Senin, 31 Mei 2010


Aku teringat beberapa hadist Rasulullah SAW yang menganjurkan kepada kita untuk banyak memohonkan ampun dan mendoakan orang mukmin yang telah meninggal dunia.

Tidak menyebut-nyebut keburukannya dan tidak pula memuji-mujinya. Sebab menyebut-nyebut keburukan orang mati adalah sungguh perbuatan ghibah yang amat keji, karena kita menikam-nikamnya dari belakang sementara dia sudah tidak punya daya apapun.

Sedangkan memuji-muji orang mukmin yang mati bisa menyebabkan kemurkaan Allah SWT kepada orang mati itu, sebab bisa jadi orang yang dalam pandangan kita patut dipuji ternyata di hadapan Allah amat sangat tercela, dan memang ‘terpuji tidaknya’ orang itu hanya Allah yang tahu. Dengan alasan demikianlah, lebih baik bagi kita untuk mawas diri, memohonkan ampun dan terus mendoakan untuk mereka yang telah pergi.

Sahabat….
9 November 1977 kau dilahirkan ibumu dan 30 tahun kemudian di 7 Januari 2008 kau telah dipanggil Rabb-Mu. Sakit maag, itulah jalan sunnatullah yang harus kau alami. Sakit pencernaan yang kronis dan kemudian merembet ke levermu, dan akhirnya dengan itulah Dia memulangkanmu. Saiful Azhar…

Saiful Azhar..
Adalah nama seorang sahabatku yang kukenal ketika aku belajar di Pondok Gontor sekitar tahun 1994-an. Tahun 2000, ia ikut denganku mengabdi di Pesantren Darunnadwah Cikarang Bekasi. Mulai saat itulah kami benar-benar akrab. Tahu sendirilah bagaimana kalau orang sama-sama satu kampung di perantauan. Beberapa tahun kemudian, ganti aku yang ikut dia mengabdi di SDMT Ponorogo, tahun 2004. Kami tetap bersama hingga ajal menjemputnya di awal tahun 2008 itu.

Saiful Azhar…
Teman-teman yang ikut ‘babat’ SDMT Ponorogo tentu tahu betul bagaimana hubungan persahabatanku dengannya. Tidak berlebihan kalau Ustadzah Ummu menyebut kami berdua bagaikan ‘sandal sepasang’, karena memang demikianlah keadaannya waktu itu, kami selalu bersama dalam banyak kesempatan. Tidak berlebihan juga kalau ibu Saiful dan ibuku sendiri melihat kami seperti dua saudara kakak-beradik, karena memang hamper tidak ada jarak antara kami berdua, banyak suka-duka dijalani bersama, saling membantu dan saling meringankan satu sama lain.

Satu hal yang amat terasa bagiku akan kepergiannya …
Ialah curhatnya.
Dia biasa curhat, mencurahkan segala masalah dan bebannya, tentang percintaannya, tentang keuangannya, tentang karirnya, tentang keluarganya, tentang tetangganya, tentang kuliahnya, dan seterusnya…… dan merupakan kebahagiaan tersendiri bagiku bisa meringankan bebannya itu. Sekecil apapun, bahkan mungkin teramat lucu kalau aku ceritakan di sini. Tapi ketika berita ajal itu datang padaku… rasa tak percaya, yang kemudian berubah menjadi rasa kasihan yang teramat dalam, dan berkembang terus menjadi duka yang dalam sekali… rasa kasihan dan duka campur aduk menjadi satu.
Dia biasa bercerita segala permasalahannya yang kecil-kecil, sedang, hingga yang besar.. semuanya pasti dibagikan kepadaku. Tetapi ketika mengalami suatu hal ‘yang amat besar’ tak sedikitpun aku tahu, tidak bisa merabanya sama sekali, bahkan membayangkannya pun tidak mampu. Yang aku yakini, memasuki alam baru seperti yang dia alami itu merupakan suatu peristiwa yang maha dahsyat. Wallahu a’lam. Aku tidak sanggup dan tidak berani membayangkan kalau dia baik-baik saja dan diterima dengan keadaan terpuji. Aku terngiang hadist di atas, dan lebih memilih berharap rahmat dan kasihan dari Allah seraya memohonkan ampun untuknya, semoga Allah menerima amalnya, amin.

Kepada Anda yang mengenal almarhum Saiful Azhar dan membaca artikel ini, sesuai amanat almarhum saya memintakan maaf sedalam-dalamnya. Mohon, maafkanlah dia bila selama ini ada salah dengan Anda, doakanlah dia semoga Allah menerima segala amal ibadahnya. Amin.

{ 4 komentar... read them below or Comment }

- Copyright © ISB Corner -Imam Saiful Bahri- Powered by Blogger - Modified by ISB Corner -