegang adalah “lembar jawab”!! Berarti yang saya kumpulkan adalah lembar soal....
“Duh! Mati aku....... “ pikirku waktu itu.
Untung saja aku masih di dekat pintu keluar, langsung saja aku masuk dan menghadap guru pengawas. Waktu itu gurunya adalah seorang ustadz dari NTB yang kami kenal lumayan “strengh”... Ustadz Bisri nama beliau.
“Ya Allah, moga- moga ustadz maklum dan tidak mempermasalahkan,” pikirku harap-harap cemas. Sebagaimana biasa di Pondok Gontor, segala bentuk ketidakjujuran akan diberi ‘ganjaran’ sangat berat seperti dikeluarkan dari Pondok. Dan kejadian yang ku alami kali ini, cukup ‘berpotensi’ untuk dinilai seperti  itu. Sekalipun kenyataannya benar-benar lupa.
Ustadz Bisri menatapku dingin, agak lama, aku sendiri agak deg-degan sambil menundukkan tubuh posisi sedikit memohon.
“Sudah, sana ditukar!!” ucap beliau.
“Alhamdulillah.....” lega rasanya.
Aku benar-benar shock mengalami hal itu. Begitu aku ceritakan ke temen-temen di kamar (waktu itu di gedung Aligarh lantai II sebelah barat, gedung RCKB)... temen-temen pada koment, “Wah, kok bisa sih seperti itu, Pul??!! Untung ustadz nggak mempermasalahkanmu...”

Setelah musim ujian akhir tahun itu selesai, dalam acara Evaluasi Ujian dan Pengarahan di Aula BPPM, ustadz Badri (Direktur KMI waktu itu) menyebutkan kejadian-kejadian unik selama ujian. Dan tanpa menyebut nama, beliau menyebut peristiwa adanya santri yang mengumpulkan lembar soal dan membawa ke luar lembar jawab. Dan aku yakin ‘aktor’ dari kejadian itu adalah aku....
Ketika giliran Ustadz Syukri (Pimpinan Pondok) naik ke mimbar, beliau mengomentari peristiwa itu,”Yang dikumpulkan kok lembar soal, santri ini pikirannya ke langit.....”

Begitulah kejadian ‘absent minded’ku....
Dan peristiwa “tertukarnya lembar soal-jawab” ini rupanya terulang di tahun berikutnya. Tapi oleh ‘aktor’ lain, dan nasibnya nggak seberuntung aku, kenaikannya konon dibatalkan (atau sangsi lain yg berat... aku lupa-lupa ingat). Dia diganjar sangsi seberat itu, soalnya dia terbukti terlalu ‘jauh’ membawa lembar jawabannya. Konon dengan sengaja membetulkan jawabannya lalu menukarkan kembali ke ruang ujian dengan alibi  “absen minded”...... Ya, alibi yang tidak diterima.

Kisah-kisah lain
Selain kisah itu, saya juga mengalami beberapa kali “absent minded” di antaranya seperti membawa ‘sajadah’ ke kamar mandi padahal kan seharusnya ‘handuk’, kelupaan makan atau minum saat berpuasa, dan sebagainya.
Absent minded yang cukup ‘parah’ juga pernah dialami sahabat saya (alm) Saiful Azhar yang membawa motor dari rumahnya di sekitar Gedung Asia (Timur Pondok) hingga depan BKSM, di depan BKSM ini dia baru sadar kalau aku belum membonceng di belakangnya. Dia pun balik, sembari keheranan, dalam jarak sejauh itu mengira bahwa aku sudah naik motornya. Padahal kan belum....

Absent minded pada kadar ringan hingga berat bisa sering kita jumpai, seperti orang yang tidak sadar membawa pulpen yang bukan miliknya, kelupaan di mana menaruh barang, berpakaian full dress ke kantor tapi tanpa celana panjang (masih pakek kolor doang) dan seterusnya.

Antara absent minded dan lupa
‘Absent minded’ mungkin sama saja dan merupakan bagian dari ‘lupa’, tetapi kadarnya yang lebih parah. Di mana tingkat kelupaan itu tidak hanya terjadi pada pikiran yang kehilangan memori, tapi hingga taraf melakukan perbuatan di luar kendali pikiran. Hanya saja, absent minded biasanya berlangsung tidak lama dan tidak permanen. Berbeda dengan gila atau hilang akal. Pada kasus-kasus absent minded, biasanya seseorang tengah ‘terjebak’ dalam suatu pikiran sesaat yang dalam, sehingga pikiran melepaskan kendali dan membiarkan fisiknya/tubuhnya melakukan sesuatu berdasarkan kebiasaan. Beberapa pendapat mengatakan, absent minded sering diakibatkan oleh emosional yang mendalam.

Antara absent minded dan amal ibadah
Dalam sebuah hadist Rasulullah SAW disebutkan, bahwa ada 3 golongan orang yang kesalahannya tidak dicatat (dimaafkan), yaitu orang tidur sampai ia bangun, anak kecil sampai ia dewasa, dan orang gila sampai ia sadar (kembali ingatannya). Masuk dalam kategori ini adalah orang yang lupa, bahkan orang yang sedang berpuasa (puasa Ramadhan maupun puasa sunnah lain) lantas kelupaan makan maka puasanya tidaklah batal.

Dari sudut pandang ini, disimpulkan bahwa nilai perbuatan seseorang itu amat tergantung dari motif (niat) yang dikandungnya. Orang yang secara lahiriyah melakukan perbuatan baik, tapi batinnya tidak berniat untuk itu, maka perbuatan baik itupun tidak bernilai. Sebaliknya, orang yang melakukan perbuatan buruk tapi benar-benar di luar keinginan/niatnya, dia tidak dianggap bersalah.

Di sinilah agama Islam mendudukkan niat sebagai asas pertama dan utama bagaimana segala amal perbuatan ditentukan hukum-hukumnya. Innamal-a’maalu bin-niyaat..... sesungguhnya semua nilai amal perbuatan itu amat tergantung dari niatnya.

Dalam kaitannya dengan absent minded ataupun lupa, Rasulullah SAW bersabda.”Sesungguhnya manusia itu tempat salah dan lupa.”
Dan sikap terbaik orang yang telah berbuat salah adalah bertaubat, dan orang yang lupa dimaafkan.....
Tentunya lupa (dalam bahasa Jawa disebut “lali”) berbeda dengan lalai... karena lalai adalah sikap sengaja tidak peduli dan tidak mau mencurahkan perhatian kepada sesuatu yang mustinya diperhatikan.

Mungkin Anda punya pengalaman absent minded? Silakan berbagi...
Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari kisah ringan ini.



Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © ISB Corner -Imam Saiful Bahri- Powered by Blogger - Modified by ISB Corner -