Minggu, 17 April 2011

-->
Banyak orang-orang fenomenal di dunia showbiz, tapi orang-orang ini lebih dikatakan fenomenal karena sebelumnya sama sekali tidak tampak di acara apapun di media massa, paling mereka eksis di lingkup lokal saja. Dan untuk dikenal meluas, mereka tidak butuh banyak waktu lama.

Bagaimana pendapat Anda setelah melihat munculnya manusia-manusia ‘fenomenal’ ini? Mungkin analisa Anda akan beragam. Munculnya fenomena ini bisa disebabkan banyak faktor baik dari sisi ekonomi, politik, sosial, budaya dan lain-lain. Atau dari sisi masyarakat Indonesia yang sudah bosan dengan itu-itu “saja”, ataukah fenomena itu sekedar konspirasi ‘bawaan’ dari kalangan media massa yang selalu butuh ‘materi’ yang membuat tayangan mereka laku. Silakan saja Anda berkomentar. 

Tapi ada satu hal yang mungkin bisa saya bagi di sini, yaitu satu kutipan dari hadist Nabi Muhammad SAW, bahwa “hari kiamat tidak akan datang, sampai para penggembala bisa membangun gedung-gedung.” "Penggembala" adalah kiasan orang biasa dan "membangun gedung" adalah kiasan dari kemampuan luar biasa bagi orang biasa, yach...fenomenal...
Mereka inikah penggembala yang membangun gedung-gedung?


Inul Daratista
Di tahun 2003-an media dihebohkan dengan muncul-nya kaum dangdut pinggiran ke panggung hiburan ibukota, yang di-icon-i Inul Daratista. Perempuan yang bernama asli Ainu Rohimah yang dikenal dengan “goyang ngebor’nya ini, hadir begitu fenomenal di media tanah air. Kehadiran artis Probolinggo yang mengusung dangdut koplo dan goyangan erotisnya ini cukup memunculkan pro dan kontra.





Mbah Surip
Di tahun 2009-an lalu, seorang penyanyi asal Mojokerto hadir ‘mengusik’ jutaan pemirsa televisi dengan lagu fenomenalnya “Tak Gendong Kemana-mana”. Konon, dari beberapa minggu saja, RBT-nya telah menghasilkan royalti milyaran. Namun setelah kemunculannya yang fenomenalnya ini, penyanyi beraliran regge ini buru-buru dipanggil menghadap ilahi. Konon penyebab kematiannya karena kecapean memenuhi jobs-nya yang ‘mbanjir’,  juga kebiasaanya yang mengkonsumsi kopi kental.




Ponari
Adalah seorang bocah yang saat hujan lebat dan petir menyambar tiba-tiba melihat secuil batu jatuh dari ‘langit’. Dia memungutnya. Lalu dalam waktu yang singkatpun khalayak ramai mendengar kisah ini. Ketika ada beberapa orang terbukti sembuh setelah meminum air yang dicelupi batu ‘langit’ ini. Maka mereka menyimpulkan, bahwa si anak dengan batu ini telah “terberkati”. Berduyun-duyun  lah hingga puluhan ribu orang yang rata-rata adalah kaum berekonomi lemah, datang dari berbagai daerah untuk antri di rumah Ponari di Jombang untuk berharap kesembuhan. Media yang mencium fenomena ini pun mengeksposnya, sehingga Ponaripun menjadi semakin fenomenal.



Sinta-Jojo
Dua gadis ABG dari Bandung (kalo nggak salah) adalah dua penyanyi lipsing (menyanyi hanya bibirnya saja, menirukan suara penyanyi asli). Yang tiba-tiba fenomenal setelah tingkahnya menyanyi lipsing dengan lagu “Keong Racun” diunggah di YouTube. Tak ayal lagi, lagu Keong Racun yang konon hanya dikenal di daerah Jawa Barat jadi terkenal seantero tanah air. Media yang “haus” akan materi “penarik” agar orang menonton tayangan mereka pun, segera seolah sepakat “memfenomenalkan” dua gadis ini. Jadilah keduanya terkenal, hanya mungkin sayang karena telenta menyanyi yang lemah, kehadiran mereka di ajang hiburan kurang bisa terus melejit secara konstan.

Gayus & Mirip Gayus
Pegawai pajak, Gayus Tambunan, yang heboh.. karena kok bisa pegawai dengan golongan IIIB (gaji tidak lebih 5 juta per bulan) bisa punya rumah mewah bernilai milyaran rupiah. Dari mana bisa diterima nalar? Berawal dari kasus terbongkarnya mafia pajak, semua ketidakmungkinan ini mulai bisa dijawab. Rupanya Gayus lebih memilih ‘sedikit’ kemakmuran untuk dirinya dan merelakan lenyapnya pajak untuk kemakmuran rakyak banyak, karena urung dibayarkan para wajib pajak. Kasus yang ‘rumit’ apalagi diselingi dengan ‘kaburnya’ Gayus pada masa tahanan, semakin membuat sosok Gayus Tambunan menjadi fenomenal. Hingga bisa dikatakan, orang Indonesia mana yang tidak kenal Gayus?

Selain memunculkan berbagai ‘kritikan dan sindiran’ lucu tentang Gayus dalam bentuk kartun, desain grafis, karikatur dan sebagainaya, juga muncul orang Gorontalo bernama Bona yang ‘memiripkan’ diri sebagai gayus dengan lagunya “Andai Aku Gayus Tambunan”. Lagu kritik untuk Gayus ciptaannya cukup fenomenal. dan dia sempat diundang di berbagai acara televisi.




Irfan Bachdim
Piala AFF 2010 dan Irfan Bachdim. Kedua nama itu di mata orang Indonesia era ini tentu tidak bisa dipisahkan. Pada ajang itulah nama Irfan Bachdim menjadi fenomena bagi pecinta “Garuda” Timnas Indonesia. Irfan Bachdim dianggap sebagai ‘icon’ kebangkitan persepakbolaan tanah air. Irfan tentu tidak sendirian, ada pemain lain yang tidak bisa dikecilkan perannya, seperti Firman Utina, Christian Gonzales, Bambang Pamungkas, dan lainnya. Tetapi menonjolnya nama Irfan tentu juga tidak bisa dipungkiri. Saat musim Piala AFF di akhir 2010 itu, menjadi hari-harinya Irfan Bachdim. Tidak ada hari tanpa menyebut Irfan Bachdim, dan tidak ada media massa yang tidak memuat Irfan Bachdim, dan tak terhitung lagi orang atau anak-anak memakai kaos bernomor 17 bertuliskan Irfan Bachdim.


Briptu Norman
Seorang anggota Brimob Gorontalo, di pos jaga, dengan ekspresifnya menyanyi lipsing lagu Shah Rukh Khan “Chaiya Chaiya”. Penampilan itu terekam video, akhirnya ter-upload-lah ke YouTube dengan tajuk “Polisi Gorontalo Menggila”. Media mencium itu dan mengeksposnya. Semula aksi unik Briptu Norman itu akan ‘dipermasalahkan’ atasannya, tetapi setelah begitu fenomenal dan ditangkap POLRI sebagai ‘moment penting’ menunjang program Polisi yang ingin lebih bersahabat dengan masyarakat, akhirnya aksi inipun ‘direstui’ dan ‘didukung’. Briptu Norman pun ‘disunggi’ ke mana-mana, didaulat mengisi berbagai acara, hingga rekaman segala.
Akankah Briptu Norman melepas seragam polisinya?
Kalau masih mau jadi polisi, saran saya aksi Briptu Norman itu dikontrol. Sebab salah-salah hanya akan menjatuhkan wibawa kepolisian.
Okelah, mendukung tampilan Briptu Norman yang ‘bersahabat’ kepada masyarakat, tetapi secara keseluruhan anggota kepolisian tidak menangkap isyarat ini, percuma jadinya.
Ini terbukti, ketika awal kemunculan Briptu Norman akan dijatuhi sangsi itu, menunjukkan bahwa atasannya saja belum menangkap “program bersahabat’ kepada masyarakat ini.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © ISB Corner -Imam Saiful Bahri- Powered by Blogger - Modified by ISB Corner -