Sabtu, 05 Februari 2011


Bagi kaum muslimin atau siapapun yang meragukan bahwa Islam mendudukkan laki-laki dan perempuan itu sederajat, berikut di antara ayat-ayat Al-Quran yang bisa dibaca.

1 - Dalam menjalankan ibadah dan ritual beragama lainnya, laki-laki dan perempuan sama-sama diwajibkan. Tidak laki-laki saja, dan tidak perempuan saja. 

Dalam Q.S. Al-Ahzab : 35 disebutkan: Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.

2 - Dalam menjalankan kewajiban beramar ma’ruf nahi munkar dan membangun kehidupan sosial, laki-laki dan perempuan sama-sama diwajibkan. 

Dalam Q.S. At-Taubah: 71 disebutkan: Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”


3 – Dalam peluang beroleh pahala dan janji kenikmatan surga, laki-laki dan perempuan sama-sama besar peluangnya. Dalam Q.S. Ali Imron 195 disebutkan: "Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain.”

Dalam Q.S. An-Nahl 97 disebutkan: Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.”

Dalam Q.S. An-Nisa’ 124 disebutkan: Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, Maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.”

Dan masih banyak lagi ayat-ayat sejenis yang mempertegas bahwa agama Islam mendudukan laki-laki dan perempuan dalam derajat yang sama. Tidak meninggikan yang satunya dan merendahkan yang lain.

Namun apakah lantas Islam bisa dikatakan mendukung “emansipasi”? Mungkin karena pengetahuan saya yang amat terbatas, pertanyaan ini tidak bisa saya jawab dengan memuaskan.

Sebab “apa dulu” arti dari emansipasi itu?
Kalau emansipasi berarti menyamakan laki-laki dan perempuan dalam segala hal, berarti Islam tidak menerima emansipasi, yang seperti itu.

Sebab sekalipun “sederajat” atau punya derajat yang “sama” serta dalam banyak hal memiliki kesamaan, laki-laki dan perempuan secara kodrati tetap memiliki perbedaan. Perbedaan inilah yang menyebabkan laki-laki dan perempuan memperoleh perlakuan yang berbeda pula dalam Islam, tentunya hanya dalam beberapa hal saja.

Sebut saja, bagaimana seorang perempuan begitu ditekankan hormat dan patuh kepada suaminya sebagaimana sabda Rasulullah, “Seandainya manusia boleh menyembah manusia lainnya, maka akan aku suruh perempuan bersujud kepada suaminya.” 

Kiasan semacam ini tidak lain menggambarkan betapa seorang ‘laki-laki’ dalam posisi sebagai “suami’ begitu berjasa bagi perempuan, karena laki-lakilah yang diwajibkan memenuhi seluruh nafkah, melindungi, menyayangi dan mensejahterakan lahir batin sang istri, sementara istri tidak dibebani kewajiban serupa. 

Maka kepatuhan seorang perempuan dalam posisi sebagai ‘istri’ sangat diharapkan sebagai imbal balik. Tapi jangan salah!

Perempuan boleh di bawah laki-laki ketika dalam posisinya sebagai “istri”, tetapi ketika dalam posisi seorang “ibu” perempuan dinyatakan Rasullullah memiliki derajat tiga tingkat lebih tinggi dibanding posisi “ayah” yang ditempati kaum laki-laki. 

Hingga ketika ditanya seorang sahabat manakah di antara ayah dan ibu yang harus lebih dipatuhi, maka Rasulullah SAW menyuruh agar si anak mengutamakan ibunya, lebih dari ayahnya. Hal inipun semata-mata menggambarkan betapa jasa perempuan dalam posisinya sebagai ibu, begitu dihargai dan dijunjung tinggi oleh agama Islam, melebihi laki-laki.

Demikianlah di antara contoh perlakuan ‘berbeda’ yang diberikan Islam pada laki-laki dan perempuan, berbanding lurus dengan perbedaan yang ada pada kedua jenis manusia ini. Di satu waktu yang laki-lakilah yang diberi kedudukan yang lebih terhormat, dan di lain waktu yang perempuanlah yang diberi kedudukan yang lebih terhormat. 

Sekalipun “berbeda” dalam peran, tetapi laki-laki dan perempuan tetap “sama” derajatnya.

Banyak lagi contoh-contoh perlakuan yang sepintas berbeda dan mungkin dipandang diskriminatif dari Islam, seperti tentang hak waris, hak wali, bobot kesaksian dalam pengadilan, kepemimpinan rumah tangga dan politik dan beberapa hal lain.

Memang! Laki-laki dan perempuan dalam sejumlah hal tersebut berbeda, tapi yakinlah bila kita cermati, semua ditata dengan baik oleh Islam sehingga masing-masing perempuan dan laki-laki memperoleh peran berbeda yang sesuai dengan kodratnya, akan tetapi tetap mendudukkan keduanya pada derajat yang sama.

Lantas apakah ayat-ayat Al-Quran mengajarkan emansipasi?

Jawabannya, sekali lagi, amat tergantung dari ‘apa dulu’ arti emansipasi itu.

Kalau emansipasi berarti melibas batas seluruh perbedaan laki-laki dan perempuan, sama dalam peran-tugas dan sama segala-galanya, maka emansipasi bukanlah ajaran Al-Quran. Sebab emansipasi yang tidak menghargai kodrat/fitrah laki-laki dan perempuan yang berbeda dalam beberapa hal, pasti hanya akan menjadi sebab hancurnya tatanan sosial dan kehidupan manusia.

Kalau emansipasi berarti menempatkan laki-laki dan perempuan sederajat dan membagi peran berbeda dalam beberapa hal sesuai fitrah/kodratnya yang berbeda, maka emansipasi semacam ini bisa jadi sesuai dengan ajaran Al-Quran.

Yang jelas, Al-Quran tetaplah Al-Quran, tidak peduli sesuai emansipasi atau tidak, memenuhi kriteria kesetaraan gender atau tidak. Di awal peradabannya, manusia memperbudak perempuan dan hampir-hampir tidak menggolongkannya sebagai manusia. 

Tetapi bukan lantas, di peradaban ini manusia boleh meninggikan derajat perempuan tanpa mengindahkan kodratnya sama-sekali. Untuk itulah, kehadiran Islam sebagai jalan tengah, yang menghapus perbudakan sekaligus mengendalikan kebebasan yang acapkali bablas.

Bagi orang muslim yang beriman, sudah sepantasnya yakin bahwa apa yang diajarkan Al-Quran itulah yang adil dan terbaik. Manusia-lah yang sudah selayaknya belajar dari Al-Quran, kalam dari Sang Khaliq Pencipta manusia dan segenap makhluk lainnya.

Foto diambil dari http://www.jelajahbudaya.com

{ 1 komentar... read them below or add one }

  1. Untuk memahami agama memang tidak hanya perlu pengetahuan, tapi juga perlu keimanan.

    BalasHapus

- Copyright © ISB Corner -Imam Saiful Bahri- Powered by Blogger - Modified by ISB Corner -