Selasa, 22 Juni 2010


Tahun 2002-an, seperti biasanya, seperti umumnya orang-orang biasa yang bepergian. Saya menunggu di peron stasiun Kereta Api Madiun, tentunya setelah membeli tiket Kereta Api Gaya Baru Malam Selatan turun di Pasar Senen. Ya! itu kelas ekonomi, penghematan, dan kalau tidak mendesak... pas saja buat langganan saya dari dan ke Jakarta. Duduk agak setengah terbengong.... karena memang sudah biasa.. persis kata Iwan Fals... kereta api terlambat.. itu sudah biasa.

Kalau biasanya aku bengong sendirian sampai kereta datang, waktu itu tidak seperti biasa... ada seorang anak muda berkostum mahasiswa, berjaket gitu, duduk di sampingku. Sepertinya... tadi aku lihat dia tiduran 'klesot'... (tidak beralas) di depan loket. Dia memulai pembicaraan dari basa-basi perkenalan hingga tema-tema 'agak' serius. Ya data awal yang aku peroleh, teman muda tadi benar-benar sedang bokek, duit terakhirnya baru saja dibelikan tiket, gak tersisa sepeserpun di dompetnya. Ceritanya habis perjalanan pulang dari kampusnya di Malang menuju Tanah Abang Jakarta, dan mampir dulu mengantar pulang pacarnya di Madiun. Satu lagi... dia juga lagi broken heart, karena orang tua pacar tidak setuju hubungan keduanya.

Lalu berlanjutlah percakapan di antara kami agak lama, sampai hitungan jam begitu...
Dia mengangkat beberapa tema tentang agama. Gak tahu yach... padahal aku sendiri tidak banyak cerita selain sebagai orang Ponorogo yang tengah kerja di Jakarta di Penerbit.. ya emang sih Penerbit buku-buku Islam. Atau mungkin berkaitan dengan kampus di mana dia kuliah... sebuah perguruan tinggi Islam ternama di Malang.

Semula ia mempertanyakan tentang 'keganjilan' dan 'ketidakflesibelan' Islam. Di antaranya seperti ini.

Tema Pertama:
Mengapa ya Tuhannya orang Islam itu manja banget, sampai-sampai minta disembah sehari sebanyak lima kali. Pertama, menurut dia, terlalu ribet dan banyak menyita waktu. Kedua, membebani. Dan ketiga, menjadi orang Islam itu seperti menjadi orang yang hidupnya selalu tertekan oleh kewajiban dan kewajiban. Dia membandingkan Islam dengan agama lain (tidak saya sebut) yang cukup simpel dalam bersembahyang, efektif dan lebih mementingkan esensi spiritual, (katanya..... ) serta tidak melibatkan kegiatan fisik yang tidak perlu seperti sholat.

Tema Kedua:
Dia memuji fleksibilitas agama tersebut, karena secara 'resmi' membolehkan pemeluknya melakukan hubungan suami-istri sekalipun belum menikah, asalkan benar-benar didasarkan atas 'rasa suka sama suka' dan tidak ada paksaan. Dia mengkritik Islam, yang terlalu mementingkan aspek legal formal dengan harus melalui lembaga pernikahan terlebih dahulu. Padahal menurut dia, bukankah yang penting itu ada rasa cinta dan suka sama suka bukan hanya selembar kertas 'peresmian' atau seuntai kata-kata perjanjian.


Mendengar kritik itu, sebagai Muslim, seperti halnya dia juga mengaku muslim, saya menghela nafas yang terasa agak sesak. Cukup sulit awalnya bagi saya bagaimana mulai menjawabnya. Soalnya saya tidak mengaku sebagai orang pesantren. Nanti dia heran, orang awam kok berani-beraninya menjawab tentang Islam. Bismillah.... saya mulai menata kata-kata saya.....

"Maaf ya Mas, saya bukan orang yang ahli dan tahu banyak tentang agama. Pengetahuan saya sedikit. Benar saya kerja di penerbit buku-buku Islam. Tetapi hanya sebatas editor bahasa, bukan editor kontent dari buku-buku itu. Tapi dari buku-buku yang saya baca, mungkin saya bisa memberi sedikit masukan tentang pertanyaan-pertanyaan Mas tadi." Begitulah saya mengawali pembicaran....

Jawaban untuk Tema Pertama:
"Setahu saya, banyak sekali ayat Al-Quran yang menyatakan bahwa sesungguhnya shalat-nya orang Islam itu bukan untuk kepentingan Allah, tetapi untuk kepentingan orang yang shalat itu sendiri. Allah tidak membutuhkan shalatnya orang Islam atau ibadah semua makhluk, bahkan Allah tidak membutuhkan apapun dari makhluk-Nya. Justru semua makhluk-Nya yang membutuhkan Dia."

"Shalat kepada Allah itu ibarat mandi di air sungai jernih yang mengalir di depan rumah kita. Kalau kita menginginkan dan merasa butuh untuk bersih, kita tinggal menuju sungai itu dan membersihkan diri. Begitu juga shalat... kalau kita butuh untuk membersihkan jiwa kita, kita dipersilahkan untuk shalat. Semakin benar kita menjalankan shalat, semakin bersih dan sehatlah jiwa kita."

"Memang shalat didudukkan sebagai kewajiban. Tetapi bagi orang yang sadar, shalat itu ia dudukkan sebagai keperluan. Bagi orang Islam yang masih memandang shalat sebagai kewajiban, ibarat anak kecil yang belum sadar akan pentingnya mandi bagi dirinya. Kalau ada anak belum paham dan enggan mandi, maka orang tua hendaknya mengingatkan. Mandi tetap penting bagi kesehatan anak (sekalipun terpaksa/diwajibkan), dan memang mandi anak yang terpaksa tidak sebagus mandinya anak yang sukarela. Begitulah Islam mewajibkan penganutnya yang belum sadar untuk "mandi" dengan shalat itu."


Jawaban untuk Tema Kedua :
"Dalam rangka menyempurnakan akhlak manusia, baik sebagai manusia atau sebagai muslim. Agama Islam mengajarkan banyak tuntunan yang sengaja membuat manusia itu "beda". "Beda" dari binatang, "beda" dari umat lain. "Beda" di sini tentunya dalam arti "lebih baik" dalam versi Agama Islam. Misalnya dalam hal nikah. Nikah merupakan ajaran Islam, dan akan tetap menjadi karakteristik dari bagian ajaran Islam. Islam tidak membolehkan hubungan intim antar lawan jenis kecuali dalam lembaga nikah ini. Maksudnya tidak lain adalah agar derajat hidup manusia itu "berbeda" daripada binatang. Kalau binatang melakukan hubungan itu cukup dengan suka sama suka, maka tidak dengan manusia. Pembolehan hubungan intim itu, dalam agama Islam, harus dibarengi dengan tanggung jawab yang besar, yaitu menafkahi dan terikat dalam lembaga pernikahan. Dalam hal ini, posisi wanita sangat amat dimuliakan. Wanita tidak bisa "dihalalkan" hanya dengan "main-main" atau asal suka, asal cinta dan "asal-asalan" yang lain."

"Banyak contoh lain bagaimana ajaran Islam menyempurnakan akhlak umatnya. Bahkan yang sepele sekalipun seperti makan dengan tangan kanan, dengan duduk, didahului basmalah.
Begitulah, Islam mendidik umatnya. Intinya banyak disebutkan juga dalam ayat Al-Quran, bahwa bila manusia itu berbuat baik dan beribadah, maka sesungguhnya dia mendapatkan manfaat dari kebaikan dan ibadahnya. Pun begitu juga sebaliknya kalau buruk."


Akhir pertemuan....
Pembicaraan kami terputus, ketika petugas Stasiun mengumumkan bahwa kereta api Brantas tujuan Tanah Abang akan segera tiba. Ya berbeda kereta denganku. Karena gak tega, sempat ku kasih sedikit duit Mas tadi, untuk sekedar mengganjal makan selama di perjalanan.
Semoga Allah memberi petunjuk kepada kita semua. Amin.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © ISB Corner -Imam Saiful Bahri- Powered by Blogger - Modified by ISB Corner -