Selasa, 15 Februari 2011

Santri Gontor itu biasa dibombong (dimotivasi) oleh para Kyai mereka, dan kadang juga biasa dibikin down dan dijatuhkan mentalnya. Mereka yang sekiranya mendapatkan prestasi belajar kurang, biasanya yang dimotivasi agar tidak menyerah dan terus berjuang-belajar sungguh-sungguh.

Sedangkan mereka yang memiliki prestasi bagus, seringkali dijatuhkan agar tidak sombong dan takabbur, dan sadar masih banyak kekurangan yang harus disempurnakan.

Hal ini aku alami sendiri, yaitu pada waktu ujian syafawi (lisan) bahasa Arab kelas VI KMI Gontor. Tempatnya di Gedung Syanggit belakang Masjid Besar Pondok Gontor. Di antara pengujinya adalah Ust. Atim Husnan (Almarhum).

Di saat akhir ujian lisan itu aku merasa hampir lega, karena ujian lisan yang terberat di KMI Gontor ini akan segera usai, tiba-tiba ada 2 (dua) pertanyaan disampaikan oleh Ust. Atim. Yaitu masih berkaitan dengan materi bahasa Arab/Nahwu yang aku pelajari selama ini, Cuma soal yang ini benar-benar di luar dugaanku dan mungkin dugaan semua teman seangkatan-ku.

Perasaanku, pertanyaan ini benar-benar tingkat tinggi, artinya butuh kematangan luar biasa menggabungkan seluruh ‘rumus dalam tatabahasa Arab’ yang pernah kupelajari. Singkat kata, dua pertanyaan itu tidak mampu aku jawab dengan baik!

Untuk ketidaksanggupanku yang pertama, Ust. Atim menyampaikan satu komentar yang lumayan menjatuhkan mental, “Begini kok, kelas VI B, apa bedanya dengan kelas VI L.” (di Gontor B itu katanya terbagus, karena memang tidak ada A).

Untuk ketidaksanggupanku yang kedua, Ust. Atim menyampaikan lagi satu komentar yang terasa benar-benar ingin ‘mengha bisi’ aku saat itu, “Begini kok, kelas VI, apa bedanya dengan kelas II.” 
(Kelas VI sejajar dengan Kelas XII SMA saat ini, Kelas II sejajar dengan Kelas VIII SMP).

Habis sudah, seluruh kegembiraan yang kukumpulkan selama ujian lisan itu berlangsung. Aku keluar dari ruang ujian lisan itu merasakan kehambaran luar biasa, sembari melangkah ke BPPM (Aula Pondok) untuk segera menemui teman-teman dan berbagi ‘kejatuhan’ ini.

Beginilah di antara cara para Kyai Gontor menggembleng mental-mental santrinya, agar tetap tumbuh dengan baik, penuh percaya diri, namun di sisi lain tetap merasa tawaddhuk dan merasa perlu terus memperbaiki diri.


Nach, beginilah suasana ujian lisan (syafahi) di KMI Gontor, yang nguji seabrek guru (ustadz). Kalau yang ini emang di Gontor Putri, tapi sama aja lah yang di Putra...





Gambar diambil dari http://gontor.ac.id/img/suasana-ujian-lisan 

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © ISB Corner -Imam Saiful Bahri- Powered by Blogger - Modified by ISB Corner -