Sabtu, 26 Juni 2010

Pondasi dasar Islam adalah tauhid. Tauhid ialah mengesakan Allah, yaitu meyakini bahwa Allah-lah satu-satunya Tuhan dan menyembah hanya kepada Allah Yang Satu.
Tauhid ada 3 macam, yaitu tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah dan tauhidul asma’ was-shifat.

1. Tauhid Rububiyah ialah meyakini bahwa Allah itu ada dan Allah satu-satunya yang Maha menciptakan, menguasai, dan mengurus alam ini.
Az-Zumar 62, Hud 6, Ali Imron 26-27, Luqman 11, Al-Mulk 21, AlFatihah 1, Al’Araf 54, Al-Mu’minuun 68-69.

2. Tauhid Uluhiyah ialah beribadah seperti berdoa, bernadzar, mengharap, takut, tawakkal, memohon pertolongan dan berserah diri hanya kepada Allah Yang Maha Satu.
An-Nahl 36, Al-Anbiya 25, Al-A’raf 59, Al-A’raf 65, Al-A’raf 85, Al-Ankabut 16, Az-Zumar 11, Muhammad 19, An-Nisa 36, Al-Isro 23.

Iblis merupakan contoh hamba Allah yang memiliki tauhid rububiyah tidak memiliki tauhid uluhiyah, karena Iblis beriman akan adanya Allah tetapi tidak mau menyembah Allah. Sedangkan Fir’aun adalah contoh hamba Allah yang tidak memiliki kedua-duanya.

3. Tauhidul Asma’ was Shifat ialah beriman terhadap asma Allah dan sifat-sifatNya sebagaimana yang diajarkan Al-Quran dan Sunnah Rasul, yang benar-benar sesuai dengan kebesaran Allah tanpa menafsirkan, tanpa meniadakan, tanpa mempertanyakan caranya, dan tanpa membandingkan asma-asma dan sifat-sifat Allah. (Asy-Syuro 11, Al-Kahfi 15)

Misalnya, Allah Maha Mendengar. Kita beriman bahwa Allah Maha Mendengar suara apapun, di manapun dan bagaimanapun, baik suara yang mampu didengar makhluk maupun tidak, baik yang terucap maupun yang berada dalam hati. Akan tetapi mendengar bukan berarti memiliki telinga, atau memakai alat bantu pendengaran.

Dalam tauhid ini, kita tidak dibenarkan membayangkan atau menyamakan cara mendengar Allah dengan mendengar makhluk-Nya. Cukup kita beriman bahwa Allah Maha Mendengar segala sesuatu. Dalam beberapa ayat, Allah menyebutkan bahwa “tangan” Allah itu lebih kuasa di banding tangan-tangan manusia. Dalam tauhid ini, kita tidak boleh menafsirkan tangan Allah sebagai suatu anggota tubuh sebagaimana manusia, sekalipun ada sebagian orang berani menafsirkan “tangan” Allah itu berarti “kekuasaan” Allah, akan tetapi sikap lebih hati-hati dan lebih selamat ialah meyakini saja akan hal itu dan menyerahkan pengartian makna yang sebenarnya kepada Allah.

Satu hal yang menjadi prinsip dalam Tauhidul Asma’ was- Shifat ayat Quran surat Asy-Syuro ayat 11 : “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya”.

Allah berfirman: "Berfikirlah tentang penciptaan, dan jangan berfikir tentang Pencipta".

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © ISB Corner -Imam Saiful Bahri- Powered by Blogger - Modified by ISB Corner -