Selasa, 15 Februari 2011

Beliau bernama Ustadz Atim Husnan. Sekarang sudah tiada. Beliau pernah menjabat sebagai Direktur KMI Pondok Modern Darussalam Gontor (mungkin semacam Kepala Sekolah SMP-SMA begitu). Di Gontor kala itu, 1995-an, beliau sering dijuluki Profesornya Nahwu (Tatabahasa Arab) Gontor. Bahkan konon, teman-teman yang hendak melanjutkan ke Al-Azhar Mesir atau perguruan Islam internasional lainnya, haruslah mendapatkan rekomendasi dulu dari beliau.

Di kelas VI KMI (atau XII SMA) beliau pernah mengajar saya, dan di sela-sela pembelajaran sering memberikan wejangan atau tausyiah. Dengan mimik yang tenang dan sedikit mendongak seperti sedang memejamkan mata, beliau meluncurkan nasehat-nasehat. Di antara nasehat yang berkesan adalah tentang “Jangan Rugi Dua Kali!”
Karena nasehat ini terasa unik, seringkali teman-teman tersenyum-senyum tergelitik. Kira-kira bunyi nasehat “Jangan Rugi Dua Kali!” adalah seperti ini:

Tentang Kehilangan Barang
“Kalau kamu kehilangan barang, jangan bersedih! Itu namanya rugi dua kali. Kalau sandalmu hilang, relakan saja, tidak perlu bersedih. Sandal hilang itu satu kerugian, jangan malah kamu tambah dengan bersedih. Sedihmu itu kerugian yang kedua. Jadi orang yang kehilangan barang lantas bersedih itu rugi dua kali. Itu bodoh namanya. Kalau sudah hilang ya relakan saja! Tidak perlu bersedih.”

Dan ditambahi pula keterangan yang lucu-lucu menjengkelkan.... “Lagian barang itu kan sebenarnya tidak hilang atau menghilang, barang itu hanya berpindah tempat, atau berada di suatu tempat yang kamu tidak tahu. Sudahlah relakan saja, cukup rugi satu kali saja, jangan kamu tambahi dengan rugi yang kedua (bersedih).”
Satu hal yang mungkin bisa kita petik dari pesan ini, bahwa supaya kita pandai-pandai mengendalikan emosi dalam diri kita. Kalau istilahnya AA Gym mungkin, manajemen kalbu. Artinya bagaimana kita bisa menyadari bahwa emosi negatif semisal bersedih, marah, takut dan sejenisnya, itu merupakan suatu kerugian yang harus dihindari atau setidaknya dikendalikan.

Tentang Belajar Nahwu (Ilmu Tata Bahasa Arab)
“Belajar Nahwu itu bukan untuk Nahwu. Belajar Nahwu itu untuk kehidupanmu. Dengan Nahwu kamu bisa mempelajari Al-Quran- Hadist dengan baik, bisa lebih menghayati sholat, doa-doa dan ibadahmu sehari-hari itu, ini namanya belajar Nahwu untuk hidup. Hidup di dunia dan akherat.”

Kalau kamu belajar Nahwu hanya untuk mencari nilai Nahwu yang bagus, itu namanya belajar Nahwu untuk Nahwu. Itu namanya suatu kerugian. Apalagi kalau kamu tidak paham dan nilaimu jelek, kamu rugi dua kali! Sudah nilai Nahwumu jelek, Nahwumu tidak bisa dipakai untuk kehidupanmu nanti, rugi dua kali itu namanya... buang-buang umur saja!!”

Di antara pesan yang bisa kita ambil dari nasihat beliau ini adalah bagaiman kita merekonstruksi kembali motivasi/niat belajar kita. Apakah semata-mata hanya untuk nilai dalam arti angka-angka, ataukah kita mengarahkan belajar kita ke tujuan jangka panjang yang jauh lebih penting, berguna dan nyata. Sehingga untuk mencapai tujuan sejauh itu, apa yang ada di hadapan kita hari ini haruslah kita jalani sebaik-baiknya sehingga manfaatnya bisa dirasakan kemudian hari. Sebab setengah-setengah melakukan apa yang ada sekarang, sama saja hanya buang-buang waktu saja.

{ 1 komentar... read them below or add one }

  1. Alhamdulillah, kemaren habis bahas ttg Ust Atim, ternyata 'ketemu' lagi di sini, sayang beliau sudah meninggal. Allaahumma-ghfir lahu....
    Kalau ada cerita tentang beliau lagi, mohon dipost ya, penasaran.com, hehehe, syukran.

    BalasHapus

- Copyright © ISB Corner -Imam Saiful Bahri- Powered by Blogger - Modified by ISB Corner -