Kamis, 24 Maret 2011


Seiring pesatnya perkembangan Islam di dunia Barat, berkembang pulalah pemandangan di mana kaum perempuan muslim yang mengenakan hijab. 

Sontak, pemandangan ini mengundang reaksi dari masyarakat mayoritas Barat bahkan beberapa pemerintah negara Eropa ada yang sempat membatasi hingga melarang penggunaan hijab ini. 

Hijab bagi mereka tidak lain merupakan simbol yang hanya menunjukkan eksklusifitas kelompok atau golongan, dan mulai dinilai 'mengganggu' karena perkembangannya yang relatif pesat.

Sementara, bagi perempuan muslim sendiri, menggunakan hijab merupakan suatu bagian tak terpisahkan dalam menjalani dan memeluk agamanya. Karenanya jawaban inilah, sebagian orang Barat menilai bahwa peraturan hijab oleh suatu agama merupakan bentuk pengekangan kebebasan dan merendahkan derajat perempuan.

Bagaimana kaum perempuan semestinya menjawab penilaian itu?
Berikut ulasan singkat tentang bagaimana hijab di kalangan kaum perempuan muslim taat.  
Di dunia Islam, seksualitas dan percintaan tidak dipamerkan di jalan-jalan. Pornografi tidak bisa diterima. Lazimnya gadis-­gadis tidak mau melakukan hubungan seks sebelum menikah. Anak haram merupakan sesuatu yang amat langka. Kebanyakan mempelai wanita masih perawan saat mereka menikah. Iklan-iklan yang menawarkan pertukaran istri, pesta nudist di pantai, bar homoseks jarang ditemui di negara-negara Muslim pada umumnya. Pakaian pria dan wanita, termasuk apa yang dinamakan kerudung (hijab), mencerminkan sudut pandang Islam, logis saja bahwa perempuan Islam tidak mau memancing sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.

Menyangkut tubuh manusia, ada satu konsensus dasar antara Timur dan Barat bahwa tidaklah pantas orang berjalan dalam keadaan telanjang kesana kemari dalam kehidupan sehari-hari, kecuali bayi. Tetapi, ada banyak perbedaan menyangkut sejauh mana pakaian dibutuhkan di muka umum.

Di dunia Islam sendiri, tidak ada pandangan yang seragam mengenai masalah ini, seperti yang dapat kita lihat dari pakaian wanita di Maroko, Aljazair, Tunisia, Anatolia, Mesir, Yordania, negara-negara Teluk, Saudi Arabia, Pakistan, Malaysia, dan Indonesia. Pakaian perempuan Muslim di Mesir adalah pakaian menutupi seluruh tubuh dimana tangan dan muka saja yang terbuka dan tidak disuruh memakai cadar. Adapun laki-laki diwajibkan untuk berpakaian pantas.

Di dalam Al Quran, kerudung dengan cadar hanya protokoler yang diterapkan eksklusif bagi istri-istri Nabi. Cadar atau hijab tidak dirancang untuk merendahkan istri-istri Rasulullah SAW melainkan justru sebagai bentuk penghormatan dan simbol status tertinggi. Sepeninggal Rasulullah SAW, istri­-istri beliau menjadi orang-orang yang amat berpengaruh. Mereka memiliki otoritas dalam hal agama dan kerap dimintai konsultasi tentang praktik (sunnah) dan pendapat-pendapat Rasulullah SAW, sebagaimana kita ketahui kedudukan Aisyah menjadi amat penting di dunia politik daulah Islamiyah.

Pada perkembangannya, perempuan-perempuan lain iri akan status istri­ Rasulullah SAW dan menuntut agar mereka diizinkan memakai cadar juga. Keinginan para perempuan inipun dibolehkan karena memang protokoler cadar/hijab bisa dijalankan perempuan muslimah manapun sebagaimana istri-istri Rasulullah SAW. 

Maka pada masa itu dan sebagian perempuan muslimah saat ini (yang memahami) bahwa cadar dipandang sebagai simbol penghormatan, kekuatan dan pengaruh, bukan sebagai tanda tekanan laki-laki. Ketika para istri prajurit Perang Salib melihat penghormatan sedemikian rupa didapat oleh perempuan muslimah, maka mereka juga mengenakan cadar dengan harapan mereka lebih dihormati dan diperlakukan lebih baik oleh laki-laki mereka. Sehingga pada abad Pertengahan, kaum terpelajar Barat mengkritik Islam karena memberikan terlalu banyak penghormatan kepada para budak dan perempuan.

Memang sulit untuk mengerti simbol-simbol dan praktik-praktik kebudayaan lain. Maka tidak aneh bila perempuan muslim di Indonesia yang merasa kurang bisa menerima kewajiban berkerudung ini, apalagi background pendidikannya memang kurang akrab dengan khazanah Islam. Yang muslim saja se’asing’ ini, apalagi dengan orang Barat dan non muslim?

Maka wajar saja, bila ada penulis Barat menguraikan bahwa kerudung dianggap sebagai memaksakan busana gurun kepada semua perempuan di dunia dan hal itu merupakan suatu bentuk imperialisme budaya. Kaum perempuan Barat menilai kebudayaan perempuan Muslim sebagai kebencian terhadap perempuan dan kebanyakan agama Islam berisikan hal-hal (bersifat) laki-laki dan memiliki bias patriarki. Hal ini menunjukkan kurangnya pengetahuan mereka terhadap sejarah.

Di abad ke-7, ketika Eropa masih dipenuhi kegelapan, kediktatoran penguasa, perbudakan dan dominasi laki-laki atas perempuan, maka perempuan-perempuan di negeri-negeri Islam sudah mendapatkan penghormatan sedemikian rupa, dihargai kewenangannya mendidik anak-anak, hak belajar dan menjalankan agama yang sama dengan laki-laki, dan bahkan perempuan muslim sudah diberi hak mengajukan tuntutan perceraian ketika tidak lagi berbahagia dengan pernikahannya.

Pada perkembangannya saat ini, orang Eropa mulai menyadari bahwa mereka salah interpretasi dan memandang rendah kebudayaan tradisi lain di koloni-koloni dan protektoriat mereka. Laporan sebuah majalah hukum di Perancis "LA VIE JURIDIQUE DES POYPLES", menyatakan: "Dalam hukum Islam, hak-hak kaum wanita jauh lebih luas dari pada hak-hak kaum wanita dalam konsepsi hukum sekarang”.

Banyak perempuan Muslim hari ini, bahkan mereka yang dibesarkan di Barat, merasa tersinggung ketika kaum perempuan Barat melontarkan penilaian negative. Mereka membela Islam bahwa Islam tidaklah lebih buruk dibandingkan dengan tradisi lain.
Kini ketika sebagian perempuan Muslim kembali pada busana tradisional mereka, ini tidak selalu berarti bahwa otak mereka telah dicuci oleh agama gurun, melainkan karena mereka menemukan bahwa kembali ke akar budaya yang memberikan penghormatan dan kepuasan jiwa mereka.

Jika disimak Bibel, ternyata ada kewajiban bagi umat Kristiani yang perempuan untuk berkerudung, "Sebab jika perempuan tidak mau menudungi kepalanya, maka haruslah ia juga menggunting rambutnya. Tetapi jika bagi perempuan adalah penghinaan, bahwa rambutnya digunting atau dicukur, maka haruslah ia rnenudungi kepalanya."

Dari buku “Menjawab Buku Islamic Invation (Robert Morey)” tulisan Hj. Irene Handono
dan beberapa catatan.

Gambar diambil dari www.meefta.blogspot.com

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © ISB Corner -Imam Saiful Bahri- Powered by Blogger - Modified by ISB Corner -