Sabtu, 26 Juni 2010

Syetan dalam agama Islam diterminologikan sebagai sosok yang mendedikasikan dirinya sebagai penyebar keburukan, kesesatan, kejahatan dan sebagainya dengan paketnya yang lengkap. Dalam istilah lugasnya mungkin bisa disebut sebagai biangnya penjahat dan kejahatan.

Ada satu level di bawah syetan yaitu sosok yang buruk atau jahat tetapi hanya untuk dirinya, tidak promosi agar orang lain menjadi jahat seperti dirinya. Sedangkan syetan telah mencapai level di mana dia merasa ‘tidak cukup’ kalau hanya jahat atau buruk sendirian, dia harus mencari kawan, kaderasasi, memperbesar massa pendukung dengan promosi besar-besaran. Tujuannya jelas, syetan ingin menciptakan komunitas dominan di dunia (bumi) ini, di mana benang merahnya adalah memalingkan orang dari Islam (penyerahan diri dan pengabdian makhluk terhadap Allah). Dalam hal ajaran sebenarnya syetan tidaklah memiliki paket ajaran tertentu, pokok ‘ajaran’nya adalah ‘pokoknya’ orang berpaling, tidak menggubris, tidak mengenal Allah dan ajarannya. Singkatnya, ajaran syetan adalah agar manusia tidak tahu dan tidak mau tahu dengan ajaran Allah (QS. Al-A’raaf 16). Bagaimana cara dan trik-trik syetan? Insya Allah, akan dibahas dalam posting berikutnya.

Yang bisa memperoleh predikat syetan ternyata tidak hanya jin tetapi manusia juga (QS. An-Naas 6). Artinya siapapun orangnya (dari golongan jin atau manusia) asal memenuhi criteria di atas dia bisa ‘segera’ memperoleh predikat syetan.
Dalam Al-Quran sosok yang pertama kali memperoleh gelar ini adalah seorang jin yang bernama Iblis (QS. Al-Kahfi 51) . Iblis sebelum diciptakan dikenal sebagai seorang jin yang taat dan menyembah Allah dengan penuh pengabdian. Saking taatnya, para malaikat pun iri padanya (Maaf, iri dalam hal kebaikan sangat dianjurkan dalam Islam).

Anda membanggakan senioritas? Hati-hati!

Namun suatu ketika, Iblis berubah menjadi pembangkang terhadap Allah. Yaitu bermula ketika Adam (sebagai manusia pertama) diciptakan dan disempurnakan oleh Allah dengan ilmu pengetahuan dan diberi amanat prestisius menjadi kholifah di atas bumi. Iblis sangat tidak terima dengan perlakuan Allah ini. Pengabdiannya selama ini serta posisinya sebagai senior serasa tidak dihargai, lebih-lebih penghargaan terhadap Adam yang harus direfleksikan dalam bentuk sujud berjamaah kepada Adam. Seluruh malaikat dan jin termasuk Iblis diharuskan bersujud sebagai tanda hormat pada Adam.


Anda membanggakan asal-usul? Hati-hati!

Sontak pembangkangan Iblis inipun diekspresikan teramat nyata, dengan penuh keengganan dan keangkuhan dia menolak perintah Allah itu. Banyak alasan dikemukakan untuk mendukung keengganannya sujud pada Adam, di antaranya adalah asal usul penciptaannya dari api sedangkan Adam hanya dari tanah (QS. Ali Imron 191) . Dalam alasan ini ada asumsi sepihak Iblis bahwa api lebih mulia dari tanah. Iblis benar-benar tidak mau disadarkan. Ya itulah, komitmen Iblis untuk membangkang membuat murka Allah. Maka seluruh pengabdiannya selama ini, habis oleh pembangkangannya sendiri, dia dihukum berat dan berganti predikat dari orang taat menjadi orang kafir , yang berarti neraka lah yang menjadi kepastian tempat terakhirnya. (QS. Albaqoroh 34).

Sekilas Kisah Iblis 'menjadi' Syetan
Status Iblis berubah drastis, dari hamba yang dikagumi ketaatannya berubah menjadi orang kafir yang dipastikan neraka sebagai tempat akhirnya. Bahkan Iblis kemudian sering dipanggil Si Syetan. Iblis tidak bisa melihat, bahwa terbunuhnya karakter dia sebagai public figure di dunia jin dan malaikat tidak lain karena ulahnya sendiri. Rupanya Iblis lebih teringat akan kehancuran statusnya itu pada moment-moment setelah Adam diciptakan. Dia merasa bahwa kehadiran Adam lah yang menjadi ‘biang kerok’ dari kehancurannya ini. Dendam kesumat tidak terbendung lagi, dengan penuh komitmen dan seolah sadar dengan segala konsekuensinya, Iblis mendaulat Adam beserta anak cucunya sebagai musuh yang harus ‘dihancurkan’. Kehancuran Adam dan anak cucunya dalam kacamata Iblis bukanlah kemiskinan, kesakitan, kematian, musibah, atau penderitaan dunia lainnya, akan tetapi adalah kehancuran yang sama persis dengan yang dialaminya yaitu kepastian neraka sebagai tempat terakhir.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © ISB Corner -Imam Saiful Bahri- Powered by Blogger - Modified by ISB Corner -