Jumat, 11 Februari 2011

Setiap hari dan setiap tempat selalu ada Adji Massaid - Adji Massaid, maksudnya orang yang mengalami nasib serupa nasib Adji Massaid, yaitu meninggal dunia.

Seorang teman saya berseloroh, "Adji Massaid 'mlulu' yang dibahas TV, kayak ga' ada topik laen aja.... Apa sih pentingnya Adji Massaid!"

Terlepas sependapat atau tidak, saya lebih tertarik membahas tentang 'kematian'nya dari Adji Massaid sendiri.

Maksud saya, Adji Massaid itu hanyalah sebuah nama, namun yang perlu dijadikan perhatian bukanlah sosoknya, tapi justru "kematian"nya, yang saya kira sadar atau tidak sadar sempat menyentuh perasaan siapapun yang pernah atau sempat tahu tentang Adji Massaid.

Ketika seseorang meninggal dunia, siapa yang paling 'terpengaruh' atau paling 'merasakan' kehilangan? Jawabannya tentu orang-orang yang mengenalnya dengan baik dan dekat, seperti saudara, orang tua, keluarga, teman, tetangga, rekan, dst.

Semakin dekat seseorang mengenal, maka semakin dalam rasa kehilangan itu. Artinya ada sesuatu yang tersangkut di hati dan jiwa seseorang ketika seseorang mengenal orang lain. Sehingga rasa kehilangan itu semakin dalam dan semakin sakit bila orang yang dikenalnya itu pergi atau hilang.

Ketika seseorang meninggal dunia, sebenarnya yang tengah diuji perasaannya adalah orang-orang dekatnya yang mengenalnya, seperti keluarga, saudara, famili, teman, tetangga, dan seterusnya. Sebagai muslim, saya yakin bahwa Tuhan sedang menegur orang-orang di sekitar si mati, bahwa semua juga akan merasakannya.

Ketika sahabat saya meningal dunia, seolah ada kalimat terurai dalam benak saya.."Kamu sedih ya... itu wajar karena kamu manusia, dan begitulah manusia. Tapi jangan terlalu larut dalam kesedihan, seolah kamu akan berpisah lama dengan si mati itu, sebab kamu dan semua yang masih hidup ini.... Tidak lama lagi, akan menyusul. Kalian akan mati, segera mati, karena pasti mati."


Teringat sebuah potongan kalimat terucap dari sahabat saya, tentang kiasan lamanya waktu hidup manusia. Kata dia, "Seribu tahun umur manusia itu tidaklah lebih lama dibanding dengan cepatnya satu kepakan sayap malaikat." Dalam hati saya berusaha meyakini.. benar! Hidup ini terlalu pendek.

Syukurnya, saya tidak terlalu larut dengan peristiwa itu. Karena hidup saya masih harus terus berlanjut. Tapi haruskah peristiwa kematian semacam ini hadir untuk dilupakan dan diabaikan begitu saja...???!!

Di satu sisi, pesan 'kematian' tidaklah boleh dilupakan, sebab itu berarti kebodohan, dan sangat bodoh, karena mengabaikan sesuatu yang "paling pasti" terjadi. Namun di sisi lain, saya harus tetap semangat menjalani aktivitas dan hari-hari ke depan. Dengan amat hati-hati, coba saya rangkai dua spirit itu, biar singkron dan tertata dalam diri saya....

"Bismillah, saya akan bekerja sebaik-baiknya, sesemangat-semangatnya, tidak lain untuk mencari yang terbaik, meraih yang terbaik, rela memberikan yang terbaik, dan rela sewaktu-waktu melepaskan yang terbaik, hingga tiba di akhir yang terbaik, ketika akhir yang bernama kematian itu datang."

"Orang hidup itu dilengkapi dengan cinta, dan memang itulah manusia. Tapi setiap cinta yang mengalir dalam diri kita, harusnya juga kita lambari dengan kesadaran. Bahwa pada awalnya cinta itu tidak ada, dan akhirnya akan tidak ada. Cinta terhadap orang tua kita, saudara-saudara kita, teman-teman kita, dan semua...... "kesadaran terdalam" bahwa semua itu akan lenyap, haruslah mulai dan segera ikut ditanam dan tertanam menyertai cinta itu sendiri."


Terangkai sudah kalimat itu, kini tinggal masalahnya.. apakah kalimat itu terdudukkan dengan baik, tertempatkan dengan baik di diri saya, di diri kita semua.

Nah! Bagaimana dengan Adji Massaid?

Bagi saya simpel.... kalau yang meninggal itu tetangga saya, berarti yang diingatkan Allah untuk segera "sadar" itu adalah saya dan orang-orang di lingkungan saya beserta orang-orang yang mengenalnya.

Kalau Adji Massaid yang meninggal dunia, berarti yang diingatkan Allah untuk segera "sadar" selain orang-orang dekatnya adalah para anggota dewan/DPR rekan kerja Adji Massaid, para pemerhati infotainment, dan tentunya jutaan penonton yang setiap hari disuguhi berita itu....

Mungkin pekerja infotainment itu hanya bermaksud menggunakan mementum rating yang lagi mood ke sana, atau dengan sedikit motivasi menghadirkan nuansa kelam haru di depan jutaan penonton.

Tapi, saya lebih suka mengambil sisi positifnya, satu rangkaian peristiwa ini.... yaitu "kematian Adji Massaid yang disiarkan" ini... tidaklah kebetulan! Bagi-Nya..... Dan semua yang direncanakan-Nya, berarti adalah peringatan. Yach, semua ini membawa pesan.

Tinggal kita mampu dan maukah membacanya.....

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © ISB Corner -Imam Saiful Bahri- Powered by Blogger - Modified by ISB Corner -