Kamis, 02 Desember 2010

Jika Anda yang pernah mengajar di suatu sekolah, apalagi yang sudah berpengalaman puluhan tahun, saya yakin Anda pernah mengalami atau setidaknya menyaksikan kisah yang satu ini, yaitu pertentangan antarguru atau antar kelompok guru, terbentuknya kubu-kubu guru yang berdiri di pihak yang saling berlawanan, baik terang-terangan diketahui seluruh warga sekolah (termasuk siswa), maupun samar-samar, sembunyi-sembunyi dan tertutup rapat-rapat.

Kisah ini adalah kisah nyata yang pernah saya alami dan saksikan di tahun 2000-an, ketika saat-saat pertama saya 'resmi' menjadi guru. Berharap bisa jadi bahan renungan dan pelajaran bagi kita semua, khususnya para guru, kisah ini saya ceritakan.

Untuk menghindari syak-sangka, tokoh-tokoh dan nama-nama tempat saya samarkan.

Kisah dimulai ketika dua orang guru yang sama-sama 'diundang' suatu lembaga pendidikan di sebuah kota penyangga ibukota, berangkat dengan satu tekad untuk menunaikan misi menghidupkan kembali sekolah yang hampir mati, tanpa murid, tinggal bangunan-bangunan yang memang masih megah.

Kesamaan misi ini ternyata tidak membuat dua orang guru itu sama dalam mengambil setiap langkah dan strategi dalam mengembangkan kegiatan pendidikan di sana. Ini lebih dipicu oleh tingkat pengalaman, kepribadian, dan motiv yang berbeda. Cerita ini semakin seru ketika 2 guru 'pendatang' yang diposisikan jadi 'tokoh utama' di sekolah itu berhasil menggandeng guru-guru lokal untuk berpihak dan mendukung mereka.

Satu kubu beraliran konservatif, ingin memajukan sekolah dengan menegakkan disiplin-disiplin dan pakem-pakem yang umumnya berlaku, sementara kubu yang satunya lebih beraliran 'kreatif' dan ingin memajukan sekolah dengan terobosan-terobosan baru tapi terkesan 'ngaco dan nyleneh' terutama bagi orang yang berpandangan konvensional. Untungnya, kedua kubu itu sama-sama memiliki semangat memajukan sekolah.

Untuk menggambarkan bagaimana kedua kubu ini 'perang', sekedar ilustrasi ini mungkin bisa menggambarkan suasana waktu itu .....

Pagi itu, agak siang, terdengar hiruk tawa dari sebuah kelas. Grrrrr....... Rupanya para siswa sedang terpingkal-pingkal dibuat tertawa oleh seorang guru, guru yang sedang 'off' di jam itu jadi melongok melihat kelas yang hampir 1-jam-an pelajaran diisi gemuruh tawa. Lebih mencengangkan lagi, para siswa yang sedang gembira itu tengah menggenggam batangan es lilin dan asyik melumatnya. Guru 'pelawak' ini rupanya 'gembong'nya kubu guru-guru kreatif. Dan yang melongok tadi adalah salah satu anak buah kaum konservatif.

Berita langsung tersebar, dan dedengkot kaum konservatif pun mendengar hal itu dan spontan mengambil langkah, apalagi si konservatif ini adalah 'bos'nya kurikulum, satu bagian yang mengatur dan mengawasi jalannya kegiatan belajar-mengajar.

Satu kelas penikmat es lilin itupun dipanggil ke kantor. Kantor dikunci dari dalam. Para 'tertuduh' itupun diapelkan di ruang tertutup, untuk menghadapi sidang pengadilan supersingkat dan segera menerima keputusan hukum berupa pukulan-pukulan kemoceng dan tentunya bentakan-bentakan. Anak-anak yang notebene sebagai 'kaum yang tak berdosa' itu hanya terdiam, setelah alasan 'diperbolehkan guru pengajar' tidak diterima. Setelah kesakitan dan tertekan batinnya, anak-anak itupun keluar tertunduk malu.

Itulah sepak terjang kubu konservatif bila dihadapkan dengan kubu kreatif.
Kubu kreatif cenderung menggugah semangat dan antusias para siswa untuk menyenangi kegiatan-kegiatan pendidikan, berbagai kegiatan sejenis buka puasa bersama digelar, mancing bareng, jalan-jalan sore, dan sejenisnya. Anak-anak benar-benar dimanusiakan oleh kaum ini. Berbeda dengan kubu konservatif yang serba 'saklek' dan kaku menerapkan aturan. Eit tunggu dulu.....

Bukan berarti kubu kreatif adalah yang terbaik. Fakta berikut ini bisa kita renungkan, siswa-siswa yang wali kelasnya dari kubu kreatifnya, hampir bisa dipastikan, minim menguasai materi, selalu jelek-jelek nilainya, dan tidak lulus ujian nasional. Orang tua/wali murid protes keras dengan perkembangan anak-anak mereka di sekolah itu. Sebaliknya, murid-murid bimbingan kaum konservatif nampak betul prestasinya akademisnya bagus, dan lulus ujian nasional dengan peringkat terbaik di wilayah lokal.

Suasana pertentangan dua kubu ini dapat juga dilihat bagaimana guru-gurunya yang menyindir kubu lain di forum-forum siswa, dan bersitegang terbuka di forum-forum guru. Dua sisi perspektif yang berbeda yang sebenarnya sama-sama benar, dipertentangkan seolah satunya salah dan satunya benar. Yach! di depan para guru dan di depan anak-anak. Dan yang paling menjadi korban dari pertentangan dua kubu guru ini adalah anak-anak yang cerdas, setengah cerdas dan kritis. Semakin mereka mencermati pesan-pesan guru-guru mereka, semakin bingunglah mereka. Mana yang harus dipilih dan diikuti.

Dua tahun berlalu....
Untung saja, lembaga itu, semenjak kehadiran dua 'tokoh' itu nampak berkembang. Siswanya meningkat 3 kali lipat.

Begitulah hari-hari di sebuah lembaga, yang semestinya mengajarkan kerukunan, dipenuhi konflik tajam. Yang semestinya memberikan kedamaian, dipenuhi suasana bersitegang. Yang semestinya memperjelas dan memperkuat tersampainya kebenaran, justru menghadirkan kebingungan.

KESIMPULAN PERTAMA:
Apakah penyebabnya? Belum banyak yang bisa saya petik dan simpulkan, hingga detik ini saya hanya masih bisa mengambil pelajaran bahwa untuk menghindari itu diperlukan KEDEWASAAN, kematangan, jiwa besar, mengeyampingkan ego pribadi, mengutamakan kepentingan bersama, dan semangat selalu memberikan dan menyajikan YANG TERBAIK untuk anak didik kita, sekalipun kita belum menjadi yang terbaik dalam arti yang sebetul-betulnya.


KESIMPULAN KEDUA:
Jadi! Apakah kita nda masih suka begitu? Membuat kubu-kubu di lingkungan pendidikan kita? Maka mungkin kalau boleh saya tebak, bisa salah-bisa benar, kalau kita masih suka buat 'gave' antar guru, maka kemungkinan besar kita belum dewasa, atau masih baru-baru ini terjun di dunia pendidikan, atau terlalu besar ego kita.

{ 1 komentar... read them below or add one }

  1. Ya biasanya malah karena gurunya idealis-idealis itu....

    BalasHapus

- Copyright © ISB Corner -Imam Saiful Bahri- Powered by Blogger - Modified by ISB Corner -