Kamis, 31 Maret 2011

Suatu hari.... sekitar tahun 1997-an, tepatnya di gedung Yaqdhah Pondok Gontor, aku dan teman-teman kelas VI B (kelas III SMA-an) saat itu sedang tenggelam dalam suasana hati masing-masing. Kami menghadap ke depan kelas, ke arah barat. Waktu itu gurunya sedang tidak masuk, jadi ditunggui oleh guru pengganti. Sayang sekali saya lupa siapa guru pengganti ini, padahal dari mulut beliau inilah akan keluar kata-kata yang akan terus melingkupi perjalanan saya kelak, tepatnya hari ini di sekolah tempat saya mengabdi.

Kalau kelas kosong begitu, guru pengganti biasanya nungguin aja selama beberapa waktu, ada juga sih guru yang menggunakan waktu itu untuk memberi motivasi dan nasehat. “Silakan belajar sendiri-sendiri. Saya akan temani Anda hingga khisoh (jam pelajaran) selesai.” Kira-kira begitulah ucap Ustadz pengganti.
Entah apa yang dilakukan teman-teman, yang jelas waktu seperti itu pasti ada aja yang make’ kesempatan untuk ‘adding’ (istilah lain dari ‘tidur tambahan’), ada juga yang khusu’ menghafal, ada yang ngobrol lirih sambil membahas politik-politik gitu, ada yang guyonan dengan suara yang riuh rendah.

Sementara biasa, waktu seperti itu aku pakai untuk ‘nggaris’. ‘Nggaris’ adalah istilah lain dari membuat bagan (peta konsep) dari buku pelajaran. Biasanya aku sediakan satu lembar kertas untuk merangkum seluruh isi buku, karena bukunya amat tebal dan isi buku yang padat maka padat pulalah garisan/peta konsep dalam satu lembar itu. Kebiasaanku ini sudah dibaca oleh Asif Trisnani, temanku dari Eksperimen (sekarang Kelas Intensif istilahnya). Bahkan sebenarnya dialah yang menciptakan istilah ‘nggaris’ ini, kalau aku sih menyebutnya ya ‘membuat bagan’. Kembali ke suasana kelas tadi....
 Asif Trisnani (Tengah), Abdul Halim Syihab (Kanan)
Keduanya dulu pernah di VI B 97-98 KMI Gontor

Yach, di saat aku sedang fokus total mencari benang-benang merah dari isi buku untuk kutuangkan dalam peta konsep itu, hening kurasa.... tiba-tiba......ada suara yang terasa amat sangat mengusik datang dari arah belakang. Suara itu terasa sangat akrab, dan sering aku dengar, bahkan dengan kata yang sama. “Nggaaaaaris Eneeeeh.....” bisik Asif dari arah belakang. Pelan memang, tapi suara yang diarahkan tepat dan dekat ke telingaku ini, terasa amat sangat mengusik dan mengoyak keheningan di alam fikiranku, rasa kesal tiba-tiba menyeruak di dadaku, dan sungguh......................... di luar kesadaranku aku sekuat tenaga berteriak sembari menoleh ke arah Asif yang berada di belakangku, “Sinau Eneeeeeh.....!!!!!!!!” Begitu aku meneriaki Asif seperti itu (karena biasanya dia suka membaca, menghafal dan menelaah), tiba-tiba aku tersadar ternyata sedang berada di kelas yang ditunggui Ustadz (maklum ya kalau di Pesantran gitu, Ustadz itu amat sangat dihormati dan disegani). Gantian suara kerasku yang menghancurkan keheningan kelas, kalau suara Asif tadi hanya berbisik, suaraku ini sudah setingkat dengan membentak tapi lebih panjang dan ‘diserakkan’. Aku benar-benar kaget.....

Ustadz yang dari tadi duduk tenang sembari membaca buku di atas kursi guru (kursi guru di Gontor dibuat lebih sehingga guru bisa mengawasi seluruh ruang), segera mengarahkan pandangannya ke aku. Begitu juga seluruh teman di kelas.

Sementara, semua berhenti dari aktivitasnya..... karena sepertinya Ustadz akan ‘membahas’ aku. “Pul, Limadza ente?” tanya lirih teman-teman. Sementara Asif kecikikan bersama teman-teman di bangku belakangku...

“Ta’al hunaa!!” panggil Ustadz. Akupun melangkah ke depan sambil merapikan lengan panjang yang terlipat.

“Ech, sial aku hari ini..... “ pikirku waktu itu. Terkadang pelanggaran-pelanggaran adab seperti itu, memang bisa kena hukuman keras berupa fisik. Ya bisa aja dijewer, dibentak, bahkan mungkin juga ditempeleng (ditampar, pen.)

“Dengarkan semua!!” Seru Ustadz ke teman-teman di kelas. Sedangkan aku berdiri di samping Ustadz juga menghadap ke teman-teman. 
“Anak B memang saya akui cerdas-cerdas. Istilahnya memiliki IQ yang tergolong tinggi. Tapi dari yang saya baca, kini ada penemuan baru, bahwa kesuksesan seseorang tidak hanya tergantung pada IQ-nya atau Intellegence Quotien saja, malah justru amat bergantung kepada EQ (Emotional Quotien), yaitu kemampuan mengontrol dan mengolah emosi.” Begitu ucap ustadz itu. “Sudah! Silakan duduk...”

Lega rasanya...ternyata Ustadz hanya menasehatiku, tidak ada hukuman fisik-lah.... Sepertinya dia tahu kalau aku sedang ‘emosi’ (dalam arti marah) ke temen yang ngerjain aku. Dua hal yang aku ingat dari peristiwa itu yaitu pertama istilah IQ dan EQ, dan kedua tentang kebiasaanku “nggaris” dulu. Kalau yang kedua ini memang diingatkan oleh Asif belakangan ini. Karena istilah ini memang dari dia. Dan lucunya... dia sampai saat ini masih sering menyindirku dengan istilah ini.

Tahun 2007-an lalu, sepuluh tahun semenjak kejadian itu, aku menemui Asif di perumahan dosen (Ya, dia sekarang jadi dosen ISID Gontor), tak kusangka dan tak kuduga, aku melihat di meja di sudut ruang tamu ada kertas tergeletak di atas meja..... Tahukah Anda.... ternyata kertas itu berisi bagan-bagan dan peta konsep...... “Sif-sif bak’e koe ora seneng sinau saiki, tapi nggaaariis eneeeh....” (Sif-sif ternyata sekarang kamu tidak hobi belajar, tapi kok ikutan bikin-bikin peta konsep). Tapi benar juga kata orang Jawa, “Alok kui Melok”, maksudnya orang yang suka mengolok-olok nantinya dia sendiri yang akan mengerjakan/mengalami.

Sementara istilah IQ dan EQ kini sangat akrab dengan pekerjaanku di SDMT Ponorogo. Karena saat ini, SDMT memang tengah menggunakan IQ dan EQ sebagai jargon sekolah. So, benar-benar teramat familier-lah jadinya.....
Lha, kalau ini kelas VI habis lari Jumat Pagi 
bersama (Alm) Ust. Ali Syarqawi, Lc.

Coretan ini Tribute to Asif Trisnani and Class Six B 1998
Good Luck!!

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © ISB Corner -Imam Saiful Bahri- Powered by Blogger - Modified by ISB Corner -