Sabtu, 26 Juni 2010

Pertama: Berlindung kepada Allah
“Di tengah jalan dalam sebuah perjalanan panjangnya, seorang musafir terjebak di tengah sekumpulan anjing galak. Anjing-anjing itu menyalak-nyalak dengan memancarkan mata-mata buasnya. Seolah-seolah akan menerkam, mengoyak dan mencabik-cabik sang musafir itu.”

“Apa yang harus dilakukan musafir itu agar selamat dari gangguan anjing-anjing itu? Melawan anjing-anjing itu? Melemparinya? Atau lari sekencang-kencangnya?”

“Tidak! Ternyata musafir itu sangat cerdik. Ia memanggil pemilik anjing-anjing itu dan meminta tolong dengan hormat agar anjing-anjing itu disingkirkan darinya.”

Itulah sebuah kiasan yang disampaikan almarhum KH. Soiman Luqmanul Hakim –salah seorang pimpinan Pondok Gontor – saat berpesan di hadapan santri-santrinya. Musafir itu ibarat manusia, sedangkan sekumpulan anjing-anjing itu ibaratkan kawanan syetan yang mengganggu dan menggoda manusia. Agar selamat dari gangguan kawanan syetan, bukan melawan dan melemparinya. Karena jumlah syetan yang terhingga dan akan terus mengganggu manusia. Akan tetapi, cara tepat menghindari gangguan syetan ialah memohon pertolongan Yang Maha Menguasai syetan dan sekalian makhluk, yaitu Allah. Kepada-Nya lah kita memohon pertolongan Allah agar dihindarkan sejauh-jauhnya dari gangguan syetan. Disebutkan dalam Alquran: Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan maka berlindunglah kepada Allah (Al-A’raaf 200).

Kedua: Tidak Meninggalkan Kaum Muslimin
Rasulullah SAW mengibaratkan jama’ah kaum muslimin itu bagaikan sekumpulan domba-domba di tengah padang yang setiap saat dalam incaran kawanan serigala. Kawanan serigala itulah kiasan dari ancaman gangguan syetan. Sehingga domba yang terpisah dari kumpulannya yang akan diserang dan dijadikan sasaran terkaman.

Agar terhindar dari gangguan syetan, Rasulullah SAW memperingatkan kita supaya senantiasa menjaga jama’ah kaum muslimin, artinya kaum muslimin itu identik dengan kehidupan berjama’ah, menjaga pergaulan dan saling bahu-membahu dalam segala bidang. Sehingga dengan jama’ah inilah akan terpelihara keimanan dan hidup kaum muslimin dari gangguan syetan dan kesesatan. Sementara orang Islam yang ‘lebih banyak’ bergaul, bertukar fikiran, bekerja sama dengan orang-orang fasiq dan syetan-syetan dalam berbagai wujudnya, maka sangat rentanlah ia untuk menjadi teman syetan lalu sesat dan disesatkan.

Ketiga: Meluruskan dan Memelihara Niat
Mengutip pesan Sahabat Rasulullah, Pak Soiman berkata: Semua manusia itu akan celaka, kecuali orang-orang yang berilmu. Dan semua orang berilmu itu akan celaka, kecuali orang-orang yang mengamalkan ilmunya. Dan orang-orang yang mengamalkan ilmunya itu akan celaka, kecuali orang-orang yang ikhlash.

Orang ikhlash ialah orang yang menjadikan keridhoan Allah sebagai satu-satunya tujuan dalam beramal shalih. Dalam Surat Al-Hijr 40 disebutkan: “Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma'siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis (ikhlash) di antara mereka.”

Bagaimana keikhlashan dapat menghindarkan orang dari godaan syetan?
Ketika seseorang beramal saleh (taat dan rajin kerja) dengan motif agar meraih jabatan, maka ketika jabatan itu tidak diraihnya atau sudah diraihnya, maka ia akan cenderung berhenti dari amal salehnya. Ketika seseorang beramal saleh karena motif menggapai popularitas dan nama baik, maka ketika itu tidak tercapai atau telah tercapai, maka ia akan cenderung berhenti dari amal salehnya. Begitu seterusnya.

Seseorang mudah mengerjakan dan meninggalkan amal saleh hanya karena alasan-alasan sepele, seperti tidak dihargai amalnya, tidak dipandang, dikritik, dicaci dan dicacat, atau karena dipuji, dikasih bonus dan penghargaan. Maka sesungguhnya, saat-saat seperti itulah orang telah terjebak pada kesia-siaan amal, dan itu sebanding dengan kesesatan. Padahal seandainya motif satu-satunya dari amal salehnya itu adalah ridho Allah, segala jenis pujian atau cemoohan tidak akan menyurutkan langkah-langkahnya.

Begitulah syetan akan terus mendatangi manusia dari segala arah (Al-A'raaf 17), ia tidak segan-segan meng’obok-obok’ keyakinan orang beriman, cara berfikirnya, perilaku dan sikapnya, menanamkan motif dan niatnya, bahkan bagaimana cara bertingkah laku dalam keseharian.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © ISB Corner -Imam Saiful Bahri- Powered by Blogger - Modified by ISB Corner -